Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Kondisi Gua Cerme sepi pengunjung, Selasa (12/12/2023)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, BANTUL—Salah satu wisata alam Bantul, Gua Cerme, masih saja sepi dikunjungi wisatawan sejak pandemi Covid-19 lalu hingga saat ini. Minimnya sarana-prasarana dan akses yang sulit ditengarai menjadi penyebab kondisi ini.
Pengelola Gua Cerme, Khamid Wahyu Hidayat menjelaskan kunjungan wisatawan ke Gua Cerme menurun drastis sejak pandemi Covid-19 lalu dan hingga saat ini belum pulih. “Drastis sekali [penurunannya]. Semenjak Corona. Belum pulih sampai sekarang,” katanya, Selasa (12/12/2023).
Dari pengamatannya, sebelum pandemi, di hari kerja tetap selalu ada kunjungan walau hanya lima sampai tujuh orang dan di akhir pekan bisa rata-rata 30-35 orang. “Sekarang minim sekali, bahkan hari biasa ga ada pengunjung pun sering,” kata dia.
Dia mencontohkan pada pekan lalu, ada dua hari yang bahkan sama sekali tidak ada kunjungan. Di akhir pekan pun tidak ada penambahan pengunjung signifikan. “Kadang Minggu diperkirakan agak lumayan, tapi zonk itu sering sekali,” paparnya.
Termasuk pada Desember, menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) ini juga belum ada indikasi lonjakan pengunjung. “Dulu hari libur Nataru biasanya dari mahasiswa udah banyak yang tanya. Mau booking tempat untuk kemping dan sebagainya. Sekarang enggak ada,” kata dia.
Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang menjadikan Gua Cerme sepi pengunjung, diantaranya akses yang sulit, sarpras yang minim dan tiak adanya pengembangan. “Kalau dari wisatawan banyak yang mengeluhkan jalan yang utama, aksesnya,” katanya.
Terkait edngan sarpras, di Gua Cerme area parkir dan lahannya sempit sehingga pengunjung tidak leluasa. “Terus yang anak-anak untuk wahana-wahana lainnya enggak ada. Jadi untuk daya tarik pertama cuma masuk lorong Gua Cerme. Kedua view-nya. Jadi untuk anak-anak yang tidak berani di sini mau ngapain, bingung, wahana tidak ada,” ungkapnya.
Dengan kondisi itu, Gua Cerme hanya menjadi wisata minat khusus, dengan segmen terbesar adalah mahasiswa pencinta alam dan masyarakat pelaku ritual. “Kalau anak sekolah SD, SMP, SMA, jarang sekali. Keluarga ya satu-dua,” katanya.
BACA JUGA: Jumlah Pengunjung Gua Cerme Terus Anjlok, Ini Dia Penyebabnya
Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Bantul, Yuli Hernadi, menuturkan askes di Goa Cerme memang tidak memungkinkan bus untuk masuk. “Goa Cerme akses bus tidak bisa naik, berarti hanya minat khusus, yang seneng petualangan,” katanya.
Selain itu, Goa Cerme juga memiliki kelemahan yakni hanya bisa dinikmati dengan jalan kaki. “Masuk, ada airnya, jalan 2 km. Kelemahanya masuknya harus jalan kaki, padahal ada airnya. Beda dengan Goa Pindul, pakai ban, banyak peminatnya,” ujarnya.
Untuk menarik minat pengunjung, Dinas Pariwisata Bantul mencoba membuat pengembangan di Goa Cerme. “Di sana akan coba pengembangan, saya buat joglo, nanti ada semacam live musik malam hari. Ada warung komunal yang dikelola kelompok, yang jaga gantian, hasilnya ke kelompok, biar ada daya tariknya,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Tesla resmi menaikkan harga Model Y di AS setelah dua tahun. Simak daftar harga terbaru dan persaingan ketat di pasar mobil listrik.
Perbukitan Menoreh Kulonprogo disiapkan jadi pusat wellness tourism. Sungai Mudal siap, namun akses jalan masih jadi kendala utama.
James Cameron ungkap rencana Avatar 4 dan 5 dengan teknologi baru agar produksi lebih cepat dan biaya lebih efisien.
KKMP Jogja siapkan produksi 65 ribu batik sekolah, dorong UMKM dan perajin batik semakin berkembang.
Studi global ungkap penurunan oksigen di sungai akibat pemanasan iklim. Sungai tropis paling terdampak, ancam ekosistem air tawar.