Pecah Sunyi Hadir di Kembaran, Seni Rupa Dekatkan Seniman dan Warga
Pameran Pecah Sunyi di Dusun Kembaran, Bantul, menghadirkan seni rupa ke tengah warga sekaligus membuka ruang edukasi dan dialog budaya di desa.
Foto ilustrasi Koperasi Desa Merah Putih, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA — Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Kota Jogja terus menunjukkan geliat positif dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan. Terbaru, koperasi ini bersiap memproduksi sekitar 65.000 lembar batik untuk kebutuhan seragam pelajar dalam gelombang kedua program pengadaan batik Segoro Amarto.
Program ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan seragam sekolah, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi pelaku UMKM serta perajin batik lokal di Kota Jogja.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menegaskan komitmen pemerintah kota dalam mendukung keberlanjutan aktivitas KKMP, meskipun hingga saat ini koperasi tersebut belum memiliki gerai permanen akibat keterbatasan lahan.
“Jogja sebagai kota batik yang diakui UNESCO harus mampu menghidupkan perajin dan UMKM melalui koperasi. KKMP ini menjadi salah satu instrumen penting untuk itu,” ujar Hasto, Minggu (17/5/2026).
Ia menjelaskan, dalam satu tahun terakhir terjadi perkembangan signifikan. Jika sebelumnya keterbatasan perajin batik cap menjadi kendala produksi massal, kini delapan unit KKMP telah mampu memproduksi batik Segoro Amarto, termasuk dengan metode cap yang lebih efisien untuk kebutuhan skala besar.
Sebelumnya, KKMP juga telah sukses memenuhi pesanan seragam batik bagi 6.500 aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Jogja. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa koperasi mampu menjalankan produksi dalam jumlah besar dengan kualitas terjaga.
Tak hanya fokus pada batik, Pemkot Jogja juga menyiapkan pengembangan infrastruktur KKMP di atas lahan seluas 3.000 meter persegi di kawasan Umbulharjo. Lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk berbagai program ekonomi terpadu, mulai dari budidaya lele sistem bioflok hingga pengolahan sampah menjadi pupuk.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Jogja, Tri Karyadi Riyanto, menyebutkan bahwa saat ini 32 dari 45 kelurahan telah memiliki aktivitas KKMP dengan beragam sektor usaha. Mulai dari produksi batik, penyediaan bahan pokok, layanan keuangan, hingga kemitraan dengan hotel dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Koperasi ini menjadi wadah agar perajin tidak berjalan sendiri, mulai dari bahan baku hingga pemasaran bisa terintegrasi,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua KKMP Gunungketur, Reza Murtaza, mengatakan pihaknya telah memproduksi ratusan lembar batik Segoro Amarto dan kini rutin memproduksi sekitar 40 lembar setiap siklus untuk memenuhi kebutuhan tambahan.
Dengan model koperasi yang terintegrasi, para perajin kini memiliki kepastian pasar dan sistem kerja yang lebih terorganisir. Program ini diharapkan mampu memperkuat posisi Jogja sebagai kota batik sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM secara berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pameran Pecah Sunyi di Dusun Kembaran, Bantul, menghadirkan seni rupa ke tengah warga sekaligus membuka ruang edukasi dan dialog budaya di desa.
Jadwal KA Bandara YIA Kamis 2 Juli 2026 lengkap rute YIA-Stasiun Tugu Yogyakarta beserta jam keberangkatan terbaru.
Korban dugaan penyiksaan di percetakan Jakarta Pusat mengaku masih trauma. Said Iqbal memastikan negara menanggung biaya pengobatan korban.
Cek jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Kamis 2 Juli 2026 lengkap dengan jam keberangkatan, rute, dan tarif Rp12.000.
Inflasi DIY Juni 2026 mencapai 0,37% secara bulanan. Kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi penyumbang terbesar inflasi menurut BPS DIY.
Sebanyak 74 ASN Kemenag Kulonprogo mengikuti mentoring IT untuk meningkatkan kecakapan digital dan mendukung pelayanan berbasis teknologi.