Abidin Fikri Sebut Pemuda Terdampak Problem Bangsa, Bukan Biang Masalah
Abidin Fikri mengingatkan pemuda ikut terdampak problem bangsa dan menyoroti pentingnya keteladanan pemimpin dalam menyiapkan generasi menuju 2045.
Ilustrasi Pancasila/JIBI
Harianjogja.com, JOGJA- Sebagai upaya menangkal paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila tersebut, Gerakan Sigap Sosial Kemanusiaan (GASSAK) menggelar diskusi kebhinekaan sekaligus deklarasi pernyataan sikap "Menolak Segala Bentuk Radikalisme Intoleran dan Terorisme di DIY".
Ketua GASSAK, Zan Yuri Faton mengatakan gerakan radikalisme intoleran bahkan terorisme rentan muncul di tengah masyarakat, tak terkecuali di Gunungkidul. Sudah beberapa kali ada warga yang terindikasi terlibat dalam gerakan radikal intoleran. Indikasi itu, katanya, sudah jelas dan diketahui pemerintah dan kepolisian.
"Misalnya ada yang menentang budaya dan tradisi atau kearifan lokal dengan menyebutnya sebai sirik. Selalu memaksakan agama, kepercayaan atau keyakinannya yang dianggap paling benar dan mudah menuding orang lain sebagai kafir atau sesat,” ungkap Faton melalui rilis yang diterima Harian Jogja, Kamis (21/7/2022).
Untuk mengantisipasi berkembangnya paham radikal intoleran dan terorisme pihaknya menggelar diskusi bertema “Merawat dan Melestarikan Budaya serta Kearifan Lokal dalam Rangka Menangkal Radikalisme untuk Menjaga Kondusifitas Kabupaten Gunungkidul.”
Baca juga: Begini Cara DIY Cegah Tumbuhnya Ideologi Anti Pancasila
Diskusi diikuti 50 tokoh dari sembilan organisasi Masyarakat (Ormas) di Gunungkidul dan dihadiri sejumlah pejabat dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul, Polres Gunungkidul, Kodim 0730/Gunungkidul, dan Majelis Ulama Iindonesia (MUI) Gunungkidul.
Ia menjelaskan, Gunungkidul merupakan kabupaten di DIY yang masih kental dengan budaya dan kearifan lokalnya. Masyarakat Gunungkidul, lanjutnya, masih menjaga budaya gotong-royong, guyub rukun dan saling peduli dengan tetap memegang tradisi leluhur.
"Namun, paham radikali intoleran mencoba mengikis budaya serta kearifan lokal di Gunungkidul. Itu jelas membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, bertentangan dengan nilai sosial dan mencederai kemanusiaan secara universal," tandas Faton.
GASSAK, lanjutnya, akan terus bergerak mengedukasi dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal, serta kegiatan kemanusiaan. Kami akan mengajak masyarakat untuk melawan dan menolak segala bentuk radikalisme intoleran serta terorisme demi terjaganya suasana yang kondusif di Kabupaten Gunungkidul.
Ketua Aliansi Bela Garuda (ABG), Totok Ispurwanto selaku pemantik diskusi dalam pemaparannya mengatakan, istilah radikal atau radikalisme sebenarnya tidak harus dianggap stigma negatif. "Orang beragama itu juga bisa disebut radikal. Jadi bukan radikalismenya yang menjadi persoalan, tapi intoleransinya. Sebab intoleransi sangat membahayakan bangsa Indonesia yang berbhinneka tunggal ika," ujarnya.
Budaya Asing
Menurut Totok, radikalisme intoleran adalah budaya asing yang menyasar budaya dan kearifan lokal untuk dihancurkan. Jika sudah bisa menghilangkan budaya, kata dia, lama-lama akan merubah ideologi hingga mengganti sistem pemerintahan. "Jadi memang radikalisme intoleran itu harus dilawan dengan budaya. Budaya dilawan dengan budaya," imbuhnya.
Kepala Kesbangpol Kabupaten Gunungkidul, Johan Eko Sudarto mengatakan Pemkab Gunungkidul mengapresiasi GASSAK yang berkontribusi dalam menangkal radikalisme dengan nilai budaya dan kearifan lokal Gunungkidul, serta aktif dalam gerakan kemanusiaan.
Dalam kesempatan yang sama Kasat Binmas Polres Gunungkidul, AKP Mujiman berharap GASSAK bisa membantu tugas-tugas kepolisian tak hanya untuk membendung radikalisme intoleran dan terorisme, tapi juga dalam bidang keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) lainnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Gunungkidul, Saban Nuroni mengatakan, tema diskusi yang diangkat GASSAK selaras dengan program Kemenag yaitu moderasi beragama. Menurutnya agama tidak mengajarkan kekerasan, sehingga radikalisme intoleran yang mengarah kepada terorisme bertentangan dengan nilai-nilai agama, khususnya agama Islam.*
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abidin Fikri mengingatkan pemuda ikut terdampak problem bangsa dan menyoroti pentingnya keteladanan pemimpin dalam menyiapkan generasi menuju 2045.
Inter Milan dan AC Milan memperkenalkan Generali Stadium senilai Rp24 triliun. Stadion berkapasitas 71.500 penonton ditargetkan beroperasi pada 2031.
Fiorentina bermain imbang 2-2 melawan Atalanta pada pekan kesembilan Serie A. Hasil ini membuat La Viola masih tertahan di zona degradasi.
MotoGP Malaysia 2026 dimulai Jumat (30/10). Simak jadwal FP1 dan Practice serta peluang Marc Marquez menambah keunggulan atas Jorge Martin.
Veda Ega Pratama tampil impresif pada FP1 Moto3 Malaysia 2026 di Sepang. Pebalap Indonesia itu finis di posisi keempat.
Joan Mir dan Luca Marini dinyatakan fit untuk tampil di MotoGP Malaysia setelah pulih dari gangguan kesehatan yang membuat keduanya absen.