Kecelakaan di Berbah, Pemotor Tewas Terpental ke Jalur Berlawanan
Kecelakaan di Berbah, Sleman, menewaskan seorang pemotor setelah diduga kehilangan konsentrasi dan terpental ke jalur berlawanan.
Suasana temu media FKY 2022/Istimewa
Harianjogja.com, KULONPROGO — Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) akan digelar di Kulonprogo selama empat hari, mulai 16-19 September 2022. Kegiatan yang digelar di Taman Budaya Kulonprogo (TBK) tersebut bakal dibuka dengan acara penyatuan air dari 12 kapanewon.
"Di situ kami akan meminta air itu representatif dari masing-masing wilayah mangga. Artinya mereka yang tahu sehingga nilai tempat yang mereka ambil air itu mereka yang lebih jeli," kata Kepala Bidang Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kulonprogo, Wruhantoro, Rabu (14/9/2022).
Saat acara pembukaan tersebut, air-air dari sumber mata air di wilayah tadi akan dikumpulkan dalam sebuah tempayan. Para pembawa air akan mengenakan pakaian adat gagrak Ngayogyakarta. Momen ini menjadi bentuk satu kesatuan dan pengelolaan air serta tanah di Kulonprogo.
"Dalam pembukaan itu, nantinya dari masing-masing kapanewon akan membawa air dari wilayahnya masing-masing kemudian ada prosesi di situ ada seperti tempayan yang melambangkan tanah digabung dengan air, ada prosesi menuangkan satu per satu di atas panggung," ucap Wruhantoro.
"Banyak filosofinya, persatuan jelas. Terus kemudian pemeliharaan air dan tanah itu yang utama. Ini juga jadi semangat kami dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan. Itu tiga hal utama filosofinya," ujarnya.
BACA JUGA: Kulonprogo Butuh 36 Panitia Pengawas Pemilihan Umum Kecamatan, Tertarik?
Kepala Kundha Kabudayan Kulonprogo, Niken Probo Laras menjelaskan selama dibuka sejak 16 September, warga Kulonprogo dapat menikmati berbagai agenda kebudayaan yang dibutuhkan di TBK.
Pameran seni rupa FKY akan digelar di TBK selama kurang lebih empat hari yang menyajikan forum seni rupa, stan Dekranasda Kulonprogo, kerajinan tangan serta alam Kulonprogo, stan gelar potensi rintisan kalurahan budaya hingga Tosan Aji Runcing Wangi Kemiri.
Selain pameran yang akan dibuka selama empat hari, warga Kulonprogo dapat menikmati suguhan pertunjukan kesenian dan kebudayaan setiap harinya.
Ada Tiga pentas seni digelar setiap harinya. Di hari pertama pembukaan 16 September 2022, warga dapat menikmati proses Menyatukan Rasa dari sumber mata air se-Kapanewon Kulonprogo, pentas seni permainan anak dari Sentolo, Fragmen Tari Musik Etnik Semesta dari Pengasih dan Wayang Suket Dalah Mongso dari Wates.
Pada Sabtu (17/9/2022), FKY di Kulonprogo akan menampilkan gelaran fragmen Tari Neo Srengat dari Temon, Tari Garapan Sesirih dari Kalibawang dan Ketoprak Garapan Perdikan Kalang dari Lendah.
Di hari berikutnya, Minggu (18/9/2022), akan digelar pertunjukan Teater Modern Garapan Sajak Rungsang dari Samigaluh, Tari Garapan Nirmala dari Galur dan Fragmen Tari Abisatya dari Panjatan.
Sementara di hari penutupan, Senin (19/9/2022) warga akan disuguhi pertunjukan Fragmen Tari Musik Jalanan Swawi dari Kokap, Tari Garapan Banyu Mili dari Nanggulan dan Teater Tradisi Warih dari Girimulyo.
"Selain warga bisa datang secara offline langsing ke TBK, warga juga bisa menyajikan sajian ini secara daring live streaming," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kecelakaan di Berbah, Sleman, menewaskan seorang pemotor setelah diduga kehilangan konsentrasi dan terpental ke jalur berlawanan.
KAI mencatat 10 stasiun KA jarak jauh tersibuk pada semester I 2026. Stasiun Yogyakarta menempati peringkat ketiga dengan 3,2 juta pelanggan.
Sebanyak 38 budaya asal Jawa Tengah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia 2026 tahap I, termasuk Ciu Bekonang dari Sukoharjo.
Komdigi memperingatkan 22 PSE yang belum mendaftar. Jika hingga 13 Juli 2026 belum patuh, layanan digital berisiko diblokir.
Pemkot Jogja masih mematangkan penataan Malioboro, termasuk becak listrik, akses kendaraan, dan perbaikan fasilitas water station.
Bupati Banyumas mengajak generasi muda melestarikan tradisi petungan Jawa melalui workshop yang membahas filosofi, weton, dan kearifan lokal.