Warga Huntap Merapi Kini Pegang SHM, Sultan Ingatkan Jangan Dijual
Warga huntap Merapi di Kepuharjo dan Umbulharjo menerima SHM. Sultan HB X meminta sertifikat dijaga dan tidak mudah dilepas.
Pernikahan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Gunungkidul mencatat bahwa angka pernikahan di Bumi Handayani memiliki tren penurunan selama lima tahun terakhir. Penurunan ini disinyalir akibat makin tingginya kesadaran usia pernikahan yang layak.
Staf Seksi Bimas Islam Kankemenah Gunungkidul, Nur Farid mengatakan jumlah pernikahan pada 2019 mencapai 5.851 pernikahan. Dari jumlah itu sebanyak 2.345 pernikahan dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA) dan 3.506 di luar KUA. “Luar kantor itu ya bisa di gedung, rumah mempelai, atau hotel. Kalau kantor ya maksudnya KUA, setingkat kecamatan,” kata Farid ditemui di kantornya, Rabu (13/3/2024).
Angka tersebut kemudian turun pada 2020 menjadi 4.963 pernikahan dengan rincian 2.126 pernikahan dilakukan di KUA dan 2.837 di luar KUA.
Barulah pada 2021, angka pernikahan itu kembali naik pada 2021 menjadi 5.178 pernikahan, 1.723 di KUA dan 3.455 di luar KUA.
Sementara itu, Kasi Bimas Islam Kankemenag Gunungkidul, Zuhdan Aris mengaku tidak dapat memastikan penyebab tren penurunan angka pernikahan. Kemungkinannya menurut dia karena masyarakat Gunungkidul semakin sadar mengenai usia pernikahan yang layak.
BACA JUGA: Nikah Dini akibat Hamil Luar Nikah di Kulonprogo Marak, Tingkat Pendidikan Orang Tua Biangnya
Selain itu, UU No. 16/2019 tentang Perubahan atas UU No 1/1974 tentang Perkawinan yang menaikkan batas usia perkawinan menjadi 19 tahun untuk pria dan wanita juga dianggap menjadi faktor lain turunnya angka pernikahan.
“Kalau angka pernikahan turun pada 2020 itu menurut saya mungkin karena Covid-19. Ada pembatasan kegiatan termasuk pernikahan. Nikah di KUA juga dibatasi,” kata Zuhdan.
Faktor lain turunnya angka pernikahan menurut Zuhdan karena kesadaran dalam meniti karir dan pendidikan semakin meningkat. Meski telah berumur 19 tahun, seseorang cenderung berupaya mengejar tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga huntap Merapi di Kepuharjo dan Umbulharjo menerima SHM. Sultan HB X meminta sertifikat dijaga dan tidak mudah dilepas.
Bea Cukai Soetta menggagalkan penyelundupan 5,226 kg etomidate oleh lima WN Malaysia yang disembunyikan di sol sepatu.
Influenza A belum ditemukan di Bantul hingga 1 Oktober. Dinkes mengingatkan warga memperkuat PHBS dan menjaga daya tahan tubuh.
Arie Sujito menilai reshuffle kabinet Prabowo harus menjawab problem dan harapan publik, bukan justru memunculkan teka-teki baru.
DPRD Kulonprogo menyoroti kendaraan ODOL dan aktivitas pertambangan yang dinilai berdampak pada kerusakan serta usia pakai jalan.
Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman digelar dua hari di Kulonprogo, mempertemukan 25 stan dan stakeholder pertanian DIY.