Gunungkidul Targetkan 20 Cagar Budaya Baru, 15 Sudah Dikaji
Dinas Kebudayaan Gunungkidul menargetkan 20 cagar budaya baru pada 2026. Sebanyak 15 objek kini masuk proses kajian dan penetapan
Pergelaran pentas seni dan budaya yang diselenggarakan di Kawasan Laut Bekah di Padukuhan Temon, Giripurwo, Purwosari. Foto diambil Minggu (26/11/2023).- Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Potensi wisata di Kabuapten Gunungkidul dengan keindahan pemandangan laut seakan tidak ada habisnya. Salah satunya tebing Laut Bekah di Padukuhan Temon, Giripurwo, Purwosari, Gunungkidul.
Bagi yang akrab berkunjung ke tempat-tempat wisata di Gunungkidul, mungkin terasa asing mendengar Laut Bekah. Hal itu wajar karena keberadan destinasi wisata ini tak setenar dengan Pantai Baron, Indrayanti atau Ngobaran, meski akses menuju lokasi sudah dibuka sejak 2006 lalu.
Laut Bekah berjarak 37 kilometer dari pusat Kota Wonosari, atau tepatnya berada di pesisir barat Gunungkidul. Secara geografis, tempat ini juga berbatasan dengan Kabupaten Bantul.
Untuk akses menuju lokasi dipastikan tidak ada moda transpotasi umum sehingga kunjungan harus dilakukan dengan menggunakan kendaraan pribadi. Rute yang dilalui dengan menelusuri Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS).
Setelah sampai di Kalurahan Giripurwo, nantinya ada papan penunjuk arah menuju Laut Bekah. Adapun jarak dari jalan raya menuju lokasi sekitar lima kilometer.
Bagi pengunjung yang ingin ke lokasi tidak perlu khawatir karena jalan sudah bisa dilalui kendaraan roda empat. Meski demikian, tetap harus berhati-hati karena jalanan masih berupa cor blok sekitar 4,5 kilometer.
Sedangkan, sisanya sepanjang 500 meter berupa jalan alami berupa bebatuan. Sesampainya di Laut Bekah, pengunjung bisa melihat keindahan pemandangan alam dari tebing yang memiliki ketinggian 80-90 meter dari laut.
Di tempat ini juga sudah dilengkapi dengan gazebo-gazebo sehingga dapat dimanfaatkan pengunjung untuk berteduh atau beristirahat. Dukuh Temon, Tukijan mengatakan, Laut Bekah termasuk wisata minat khusus, terutama bagi pengunjung yang hobi mancing.
“Jadi surga bagi pemancing karena banyak ikan yang didapat mulai dari ikan kue [GT], layur, kerapu hingga lobster,” kata Tukijan kepada Harianjogja.com, Minggu (3/12/2023).
Ia tidak menampik jumlah kunjungan ke Laut Bekah masih belum banyak setiap harinya. Namun pada saat libur akhir pekan ada 25-30 pemancing yang datang guna menyalurkan hobinya ini.
“Jangan salah pengunjung umum juga bisa datang ke sini. Untuk menikmati keindahan pemandangan laut,” katanya.
BACA JUGA: Wisata Yogyakarta, 3 Pantai di Gunungkidul Ini Punya Tebing yang Cantik
Tukijan mengakui, Laut Bekah memiliki banyak potensi. Selain surga bagi pemancing, juga ada spot melihat sunset. Di waktu-waktu tertentu, pengunjung juga bisa melihat kawanan hiu paus yang berkeliaran di bawah tebing Laut Bekah.
“Paling banyak dilihat antara Januari sampai April. Tapi, sekarang juga sering muncul dan banyak yang melihatnya,” katanya.
Ia menambahkan, di destinasi ini juga terdapat petilasan dari Prabu Brawijaya V yang dikenal Masyarakat sebagai Petilasan Gebangkoro. Warga percaya ada tempat yang disakralkan dan seringkali dipergunakan untuk bertapa.
“Bekas pertapaan Prabu Brawijaya saat melarikan diri. Lokasinya hanya 500 meter dari Laut Bekah,” katanya.
Menurut dia, petilasan Gebangkoro memiliki keunikan tersendiri. Di tempat ini terdapat pohon Gebang (sejenis palem) yang tak pernah tumbuh dan tingginya 50 centimeter.
“Sudah sejak saya lahir tingginya juga 50 centimeter hingga sekarang. Uniknya setiap orang yang menghitung pelepah daunnya berbeda-beda. Ada yang hanya tujuh, ada yang 15 ada yang 13 dan lainnya sehingga tempat ini dijadikan tempat penyelenggaraan bersih dusun,” katanya.
Anggota DPRD Gunungkidul, Ery Agustin S mengatakan, potensi di Laut Bekah sangat memungkinkan dikembangkan menjadi destinasi wisata. belum lama ini, ia mengakui sempat berkunjung dan melihat kawananan hius paus berkeliaran di sekitaran tebing.
“Satu minggu sebelum ada paus terdampar di Parangtritis, saya melihatnya. Selain itu, juga bisa melihat kapal-kapal besar yang berlalu Lalang di laut,” katanya.
Menurut dia, akses menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan karena jalan ke lokasi masih butuh banyak perbaikan. “Tentunya juga harus ada kegiatan atraksi wisata yang bisa menjadi daya Tarik agar wisatawan berkunjung ke tempat ini,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Kebudayaan Gunungkidul menargetkan 20 cagar budaya baru pada 2026. Sebanyak 15 objek kini masuk proses kajian dan penetapan
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 27 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
DPRD Gunungkidul menegaskan Perubahan APBD 2026 harus berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar besarnya anggaran.
HP mulai bermasalah? Kenali tanda pada layar, baterai, dan suhu sebelum memutuskan mengganti perangkat.
Bangun siang bisa memengaruhi ritme sirkadian, jadwal tidur, konsentrasi, suasana hati, hingga rutinitas harian. Ini 13 dampaknya.
iPhone 18 Pro 1TB dan 2TB dilaporkan memakai QLC, sedangkan 256GB dan 512GB menggunakan TLC. Simak hasil uji performanya.