Advertisement

Baru Awal Tahun, DBD Sudah Makan Korban Jiwa di Gunungkidul, Anak 10 Tahun Meninggal

David Kurniawan
Kamis, 12 Januari 2023 - 15:37 WIB
Budi Cahyana
Baru Awal Tahun, DBD Sudah Makan Korban Jiwa di Gunungkidul, Anak 10 Tahun Meninggal Ilustrasi - Pixabay

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan Gunungkidul mencatat kematian pertama akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD) di awal 2023. Korban meninggal merupakan anak berusia 10 tahun asal Kapanewon Semanu.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan anak tersebut meninggal dunia karena terjangkit DBD pada 9 Januari 2023. Dia menderita dengue shock syndrome atau komplikasi infeksi DBD sehingga mengalami syok.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

“Dirawat di rumah sakit di Kota Jogja. Setelah kami telusuri,  korban meninggal karena DBD,” kata Dewi kepada wartawan, Kamis (12/1/2023).

Dinas Kesehatan Gunungkidul bersama-sama dengan Puskesmas Semanu, pemerintah kalurahan dan dibantu tokoh masyarakat setempat langsung melakukan penyelidikan epidemiologi (PE). Hasilnya, ditemukan satu kasus warga yang terjangkit DBD di sekitar rumah korban meninggal.

BACA JUGA: Membahayakan Warga, 385 Sarang Tawon Dimusnahkan

“Keduanya bertetangga. Dua kasus ini merupakan temuan penderita DBD di awal 2023 yang semuanya terjadi di Kapanewon Semanu,” katanya.

Pengasapan atau foging kemudian dilakukan.

Foging tidak bisa dilakukan sembarangan, tapi berhubung sudah ada yang meninggal maka dilaksanakan agar kasus tidak semakin bertambah,” katanya.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Zoonosis Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Yuyun Ika Pratiwi, mengatakan ada potensi kenaikan kasus DBD tahun ini karena musim hujan kemungkinan lebih lama. “Ada potensi kenaikan kasus, jadi harus diwaspadai,” kata Yuyun.

Sepanjang 2022 ada 449 kasus warga yang terjangkit DBD. Tercatat ada tiga warga yang meninggal dunia karena penyakit ini.

Yuyun mengakui jumlah kasus di 2022 lebih tinggi karena di tahun sebelumnya tercatat hanya 189 kasus. “Naiknya hampir tiga kali lipat, karena jumlah kasus di tahun ini lebih banyak ketimbang di 2021,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Jasad Pasutri asal Karanganyar Ditemukan Mengapung di Sungai Bengawan

News
| Senin, 30 Januari 2023, 00:27 WIB

Advertisement

alt

Tanggal Tua tapi Pengin Piknik? Bisa kok

Wisata
| Minggu, 29 Januari 2023, 07:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement