Advertisement

Tak Cuma Mengajar, Guru-Guru Ini Rela Sisihkan Tunjangan Mengajar demi Bantu Duafa

Lajeng Padmaratri
Senin, 24 Januari 2022 - 09:37 WIB
Arief Junianto
Tak Cuma Mengajar, Guru-Guru Ini Rela Sisihkan Tunjangan Mengajar demi Bantu Duafa Para guru anggota Komunitas Guru Peduli Jogja menyiapkan kursi roda yang akan didonasikan. - Istimewa/KGP

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Kepedulian kepada sesama bisa berasal dari mana saja. Tak terkecuali dari kalangan profesi guru. Mereka menyisihkan sebagian tunjangan mengajarnya untuk membantu para duafa.

Kondisi sejumlah duafa yang juga merupakan penyandang disabilitas membuat sebagian guru di Jogja prihatin. Apalagi jika keadaan memaksa mereka harus menghabiskan waktu di tempat tidur lantaran ketiadaan alat bantu jalan.

Advertisement

Sekumpulan guru itu pun tergerak untuk membantu. Mereka lantas mengumpulkan dana yang kemudian diwujudkan dalam bentuk kursi roda kepada duafa penyandang disabilitas tersebut. Meskipun bantuannya tidak seberapa, namun para guru itu berharap kursi roda itu bisa menambah semangat produktivitas para penerima sasaran.

Kegiatan itu kemudian diberi nama Komunitas Guru Peduli. Sejak 2019, sekumpulan guru yang tergabung dalam komunitas itu aktif membuat kegiatan sosial di samping tugas utama mereka yaitu mengajar.

"Bantuan yang kami pilih berupa kursi roda karena kami melihat banyaknya saudara kita penyandang disabilitas dan lansia di Jogja yang terpaksa menghabiskan hidupnya di tempat tidur karena tidak mampu membeli kursi roda," ujar koordinator Komunitas Guru Peduli, Zaenuri kepada Harianjogja.com, belum lama ini.

Di sisi lain, saat ini kesejahteraan guru dianggap meningkat berkat adanya tunjangan sertifikasi guru. Adanya tambahan pendapatan itu para guru di komunitas tersebut anggap sebagai titik balik untuk berbagi kepada sesama.

"Sudah seyogyanya para guru bisa berbagi dengan sesama sebagai wujud rasa syukur dan kepedulian sosial," kata dia.

Kini, komunitas ini telah beranggotakan sekitar 150 guru dari seluruh DIY. Zaenuri menuturkan keanggotaan komunitasnya bersifat terbuka untuk semua guru dari semua jenang di DIY.

Sukarela

Advertisement

Setiap sekali dalam tiga bulan mereka akan melakukan penggalangan dana di kalangan guru. Berapapun uang yang disisihkan, dana tersebut dikumpulkan untuk diwujudkan menjadi kursi roda.

"Besarannya sukarela. Rata-rata bisa terkumpul Rp10 juta per tiga bulan sekali," ujar Zaenuri.

Di samping itu, komunitas juga beberapa kali mendapat bantuan dana dari Baitulmal Muamalat. Dari dana tersebut biasanya bisa dibelikan delapan unit kursi roda yang disalurkan ke penerima manfaat.

Mulanya, jaringan para guru menyisir penyandang disabilitas dari keluarga duafa. Data tersebut kemudian diusulkan ke pengurus Komunitas Guru Peduli untuk kemudian menjadi database kebutuhan di lapangan.

Zaenuri menuturkan kegiatan ini sepenuhnya melibatkan guru para anggota Komunitas Guru Peduli dari pendataan sampai penyaluran.

Dia mengakui, kegiatan ini bersifat sukarela, apalagi para guru memiliki kewajiban dalam ketugasan dinas. Namun, sebisa mungkin kegiatan sosial ini dijalankan tidak dengan mengganggu kewajiban mereka sehari-hari dalam melaksanakan tugas dinas, sebab mereka memanfaatkan jaringan guru untuk berbagi informasi mengenai pendataan hingga penyaluran donasi.

"Ada media sosial dan grup Whatsapp guru di setiap wilayah juga menjadikan kegiatan pendataan lebih cepat dan rapat," kata dia.

Kini, komunitas yang menempati sekretariat di SD Negeri Sejati Moyudan, Sleman ini telah mengirimkan 78 kursi roda kepada penyandang disabilitas di DIY. Dalam waktu tiga bulan dari sekarang Komunitas Guru Peduli juga masih menggalang dana untuk kemudian disalurkan pada April mendatang.

"Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi sarana silaturahmi guru di Jogja sekaligus kegiatan sosial, sebagai wujud rasa syukur dan tanggung jawab guru secara sosial di masyarakat," ucap dia.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement