Jejak Leluhur Suku Kaili Hidup Lewat Instalasi di ARTJOG 2026

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Sabtu, 01 Agustus 2026 08:57 WIB
Jejak Leluhur Suku Kaili Hidup Lewat Instalasi di ARTJOG 2026

ARTJOG 2026 menampilkan instalasi Putud Utama dan Rara Kuastra yang mengangkat jejak leluhur Suku Kaili serta sejarah Sulawesi Tengah. /Harian Jogja-Stefani Yulindriani.

Harianjogja.com, JOGJA— Pameran ARTJOG 2026 menjadi ruang bagi seniman Tempa Putud Utama dan Rara Kuastra untuk menghadirkan karya instalasi yang menelusuri jejak keluarga sekaligus sejarah Suku Kaili di Sulawesi Tengah. Melalui karya tersebut, keduanya tidak hanya berupaya mengenali kembali akar leluhur, tetapi juga memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Suku Kaili yang masih jarang dikenal masyarakat luas.

Karya tersebut lahir dari perjalanan menelusuri memori keluarga Rara Kuastra yang berasal dari Suku Kaili. Menurut Putud, instalasi itu merupakan awal dari rangkaian eksplorasi yang akan terus dikembangkan pada karya-karya berikutnya.

"Kami mencoba reconnect lagi dengan keluarga dan leluhur Rara di Sulawesi Tengah, yaitu Suku Kaili. Ini menjadi karya pertama untuk menelusuri lagi jejak keluarga di tanah Kaili," ujarnya, Kamis (30/7/2026).

Mengangkat Sejarah Suku Kaili Lewat Seni

Putud menilai tema generasi yang diusung ARTJOG 2026 sejalan dengan gagasan yang mereka bawa. Melalui karya tersebut, mereka berusaha menelusuri kembali jejak generasi terdahulu sekaligus menghadirkan kisah keluarga Rara kepada publik.

Sementara itu, Rara menegaskan instalasi tersebut tidak semata-mata berbicara tentang sejarah keluarganya. Lebih dari itu, karya tersebut menjadi medium untuk mengenalkan sejarah panjang Suku Kaili kepada masyarakat.

Menurutnya, Suku Kaili merupakan salah satu suku tertua di Sulawesi Tengah yang memiliki perjalanan sejarah panjang, termasuk keberadaan sejumlah kerajaan di wilayah tersebut.

Dalam karya itu, Rara juga mengangkat kisah leluhurnya yang berasal dari Kerajaan Dolo, yang dikenal sebagai pejuang pada masa peperangan melawan Belanda dan Jepang.

"Selama ini masih sedikit seniman dari Sulawesi yang menceritakan sejarah itu. Sebagai generasi Suku Kaili, saya merasa kisah tersebut patut diceritakan kembali," katanya.

Awal Riset yang Akan Terus Berlanjut

Putud mengakui proses kreatif tersebut memiliki tantangan tersendiri karena mereka merupakan seniman, bukan peneliti. Oleh sebab itu, informasi yang berhasil dikumpulkan kemudian diterjemahkan melalui pendekatan artistik.

Menurutnya, masih banyak cerita yang dapat digali apabila penelitian dilakukan secara lebih mendalam.

"Kami yakin kalau digali dengan metode penelitian yang lebih mendalam, masih akan banyak informasi yang terungkap. Bagi kami, ini baru permulaan dan seri karya tentang leluhur ini akan terus berlanjut," ujarnya.

Memadukan Instalasi Kayu dan Kain Kulit Pohon

Secara visual, karya instalasi tersebut memadukan laci-laci kayu, kain tradisional Sulawesi Tengah, serta lukisan di atas kain kulit kayu yang berasal dari Lembah Bada.

Media lukis yang digunakan berbeda dari kanvas pada umumnya. Kain tersebut dibuat dari kulit pohon malo yang diproses tanpa harus menebang pohonnya.

Rara menjelaskan, ranting pohon dipilih, kemudian dikuliti dan dipukul hingga berubah menjadi lembaran kain berwarna krem. Seluruh proses produksi dilakukan oleh perempuan-perempuan lokal di Sulawesi Tengah sehingga turut menghadirkan nilai keberlanjutan sekaligus memberdayakan masyarakat setempat.

"Kami merasa proses pembuatannya sangat menarik karena tidak berasal dari pohon yang ditebang, sehingga ada nilai sustainability di dalamnya," katanya.

Lima Bulan Merancang Karya

Proses penciptaan instalasi berlangsung selama sekitar lima bulan. Sekitar tiga bulan digunakan untuk menyusun konsep, sedangkan dua bulan berikutnya difokuskan pada proses produksi karya.

Putud menambahkan, instalasi tersebut tidak dimaksudkan untuk memberikan tafsir tunggal kepada pengunjung. Sebaliknya, karya itu menjadi ruang berbagi pengalaman selama mereka menelusuri sejarah Sulawesi Tengah, sementara setiap pengunjung dipersilakan memaknainya berdasarkan perspektif masing-masing.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online