Advertisement

Situs Warisan Geoheritage Simpan Potensi Besar Kesejahteraan

Media Digital
Minggu, 10 Desember 2023 - 13:17 WIB
Abdul Hamied Razak
Situs Warisan Geoheritage Simpan Potensi Besar Kesejahteraan Dinas Pariwisata DIY menggelar talk show dengan judul Pemanfaatan Situs Warisan Geoheritage di Kawasan Geopark Jogja diAmphitheater, Kalurahan Banjaroya, Kulonprogo pada Sabtu (9/12/2023). Dalam talk show tersebut,General Manager Geopark Jogja, Dihin Nabrijanto mengatakan warisan geologidi Kawasan Geopark Jogja sangat besar. Sebab itu perlu upaya pemanfaatan secara terintegrasi melalui pemangku kepentingan terkait.Andreas Yuda Pramono - Harian Jogja

Advertisement

KULONPROGO—Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyimpan 20 warisan geologi yang telah mendapat penetapan dari Pemerintah Pusat pada 2021.

Lima warisan geologi tersebut di antaranya berada di Kawasan Geopark Gunung Sewu, Gunungkidul dan sekitarnya. Sementara lima belas sisanya masuk dalam Kawasan Geopark Jogja yang mencakup Kabupaten Kulonprogo, Bantul, dan Sleman.

Advertisement

General Manager (GM) Geopark Jogja, Dihin Nabrijanto mengatakan penetapan warisan geologi oleh Pemerintah Pusat tersebut dapat dibaca sebagai sebuah kesempatan meningkatkan statusnya menjadi geoheritage UNESCO. 

Dihin menambahkan UNESCO memiliki program Geopark di mana salah satu sub-nya adalah memanfaatkan warisan geologi untuk kepentingan atau kemaslahatan masyarakat.

"Ada nilai penting di sana. Ada potensi besar yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat," kata Dihin ditemui di Amphitheater, Kalurahan Banjaroya, Kulonprogo pada Sabtu (9/12/2023).

BACA JUGA: Gelar Jelajah Ruang Menoreh Geoheritage Banjaroya, Ini yang Diinginkan Pemkab Kulonprogo

Dia menjelaskan Geopark adalah sebuah manajemen pengembangan kawasan untuk memicu pertumbuhan wilayah dengan memaduserasikan tiga warisan yaitu geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya.

Di DIY, syarat-syarat tersebut lengkap. Sebagai contoh, Kulonprogo memiliki Goa Kiskendo, Batubara Eosen Nanggulan, Puncak Suroloyo, dan Tambang Mangan Kliripan sebagai warisan geologi. 

"Tahun 2023, kami sudah mengajukan dossier pengusulan Geopark Jogja sebagai Geopark Nasional. Karena untuk menuju Global Geopark UNESCO harus melalui tahapan Geopark Nasional dulu," katanya.

Warisan-warisan geologi tersebut perlu dirawat dan dikonservasi apabila mengalami kerusakan akibat pertambangan dan lain hal. Pasalnya, salah satu bentuk budaya adalah keberlanjutan pembangunan.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY, Tri Saktiyana mengatakan kebudayaan perlu dimaknai secara luas bukan sebatas tari sampai lukis.

"Kebudayaan dalam arti luas bagaimana menyejahterakan secara ekonomi dan merawat bumi. Karena sustainable development [keberlanjutan pembangunan] bagian dari kebudayaan dan bagian dari pemberadaban," kata Saktiyana.

Berkaitan dengan keberlanjutan pembangunan, dia memberi contoh Pemda DIY telah menghentikan aktivitas penambangan tebing breksi di Sleman dan mengganti dengan proses konservasi.

Proses konservasi tersebut telah mendatangkan kemakmuran atau kesejahteraan bagi masyarakat melalui kunjungan wisatawan. Kesejahteraan tersebutlah yang menjadi muara Dana Keistimewaan (Danais).

Sementara itu, Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan, Aris Eko Nugroho menceritakan peran besar Danais yang tidak terbatas pada urusan kesenian tari atau musik namun sampai kepada lumbung mataraman/pertanian dan peternakan.

"Berkaitan dengan Geoheritage Jogja, Danais akan melengkapi sesuai dengan dossier. Sebab itu, dokumen harus dijadikan dulu. [Penyusunan] dokumen juga harus melibatkan semua masyarakat. Setelah semua setuju, baru kemudian ada tindak lanjut dari situ," kata Aris.

Aris kembali menegaskan penyusunan dokumen atau dossier bukan hanya dilakukan pemerintah namun bersama-sama dengan masyarakat. Dengan begitu, hal-hal yang telah disusun dapat disokong bersama-sama dengan tujuan kesejahteraan.

Plh. Kepala Dinas Pariwisata DIY, Kurniawan mengatakan Geopark Jogja dapat menjadi sebuah warisan bernama Geoheritage.

“Geoheritage ini kalau dari sisi pariwisata lebih kepada memanfaatkan dengan menambah amenitas misalnya embung seperti di Tonogoro [Banjaroya, Kulonprogo] dan amphitheater di Banjaroya juga Dispar DIY yang bangun,” kata Kurniawan.

Menurut dia, Kawasan Cagar Alam Geologi (Geoheritage) Perbukitan Menoreh merupakan Kawasan Geowisata yang luar biasa dengan bentang alam yang indah. Optimalisasi pemanfaatan ruang Satuan Ruang Strategis (SRS) Menoreh diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan Masyarakat.

Geowisata yang dilengkapi dengan embung kemudian membangkitkan agrowisata yang kemudian menghasilkan produk unggulan durian menoreh.

“Pemanfaatan embung dan amphitheater dapat mendorong perekonomian warga sehingga sejahtera,” katanya.

Kurniawan menambahkan khusus di Kulonprogo, Dispar DIY bersama Pemkab Kulonprogo berupaya mengangkat dan mengembangkan kawasan empat banjar yaitu Banjararum, Banjaroya, Banjarharjo, dan Banjarasri menjadi kawasan pengembangan yang terintegrasi, perpaduan wisata (alam, sport tourism) dan pertanian/perkebunan.

Dari sini, diharapkan terjadi keberlanjutan bukan hanya keberlanjutan alam/ekologi namun juga keberlanjutan ekonomi, sosial dan budaya. “Yang pada akhirnya menjadi ‘Adiloka Jogja Istimewa’,” ucapnya.

Adiloka Jogja Istimewa merupakan terjemahan dari makna Geopark ketika diinternalisasikan dengan kebudayaan Yogyakarta. (***)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Bertolak ke Melbourne, Jokowi hadiri KTT Asean-Australia

News
| Senin, 04 Maret 2024, 11:47 WIB

Advertisement

alt

Indonesia Bidik Turis Portugal sebagai Pasar Pariwisata

Wisata
| Minggu, 03 Maret 2024, 09:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement