Proyek Konservasi Burung Aviary Purwosari Ditarget Rampung 2029
Pembangunan aviary Purwosari Gunungkidul kembali dilanjutkan tahun ini dengan anggaran Rp5,6 miliar dari Dana Keistimewaan DIY.
Pantai Krakal, Gunungkidul/JIBI-Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul melaporkan adanya sejumlah biota laut yang mati akibat paparan limbah di Pantai Krakal dan Slili di Kapanewon Tepus, Minggu (8/10/2023).
Namun, untuk kepastian limbah yang diduga mirip tumpahan minyak ini masih harus menunggu pengujian.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Hary Sukmono mengatakan penyebab pasti terjadinya pencemaran limbah di Pantai Krakal dan Slili masih belum diketahui pasti. Rencananya pada Senin (9/10/2023) dilakukan pengujian terhadap pencemaran di kedua pantai itu.
“Sekarang baru pengamatan awal. Besok akan diperiksa lagi dengan membawa alat pengujian untuk menguji air sehingga diketahui jenis cemaran maupun penyebabnya,” kata Hary kepada wartawan, Minggu sore.
Meski baru sebatas pengamatan awal, ia mengakui pencemaran sudah berdampak terhadap ekosistem di kedua Pantai. Berdasarkan laporan dari petugas ditemukan sejumlah hewan mati seperti bulu babi kecil, bintang laut hingga kepiting kecil. “Lokasi temuan biota laut yang mati berada di pinggiran Pantai,” katanya.
BACA JUGA: Pantai Krakal dan Slili Tercemar Limbah, Ini Respon DLH Gunungkidul
Selain itu, petugas di lapangan juga sudah melakukan identifikasi awal. Untuk sementara disimpulkan jenis paparan limbah berupa oli atau tumpahan solar. “Untuk pastinya menunggu pengujian,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, pengunjung di Pantai Slili dan Krakal mengeluhkan adanya pencemaran limbah. Secara kasat mata, paparan tidak terlihat, tapi pada saat bermain air ada cairan lengket seperti sisa oli.
“Kalau secara kasat mata kurang terlihat. Namun ketika anggota badan masuk ke dalam air laut, terasa licin dan meninggalkan noda warna hitam,” katanya Mayarisari, salah seorang pengunjung kepada wartawan, Minggu (8/10/2023).
Menurut Mayarisari, peristiwa yang sama juga terjadi di Pantai Slili. Setibanya di Pantai ini akan bermain, tetapi oleh pengunjung lain diperingatkan agar tidak bermain karena adanya limbah seperti tumpahan minyak. “Ada rombongan anak-anak yang datang, tapi diperingatkan sehingga tidak jadi bermain,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku tidak tahu menahu limbah ini berasal. Dia berharap, limbah cair mengotori pantai segera ditangani sehingga tidak menganggu kenyamanan wisatawan yang berkunjung. “Kalau ada limbahnya. Jelas menggangu dan mudah-mudahan bisa segera diatasi,” kata.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah Operasi 2 di Pantai Baron, Marjono saat dikonfirmasi membenarkan adanya keluhan berkaitan dugaan pencemaran di Pantai Krakal dan Slili. “Kedua Pantai ini masih satu deretan karena letaknya berdampingan. Untuk Pantai yang lain masih aman,” kata Marjono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan aviary Purwosari Gunungkidul kembali dilanjutkan tahun ini dengan anggaran Rp5,6 miliar dari Dana Keistimewaan DIY.
Xiaomi membatalkan proyek ponsel ultra-tipis Xiaomi 17 Air karena tak ingin mengorbankan performa, baterai, dan kualitas pengguna.
Komnas HAM mendorong pengusutan tuntas kasus kekerasan anak di Daycare Little Aresha Jogja. Polisi buka peluang tersangka bertambah.
Kemkomdigi memblokir 3,45 juta situs judi online sejak Oktober 2024. Perputaran dana judol 2025 tercatat Rp286 triliun.
Pratama Arhan memperkenalkan Inka Andestha sebagai kekasih barunya lewat unggahan romantis di Instagram usai resmi bercerai dari Azizah Salsha.
Sony resmi membawa PS5 Pro ke Indonesia mulai 20 Mei 2026 dengan harga Rp15,499 juta. Ini spesifikasi, fitur AI, dan peningkatannya.