Advertisement

Hanya ada 36 Kasus DBD di Jogja, Wolbachia Jadi Andalan

Triyo Handoko
Jum'at, 16 Juni 2023 - 19:07 WIB
Arief Junianto
Hanya ada 36 Kasus DBD di Jogja, Wolbachia Jadi Andalan Foto ilustrasi. - Ist/Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Jogja per Mei 2023 hanya 36 kasus. Dibanding pada 2016 silam, di mana DBD menjadi Kejadian Luar Biasa di Jogja dengan 1.690 kasus, penanganan DBD membaik sejak pengembangbiakan nyamuk Wolbachia pada 2017 lalu.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja menyebut nyamuk Wolbachia mampu menekan 77% jumlah kasus DBD di wilayahnya. Selain menekan jumlah kasus, nyamuk baik ini juga menekan penderitanya untuk tidak rawat inap sebanyak 86%.

Advertisement

Keunggulan Wolbachia telah diuji Dinkes DIY bersama UGM. “Dulu di awal itu penyebaran nyamuk wolbachia hanya di beberapa kemantren saja, lalu kemantren lain dijadikan pembanding apakah efektif mengatasi DBD. Hasilnya sangat efektif sekali,” kata Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Jogja Endang Sri Rahayu, Jumat (16/6/2023).

Endang menyebut populasi nyamuk Wolbachia yang menekan kasus DBD sudah merata di seluruh Kota Jogja. “Monitoring terakhir 2022 kemarin, populasinya sudah stabil sekitar 90 persen. Jadi kami terbantu sekali untuk mencegah DBD dengan model Wolbachia ini,” ujarnya.

BACA JUGA: 12 Tahun Penelitian Wolbachia Digelar di Jogja, Ini Pengaruhnya Pada Kasus DBD

Nyamuk baik ini, jelas Endang, akan berkembang biak secara mandiri seperti nyamuk pada umumnya. “Kami hanya tinggal monitoring saja, karena proyek Wolbachia juga sudah berakhir,” jelasnya.

Endang menjelaskan penanganan DBD di Kota Jogja tak hanya mengandalkan Wolbachia saja. “Program lain juga terus kami lakukan, artinya wolbachia ini tidak menggugurkan kewajiban program lain. Sekarang kami juga tengah mewaspadai kemarau El Nino yang dapat meningkatkan kasus DBD,” terangnya.

Program penanganan lain DBDB, menurut Endang, yang terus dilakukan adalah program satu rumah satu jumantik, fogging atau pengasapan, hingga penerapan pola hidup sehat lainnya.

“Per 2023 ini baru tujuh kali fogging, terhitung sedikit, kami juga selalu sosialisasikan jumantik, dan penggunaan instalasi air berkeran agar tidak ada genangan untuk nyamuk,” terangnya.

Soal kewaspadaan DBD, lanjut Endang, Dinkes Kota Jogja sudah koordinasi dengan puskesmas-puskesmas di wilayahnya. “Kami juga turut mewaspadai peningkatan DBD ini, selain mengandalkan wolbachia program lain juga dijalankan. Sehingga kami himbau masyarakat juga turut mengikuti program yang ada dari jumantik sampai pola hidup sehat,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Bagaimani Nasib Penghuni dan Karyawan Hotel Sultan setelah Dieksekusi?

News
| Sabtu, 30 September 2023, 15:27 WIB

Advertisement

alt

Di Coober Pedy, Penduduk Tinggal dan Beribadah di Bawah Tanah

Wisata
| Kamis, 28 September 2023, 20:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement