Westiani Agustin Memberdayakan Perempuan Lewat Pembalut Kain

Westiani Agustin membuat membuat pembalut kain. - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
15 Januari 2022 07:07 WIB Lajeng Padmaratri Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kepedulian Westiani Agustin terhadap lingkungan menjadi alasannya mengawali program sosial bernama Biyung. Jenama itu tak hanya mengacu pada produk pembalut kain yang ia produksi, tetapi juga program edukasi mengenai period poverty.

Ani, sapaan akrabnya, sejak lama aktif di program pendidikan lingkungan. Dalam berbagai organisasi dan kegiatan yang berkaitan dengan isu lingkungan, dia turut serta membuat program edukasi mengenai upaya menjaga lingkungan.

BACA JUGA: Curhat Wanita Asal Bantul di Grup ICJ Dikomentari 31.000 Warganet, Ini Kata Rifka Annisa Jika Suami Tidak Bekerja

Bertahun-tahun akrab dengan isu itu, dia acap bersinggungan dengan fakta bahwa perempuan ikut menyumbang produksi sampah lewat pembalut sekali pakai. Dia ingin mengubah konsumsi terhadap pembalut sekali pakai menjadi pembalut kain yang dapat dipakai ulang. Sejak 10 tahun lalu, dia pun beralih ke pembalut kain setiap kali menstruasi.

Mulanya, dia menggunakan pembalut kain yang dijual. Namun, pada 2016, ketika putrinya mendapatkan tugas kewirausahaan dalam pembelajaran homeschooling, mereka menjajal membuat pembalut kain mereka sendiri.

Selang dua tahun kemudian, Ani memutuskan untuk lebih serius menggarap Biyung. Dia ingin para perempuan menggunakan pembalut kain sehingga produksi sampah bulanan perempuan bisa berkurang dari pembalut sekali pakai.

"Karena kalau bicara soal sampah, masih belum banyak yang bicara soal sampah pembalut sekali pakai," ujar Ani ketika ditemui Harian Jogja, belum lama ini.

Asumsinya, kata dia, setiap perempuan menggunakan tiga pembalut setiap harinya saat menstruasi. Ketika periode menstruasi berjalan 5-7 hari, rata-rata perempuan akan menghasilkan lebih dari 15 sampah pembalut sekali pakai per bulan. Proses pengolahan sampah yang belum maksimal di Indonesia hanya membuat sampah pembalut menumpuk di tempat pembuangan sampah.

"Kami juga aktif di media sosial, memang lebih mudah menjangkau teman-teman yang sudah melek isu lingkungan lewat media sosial," kata perempuan yang lahir dan besar di Papua ini.

Tak dinyana, suatu kali ia dihubungi oleh warga dari sebuah desa di Gunungkidul yang ingin membeli pembalut kain Biyung. Dia mengungkapkan di desa itu beberapa perempuan meninggal dunia karena kanker serviks.

"Salah satu penyebabnya adalah pemakaian pembalut sekali pakai, karena banyak perempuan yang berobat karena gatal-gatal dan iritasi kalau pakai pembalut itu. Dari situ, mereka bilang ingin memakai pembalut kain," ujar dia.

Sayangnya, harga pembalut kain per lembar Rp30.000 itu dianggap tidak terjangkau bagi masyarakat desa. Ani pun menyadari isu sampah pembalut ini harus bisa menyasar semua kalangan, tak hanya kalangan menengah ke atas yang selama ini ia sasar melalui media sosial. Biyung pun membuat unit program lokakarya produksi pembalut kain bagi masyarakat desa.

Bagi masyarakat desa, Ani ingin mereka tak hanya membeli produk pembalut lain dari Biyung, melainkan memproduksi sendiri. Jikalau tidak mampu memproduksi sendiri, maka dia akan mendorong kelompok perempuan di desa itu untuk memproduksinya yang kemudian dibagikan gratis ke warga desa yang lain.

"Kami membayangkan bahwa pembalut kain itu bisa diakses oleh semua perempuan, jadi kami galang dana untuk bikin workshop pembalut kain bagi kelompok perempuan di desa. Selain itu, perempuan disabilitas di Jogja juga kami rangkul untuk produksi," ujar dia.

Memberdayakan Perempuan

Dengan mengajarkan perempuan memproduksi pembalut kain, ia merasa nilai kebermanfaatannya lebih luas. Di samping itu, Ani juga memproduksi pembalut kain sendiri untuk dijual kepada pembeli yang berminat.

Kini, Ani melalui Biyung mendampingi perempuan di beberapa wilayah. Dia mengajak kelompok perempuan di salah satu desa di Jambi dan Papua untuk memproduksi pembalut kain untuk kalangan mereka sendiri. Sementara itu, kelompok perempuan disabilitas yang ia berdayakan berada di Jogja, Sukoharjo, Jakarta, serta Jambi.

Di berbagai wilayah ini, Ani menemui berbagai pengalaman perempuan mengenai periode menstruasinya. Meski awalnya ia fokus di pendidikan lingkungan, tetapi berkenaan dengan program pembalut kain ini, mau tak mau Ani justru bersinggungan dengan isu period poverty.

Period poverty atau kemiskinan menstruasi merupakan kondisi di mana perempuan mengalami kesulitan akses untuk mendapatkan produk kebutuhan menstruasi mereka. Tak hanya akses produk dan fasilitas, akses pengetahuan mengenai menstruasi di Indonesia pun masih sangat minim.

Rasa miris melingkupi Ani ketika ia menemukan fakta bahwa banyak perempuan kesulitan mengakses pembalut karena tidak mampu secara finansial.

"Kami kaget ketika bertemu perempuan di perkampungan kota yang mengeluh kesulitan membeli pembalut sekali pakai. Kayaknya cuma Rp10.000 per bungkus, tapi bagi mereka itu susah, mending buat makan, uang jajan anak, atau justru rokok suami," kata dia.

Untuk mengakali kondisi itu, perempuan-perempuan itu, kata Ani, menggunakan lipatan kain atau harus cukup menggunakan satu pembalut sekali pakai dalam sehari. Selain itu, hal yang lebih menyedihkan lagi, remaja perempuan di sana banyak yang membolos sekolah setiap menstruasi.

Di waktu yang berbeda, Ani menjumpai bahwa para perempuan harus puas memakai pembalut kedaluarsa karena hanya itu yang tersedia di sekitar mereka. Apalagi, ketika dia bertandang ke panti yang dihuni remaja perempuan, si pengelola mengungkapkan bahwa anak-anak di sana sering terpaksa menggunakan pembalut kedaluarsa dari bantuan yang didapatkan.

Dari berbagai pengalaman itu, Ani yang semula ingin mendekatkan isu lingkungan kepada masyarakat lewat pembalut kain, akhirnya memperluas spektrum edukasi. Ia melakukan riset soal period poverty dan membuka ruang tentang pendidikan kesehatan reproduksi. Sebab, ia menyadari bahwa edukasi mengenai menstruasi sangat minim dan dianggap tabu.

"Kami sedang persiapkan buku saku tentang menstruasi, supaya bisa jadi pegangan dasar kalau pengalaman pertama menstruasi itu harus bagaimana. Inti penting karena pembahasan soal menstruasi masih banyak seputar mitos dan stigma," ucap Ani.