Advertisement

Pandemi Covid-19 Hambat Upaya Skrining TBC

Lugas Subarkah
Senin, 05 September 2022 - 14:37 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Pandemi Covid-19 Hambat Upaya Skrining TBC Warga mengikuti skrining TBC yang digelar di Kantor Kapanewon Ngemplak, Senin (5//9/2022). - Harian Jogja/Lugas Subarkah

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir membuat kegiatan penemuan aktif atau skrining kasus TBC terkendala. Jumlah temuan selama 2021 dianggap belum memenuhi target nasional.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, menjelaskan selama 2021 temuan kasus TBC hanya sebanyak 983 kasus, jauh lebih rendah dari target nasional yakni 2.546 kasus. “Tahun 2020-2021 temuan kasus menurun karena pengaruh pandemi Covid-19 yang menyebabkan kegiatan aktif untuk menemukan kasus TBC terkendala,” ujarnya, Senin (5/9/2022).

Sementara itu, kasus TBC kebal obat yang ditemukan pada tahun 2021 sebanyak 22 kasus, mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Risiko dari TBC kebal obat yakni penyembuhannya akan lama dan cukup banyak yang harus dikonsumsi.

“Kalau kebal obat karena tidak teratur dalam berobat, yang kami takutkan kalau dia menulari keluarga atau masyarakat lain akan kebal obat juga. Itu butuh biaya mahal. Maka sebelum menjadi kebal obat harus ditemukan, diobati, insyaallah sembuh dan tidak kebal obat,” katanya.

Baca juga: Siapa Jadi Panglima TNI Pengganti Andika Perkasa? Ini 3 Calon Paling Masuk Akal

Untuk menekan penyakit TBC, Pemkab Sleman bekerja sama dengan proyek ZeroTB Yogyakarta. Menggunakan Mobil Health, petugas akan berkeliling di setiap kapanewon untuk skrining pasien TBC, khususnya dari keluarga dan kontak terdekat kasus TBC.

Mobil akan berada di puskesmas-puskesmas, sedangkan kontak pasien TBC akan dicari oleh kader kesehatan di setiap wilayah. Dengan program ini, ditargetkan 50% TBC dapat berkurang dalam waktu lima tahun. “Sehingga pada 2030 kita bisa eliminasi TBC di Sleman,” ungkapnya.

Direktur ZoroTB Yogyakarta, Rina Triasih, menuturkan program ini telah dimulai pada 2020 di Kulonprogo, Kota Jogja dan kini berlanjut di Sleman. Program ini bertujuan untuk menurunkan kasus TBC di DIY dengan melibatkan multi sektor.

“Skrining diprioritaskan pada populasi dengan risiko tinggi seperti pemukiman padat, daerah dengan sanitasi buruk, serta masyarakat dengan komorbid. Skrining dikemas dalam satu rangkaian skrining kesehatan lain seperti posbindu penyakit tidak menular, skrining gangguan mental emosional, konseling dan tes HIV,” katanya.

Di samping itu, ia juga mendorong masyarakat untuk aktif melakukan upaya pencegahan TBC. “Jadi orang yang kontak serumah dengan pasien TBC harus diperiksa apakah sakit TBC atau tidak, kalau dia sakit mereka harus minum obat pencegahan,” ungkapnya.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Tragedi Stadion Kanjuruhan, Airlangga Sampaikan Duka Mendalam

News
| Minggu, 02 Oktober 2022, 14:17 WIB

Advertisement

alt

3 Rekomendasi Glamcamp Seru di Jogja

Wisata
| Sabtu, 01 Oktober 2022, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement