Rekonstruksi Kasus Daycare di Jogja Diwarnai Teriakan Orang Tua Korban
Rekonstruksi kasus dugaan kekerasan di Daycare Little Aresha diwarnai teriakan orang tua korban. Mereka menuntut hukuman maksimal bagi para tersangka.
Pnemonia - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Sejak Juni-September 2023 terjadi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Kabupaten Bantul. Peningkatan tersebut seiring dengan tingginya kasus ISPA pada Agustus-September 2023.
Meski begitu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul menduga kebakaran tersebut tidak berdampak secara signifikan terhadap penyakit ISPA. “[Penyebab ISPA] Yang banyak dari debu. Kalau di Kabupaten Bantul asap tidak berpengaruh signifikan terhadap timbulnya ISPA,” kata Kepala Dinkes Kabupaten Bantul, Agus Tri Widyantara, Jumat (27/10/2023).
Dia menilai kasus ISPA yang meningkat dipicu adanya debu yang meningkat pada musim kemarau. Sementara beberapa kejadiaan kebakaran yang terjadi di Kabupaten Bantul dinilai tidak berdampak signifikan pada peningkatan kasus ISPA.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul terjadi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) sejak Juni-September 2023. Tercatat jumlah kasus baru ISPA pada Juni 2023 ada 1.146 orang.
Sementara ada 1.385 orang yang mengalami ISPA pada Juli 2023, ada 2.416 orang pada Agustus 2023, dan 2.928 orang yang mengalami ISPA pada September 2023.
BACA JUGA: Penderita ISPA dan Flu di Jogja Meningkat 40%, Kemarau Panjang Faktor Utamanya
Sementara berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul ada 56 kejadian kebakaran yang ditangani Damkarmat BPBD Kabupaten Bantul pada Agustus 2023. Kemudian, pada September 2023 kejadian kebakaran mengalami peningkatan mencapai 57 kasus.
Dia pun meminta masyarakat memperhatikan beberapa gejala ISPA yang mungkin dialami masyarakat. Beberapa gejala yang dialami penderita ISPA antara lain batuk kering atau berdahak, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sesak nafas atau sulit bernafas, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, lemas, suara serak, pilek, mual, muntah diare, dan turunnya nafsu makan.
Dia mengimbau agar masyarakat terus menjaga kesehatan untuk mengurangi resiko penularan penyakit tersebut. “Kami mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan, terkait gerakan masyarakat hidup sehat [germas] tetap dilakukan, makan makanan dengan gizi seimbang, banyak minum air putih, banyak melakukan aktivitas fisik untuk menjaga kondisi daya tahan tubuh. Itu tetap perlu dilakukan,” katanya.
Dia juga meminta masyarakat menggunakan masker saat berada pada tempat yang banyak ditemukan penderita ISPA. “Kalau berada di tempat yang berpotensi ada banyak penderita ISPA tetap memakai masker. Himbauan kami masyarakat yang sedang menderita ISPA tetap memakai masker agar tidak menularkan ke orang yang lain,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rekonstruksi kasus dugaan kekerasan di Daycare Little Aresha diwarnai teriakan orang tua korban. Mereka menuntut hukuman maksimal bagi para tersangka.
Gibran Rakabuming meminta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih dikaji matang agar tidak merugikan warga dan mengganggu aktivitas sekolah.
Angka kematian ibu dan bayi di Bantul hingga Mei 2026 menurun dibanding tahun lalu. Dinkes memperkuat deteksi dini dan pemantauan kehamilan berisiko.
Korban Hanania Travel mengadu ke Komisi III DPR RI. Sekitar 3.000 calon jamaah disebut mengalami kerugian dan menuntut haknya dikembalikan.
OJK menetapkan tujuh calon direksi BEI periode 2026-2030. Jeffrey Hendrik dipilih sebagai Direktur Utama dan akan diajukan dalam RUPST.
Unnes menjelaskan kronologi dugaan pelecehan seksual yang memicu pengepungan mahasiswa terhadap terduga pelaku. Polisi masih melakukan pendalaman kasus.