Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Keenam tersangka penipuan bermodus tunggakan telepon di Polda DIY, Rabu (29/3/2023)/Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN—Polda DIY menangkap enam orang termasuk dua di antaranya warga negara asing (WNA) dari Taiwan. Mereka merupakan tersangka kasus penipuan dengan modus menelepon korban dan menyebutkan jika tagihan telepon korban menunggak.
Direskrimsus Polda DIY, Kombes Pol Idham Mahdi, menjelaskan kejadian ini dialami I, seorang dosen yang beralamat di Tegalrejo, Kota Jogja. pada 22 Februari lalu pada pukul 07.53 WIB, korban mendapat panggilan telepon di rumahnya dari orang tak dikenal.
Saat diangkat, pesan suara mesin mengarahkan korban untuk menekan tombol 1. Setelah itu, korban disambut oleh seorang wanita yang mengaku sebagai customer service penyedia layanan telepon. “CS tersebut mengatakan korban memiliki tagihan telepon rumah sebesar Rp2.356.000,” ujarnya, Rabu (29/3/2023).
Tagihan tersebut ditujukan kepada korban, namun nomor telepon yang disebut menunggak bukan nomor telepon rumah korban. CS tersbut mengatakan jika nomor yang disebutkan didaftarkan atas nama korban, namun dengan alamat di Denpasar, Bali. “Lalu CS berpura-pura membantu korban dengan menghubungkan korban dengan penyidik di Polda Bali,” katanya.
Selanjutnya percakapan langsung beralih dari CS ke suara laki-laki yang mengaku dari Polda Bali bernama Iptu B. Korban kemudian diminta untuk membuat laporan polisi atas kasus penggunaan identitas korban untuk nomor telepon rumah yang menunggak pembayaran di Denpasar, Bali tersebut.
Setelah membuat laporan, orang yang mengaku dari Polda Bali memberi tahu korban jika rekening yang digunakan untuk membayar tagihan telepon rumah palsu tersebut dipakai untuk tindak pidana pencucian uang atas nama Agustina.
Polisi gadungan itu lalu meminta nomor WhatsApp korban. Setelah nomor WA diberikan, tak berselang lama Iptu B kembali menelepon korban melalui video call Whatsapp dan mengatakan jika pembicaraan mereka merupakan proses penyelidikan. “Korban diinterogasi atas kerterkaitannya dengan rekening [yang disebut terkait pencucian uang] tersebut,” ungkapnya.
Ketika korban merasa tidak nyaman dan mengatakan hendak berdiskusi dengan keluarganya, Iptu B menghalanginya dengan alasan sedang dalam proses penyelidikan. Iptu B bahkan mengancam korban jika memberitahukan hal ini kepada orang lain, berarti korban menghalangi penyelidikan dan bisa ditangkap.
Interogasi tersebut berakhir dengan dihubungkannya korban dengan orang yang mengaku petugas dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Petugas tersebut mengatakan karena korban terlibat dalam kasus pencucian uang, maka rekeningnya harus diaudit.
“Dua dari tiga rekening korban harus diaudit dengan cara saldo yang ada di rekening korban dialihkan ke rekening pengawasan, yang merupakan rekening tersangka. Korban pun mengirimkan Rp710 juta ke rekening yang disebutkan,” ujarnya.
Keenam tersangka dalam tindak kejahatan ini meliputi AW, laki-laki, asal Surabaya, yang berperan sebagai pemilik nomor rekening tampungan yang digunakan untuk perbuatan tindak pidana; NL, laki-laki, asal Surabaya, berperan sebagai pencari dan pembeli rekening tampungan.
Kemudian DT alias A, laki-laki, asal Kalimantan Barat, berperan sebagai pentransfer uang dan pencari rekening orang Indonesia; VN, asal Palembang, berperan sebagai pentransfer uang; ZQB (WNA), laki-laki, domisili Surabaya, bertugas untuk memberi perintah transfer kepada VN melalui grup telegram;
YSX (WNA), laki-laki, domisili Surabaya, berperan menjalankan tugas sebagai pengawas dan pendamping pekerjaan mengenai transaksi keuangan yang dilakukan oleh DT alias A dan juga VN. Para pelaku disangkakan pasal 45A UU No. 19/2016 atas perubahan UU No. 11/ 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik. Ancaman penjara paling lama enam tahun.
Kasubdit Siber Ditreskrimsus Polda DIY, AKBP Asep Suherman, mengatakan mengingat kasus ini melibatkan jaringan internasional, tidak menutup kemungkinan adanya tersangka lainnya. “Dua tersangka WNA dikirim dari Taiwan ke Indonesia, ke Surabaya, dengan visa wisata,” katanya.
Polisi juga masih mendalami kemana saja aliran dana yang sudah ditransfer korban. “Yang jelas uang itu lari ke empat rekening, nah ini kita lihat perkembangan ke depan lagi. Karena akan berkembang pelaku yang lain kayaknya,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Simak jadwal Puasa Arafah 2026 lengkap dengan niat, keutamaan, dan penjelasan sunnah jelang Iduladha.
YouTube akan meluncurkan fitur deteksi wajah AI untuk kreator guna melawan deepfake dan penyalahgunaan konten digital.
Kemendagri dorong aturan larangan perang suku di Papua Pegunungan lewat Raperdasus dan Raperdasi demi menjaga keamanan.
Lonjakan penumpang KAI Daop 4 Semarang capai 220 ribu saat libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026. Ini rute favoritnya.
Bahasa Inggris akan jadi pelajaran wajib SD mulai 2027. Pemerintah siapkan pelatihan guru dan strategi peningkatan mutu pendidikan.