Angka Pernikahan di Jogja Menurun, Usia Menikah Kini 22-28 Tahun
Angka pernikahan di Kota Jogja terus menurun. Kemenag mencatat rata-rata perempuan menikah usia 22-25 tahun dan laki-laki 25-28 tahun.
Ilustrasi antrean puluhan truk pengangkut sampah di TPA Piyungan, Bantul./Harian Jogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA—Program Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) diharapkan dapat mengolah sampah menjadi energi baru.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Beny Suharsono menyampaikan, “Teknologi yang diterapkan itu nanti sudah bisa memisah mana plastik, kertas, dan organik.
Nanti keluar produknya tidak ada waste [sampah], residu. Ini sudah terpilah yang dapat menjadi bahan industri, plastik yang bisa didaur ulang dan tidak,” katanya, Rabu (2/8/2023).
BACA JUGA: Bagaimana Nasib Kerja Sama Badan Usaha soal Pengelolaan TPA Piyungan? Begini Penjelasan Sultan
Kemudian menurut Beny untuk sampah organik akan digunakan incinerator atau dengan memusnahkan sampah dengan pembakaran suhu tinggi dan terpadu. “Turunannya bisa menjadi listrik, kompos. Ini teknologi yang kami harapkan,” imbuhnya.
Beny mengakui, anggaran telah disiapkan Pemda DIY untuk mengolah sampah dengan teknologi tersebut. “Cadangan terakhir yang disiapkan Pemda DIY, kami ajukan [anggaran] ke DPRD Rp100 miliar pada 2024,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Angka pernikahan di Kota Jogja terus menurun. Kemenag mencatat rata-rata perempuan menikah usia 22-25 tahun dan laki-laki 25-28 tahun.
Jadwal KRL Solo-Jogja dari Stasiun Palur pada Rabu 7 Oktober 2026 tersedia mulai pagi. Simak jadwal lengkap di tiap stasiun.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 7 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif KRL sebesar Rp8.000.
Pemkab Magelang menyiapkan 70 SPKL mobil dan 74 battery swap station untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik dan pariwisata.
PHRI Sleman dan DP3 membangun sistem informasi pemasaran untuk mempertemukan supplier produk lokal dengan pelaku usaha.
Guru di Magelang didorong meningkatkan kompetensi agar adaptif menghadapi generasi digital, AI, dan perubahan karakter peserta didik.