Geopark Gunungsewu Bersiap, Asesor UNESCO Kunjungi Gunungkidul
Asesor UNESCO mengunjungi Luweng Jomblang dan Hutan Wanagama untuk pra-revalidasi Geopark Gunungsewu menjelang penilaian ulang 2027.
Monkeypox atau cacar monyet./Foto-CDC
Harianjogja.com, Gunungkidul—Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikah hingga saat ini belum ada kasus maupun suspek penyakit cacar monyet. Warga diminta berhati-hati serta melakukan pencegahan dengan terus menerapkan pola bersih dan sehat.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty, mengatakan pandemi corona belum usai, namun ada penyebaran penyakit lain, yakni cacar monyet. Meski demikian, ia mengaku hingga sekarang wilayah Gunungkidul masih aman dari penyebaran karena belum ditemukan kasus tersebut.
“Masih aman karena kasus maupun suspek cacar monyet belum ditemukan,” kata Dewi, Minggu (7/8/2022).
Menurut Dewi, kasus penyebaran sudah mulai terindikasi di Indonesia dengan ditemukannya sejumlah suspek penyakit ini. Ia memastikan ada upaya pencegahan dengan terus melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang ancaman serta cara menanggulanginya. “Memang belum ada, tapi harus tetap diantisipasi,” katanya.
BACA JUGA: Tiga Pantai Gunungkidul di Tawarkan ke Investor, DPRD: Jangan Asal Bangun!
Ia mengungkapkan, penanggulangan cacar monyet tidak berbeda jauh dengan penyakit lain seperti corona dan lainnya. Cara termudah mengantisipasi dengan jalan menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan makan-makanan bergizi serta rajin berolahraga.
Pola hidup seperti ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan daya tubuh sehingga tidak mudah terserang berbagai penyakit. “Saat tubuh vit, maka tidak mudah terserang penyakit. Jadi, kita harus menjaganya dengan terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” katanya.
Selain itu, Dewi meminta kepada masyarakat, khususnya pemilik hewan peliharaan untuk sering-sering mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer setelah melakukan kontak. “Ini penting karena bagian dari antisipasi penyebaran penyakit,” katanya.
Gejala cacar monyet bisa diketahui melalui ciri fisik dari tubuh manusia. Sebagai contoh, bergejala demam di atas 38.5 derajat celcius; sakit punggung, nyeri otot, ada ruam mirip cacar air dan lain sebagainya. “Kalau ada gejala sakit segera memeriksakan diri ke layanan kesehatan terdekat,” katanya.
BACA JUGA: Semua Warga Gunungkidul Bakal Masuk ke Data Kesejahteraan Sosial
Anggota Komisi D DPRD Gunungkidul, Ery Agustin S, berharap kepada pemkab untuk mewaspadai potensi penyebaran cacar monyet di masyarakat. Ia meminta agar ada upaya antisipasi, meski laporan kasus belum ditemukan hingga sekarang. “Tetap harus diwaspadai dan jangan sampai kecolongan,” katanya.
Menurut Ery, antisipasi dapat dilakukan dengan menyosialisasikan cara-cara penanggulangan secara masif sehingga dapat tersampaikan dengan baik ke masyarakat. “Yang tak kalah penting penyediaan layanan kesehatan untuk berjaga-jaga saat ada yang butuh perawatan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Asesor UNESCO mengunjungi Luweng Jomblang dan Hutan Wanagama untuk pra-revalidasi Geopark Gunungsewu menjelang penilaian ulang 2027.
Jadwal DAMRI YIA-Jogja Minggu 1 Oktober 2026 melayani lima tujuan dengan tarif Rp80.000. Simak jam keberangkatan bus dari bandara.
Jadwal KA Bandara YIA Minggu 1 November 2026, tersedia untuk layanan reguler dan Xpress. Simak jam keberangkatan dan kedatangan.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Minggu 1 November 2026 tersedia 10 perjalanan. Simak jam keberangkatan dari kedua stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 1 November 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 1 November 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jadwal lengkap setiap stasiun.