Advertisement

Poros Kuntul Gunung DIY Harus Punya Program Konkret Pengembangan Wilayah Selatan

Yosef Leon
Rabu, 14 Desember 2022 - 18:07 WIB
Bhekti Suryani
Poros Kuntul Gunung DIY Harus Punya Program Konkret Pengembangan Wilayah Selatan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di Legundi-Playen, Gunungkidul. - Ist

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA– Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menilai program yang digagas oleh tiga kabupaten lewat poros kuntul gunung (Kulonprogo, Bantul dan Gunungkidul) untuk pengembangan di kawasan selatan DIY memang harus disinergikan dengan kolaborasi antar wilayah. Rencana pengembangan kawasan selatan tidak akan optimal jika dilakukan hanya berbasis administrasi wilayah. 

"Saya kira itu program yang memang harus digagas dalam pengembangan kawasan selatan. Karena sisi selatan ini kan tidak dibatasi dengan administrasi wilayah dan kemudian agar program yang dijalankan juga tidak tumpang tindih," kata Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) DIY Beny Suharsono, Rabu (14/12/2022). 

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Menurut Beny program pengembangan kawasan selatan DIY memang semestinya tidak hanya melibatkan tiga kabupaten itu saja. Seluruh kabupaten kota yang ada di wilayah DIY harus terlibat untuk menyelaraskan rencana pembangunan daerahnya yang akan berdampak pula pada peningkatan kewilayahan di sisi selatan. 

"Kalau tidak ada sinergi yang matang tentu jatuhnya seperti persaingan, makanya antara wilayah hulu dan hilir garis pengembangannya harus satu," ujarnya. 

Sektor pariwisata yang dipilih sebagai daya ungkit penggerak disebutnya cukup potensial dalam mengembangkan wilayah selatan. Dengan sejumlah produk turunan berupa ekonomi kreatif serta UMKM, upaya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat pun dinilai masih terbuka lebar. 

"Misalnya basis pariwisata kan salah satu muaranya ada pada Bandara yang di Kulonprogo, ini tentunya bisa ditopang dengan turunan produk lain dari ekonomi kreatif dan UMKM dari wilayah Bantul atau Gunungkidul," jelasnya. 

Beny menyebut, tentunya harus ada cetak biru program yang konkret berkaitan dengan rencana pengembangan itu. Misalnya berkaitan dengan inisiatif peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah daerah di wilayah selatan mesti membuat garis pemisah yang jelas agar kewenangan yang mesti diintervensi oleh provinsi dan masing-masing kabupaten dapat terlihat secara detail. 

"Makanya sudah tepat Bantul sebagai poros tengah yang nantinya akan dilewati dari sisi barat dan timur. Tapi kalau salah membaca tentu hanya jadi sebatas wilayah yang dilewati Bantul itu, sehingga mana yang perlu dijalankan oleh provinsi dan kabupaten juga harus konkre," ungkap Beny. 

BACA JUGA: Segera Beli! Tiket Kereta Nataru Baru Laku 10,1%

Di sisi lain dengan rencana operasional jembatan Srandakan III yang bakal jadi penghubung baru antara Bantul dan Kulonprogo peluang dalam pengembangan aspek pariwisata dinilai Beny semakin terbuka lebar. Apalagi potensi alam di kawasan selatan belum sepenuhnya dimaksimalkan oleh pemerintah dan juga warga setempat dalam mendongkrak perekonomian. 

"Selain sektor pariwisata yang dipilih untuk dijadikan basis pengembangan kawasan selatan DIY juga menyimpan potensi alam yang cukup besar, masih ada 12 mil laut yang belum dimaksimalkan lagi," pungkas Beny. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

AP I Mengaku Belum Terima Info soal Pengurangan Jumlah Bandara Internasional

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 10:47 WIB

Advertisement

alt

Ikuti Post-tour ATF, Banyak Peserta Terkesan dengan Objek Wisata DIY

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 10:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement