Jogja Siap Pecahkan Rekor MURI 1.000 Difabel Tuli
Jogja akan jadi lokasi pemecahan rekor MURI 1.000 difabel tuli sekaligus seminar kebangsaan disabilitas oleh KND.
Kepala Departemen Ilmu Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Yayi Suryo Prabandari, saat ditemui media, Senin (13/2/2023)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN—Dalam beberapa waktu terakhir muncul sejumlah kasus kekerasan seksual atau pencabulan dengan korban anak-anak, termasuk di wilayah Sleman. Para korban perlu mendapat penanganan psikologis profesional.
Kepala Departemen Ilmu Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Yayi Suryo Prabandari, menjelaskan pengalaman menjadi korban pencabulan di masa kecil bisa menjadi salah satu faktor risiko di kehidupan selanjutnya.
“Bisa jadi kemudian dia tegang pada saat menjalani hidupnya sebagai suami-istri, berperan sebagai orang tua, atau ketegangan dalam kondisi-kondisi tertentu. Itu bisa terjadi jika sesudah mendapatkan kekerasan seksual tidak ada penanganan psikologis,” ujarnya, Senin (13/2/2023).
Setiap korban kekerasan seksual harus segera dibawa ke psikolog professional untuk mendapatkan penanganan psikologis. “Di dalam peraturan menteri, pada korban akan mendapat mandatori konseling. Jadi konselingnya harus,” katanya.
Perempuan yang tergabung dalam Satgas Pencegahan Kekerasan Seksual UGM ini mengatakan terkadang korban kekerasan seksual sudah mengaku atau terlihat baik-baik saja. Namun hal itu masih perlu dipastikan lagi melalui pemeriksaan psikologi.
“Dia betul-betul harus pulih mental dan fisiknya. Untuk pulih 100 persen memang tidak bisa cepat. Tapi paling tidak dia sudah tidak terlalu trauma lagi. Sehingga perlu ada pendampingan dan konseling untuk korbannya,” ungkapnya.
Konseling juga dibutuhkan pelaku yang melakukan kekerasan seksual secara berulang. Jika digali lebih dalam, ada kemungkinan pelaku pada masa kecilnya juga merupakan korban kekerasan seksual.
“Jika proses forensic psychology jalan, kemungkinan di masa kecil dia juga korban. Jadi ada beberapa kasus, di masa kecilnya [pelaku] juga merupakan korban,” kata dia.
Ia mencontohkan kasus Ted Bundy, orang Amerika yang memperkosa dan membunuh banyak perempuan. Berdasarkan hasil penelusuran, Ted Bundy saat masih anak-anak hampir setiap hari melihat ayahnya memukul dan memperkosa ibunya sendiri.
Pengalaman itu membuat Ted Bundy berpikir berhubungan seks harus dengan menyiksa pasangannya. “Otaknya merekam itu. Jadi pelaku-pelaku cabul harus diperiksa juga oleh psikiater,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jogja akan jadi lokasi pemecahan rekor MURI 1.000 difabel tuli sekaligus seminar kebangsaan disabilitas oleh KND.
JadePuffer menjadi ransomware berbasis AI pertama yang mampu menjalankan serangan siber secara mandiri dan adaptif tanpa banyak campur tangan manusia.
Bupati Bantul akan memanggil manajemen RSGM untuk membahas tunggakan gaji 36 eks pekerja yang belum dibayarkan selama empat bulan.
Polresta Jogja memburu satu DPO baru dalam kasus pembacokan pelajar di depan SMAN 3 Jogja. Pria itu diduga mendanai pelarian tersangka ke Cilacap.
Argentina bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk mengalahkan Mesir 3-2 dan melaju ke perempatfinal Piala Dunia 2026.
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.