SPMB 2026 Ungkap Masalah Baru, Daya Tampung Sekolah Bantul Berlebih
Dikpora Bantul mengungkap kelebihan daya tampung sekolah menjadi salah satu penyebab puluhan SD dan SMP kekurangan murid pada SPMB 2026.
Suasana aksi bertajuk lentera untuk Mahkamah Konstitusi (MK) habis gelap terbitlah terang pada Jumat (19/4/2024) di kawasan Tugu Pal Putih. /Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, JOGJA—Perwakilan massa yang mengatasnamakan Gerakan Rakyat untuk Demokrasi dan Keadilan (Garda) menggelar aksi bertajuk lentera untuk Mahkamah Konstitusi (MK) habis gelap terbitlah terang pada Jumat (19/4/2024) di kawasan Tugu Pal Putih. Aksi ini merespons MK yang pada Senin (22/4/2024) mendatang membacakan hasil putusan sengketa Pilpres.
Mengawali aksinya, delapan perempuan dengan mengenakan kebaya serba hitam sambil mata tertutup kain putih dan membawa lentera serta pedang tiruan mengelilingi Tugu Pal Putih. Dengan diiringi alunan musik gamelan, aksi mereka dilengkapi dengan kehadiran lelaki berpakaian serba hitam duduk melingkar sambil menyalakan dupa.
BACA JUGA : Tok! MK Bacakan Putusan Hasil Sengketa Pilpres pada Senin 22 April Mendatang
Kurang lebih 15 menit aksi berjalan di tengah hujan yang turun cukup deras, salah seorang peserta aksi kemudian membacakan pernyataan sikap tentang unjuk rasa yang digelar pada kesempatan itu. Setelahnya mereka berjalan pelan berbaris dengan rapi tanda aksi rampung dilaksanakan.
Koordinator Aksi Hersi Krisnawati mengatakan, aksi itu merupakan bentuk laku ratri sambil umbul donga dengan tujuan yang sederhana yakni ingin memberikan lentera kepada hakim MK secara simbolis yang pada Senin mendatang akan memutuskan hasil sengketa Pilpres Pemilu 2024.
"Kami berharap dengan lentera ini para hakim MK mendapat penerangan jiwa. Karena kami percaya kalau jiwanya terang, jiwanya damai mereka akan dapat memutuskan hasil sengketa Pilpres dengan seadil-adilnya," kata Hersi.
Menurutnya, aksi tersebut juga menyoroti terkait dugaan kecurangan yang terjadi dalam Pilpres 2024 lalu. "Soal keputusannya apa kami belum tahu. Namun kami percaya bahwa para hakim akan memakai hati nuraninya dengan terang seperti lentera ini untuk memutuskan hasil," ujarnya.
Hersi menyebutkan, delapan perempuan yang mengenakan kebaya dan penutup mata dalam aksi itu memerankan dewi keadilan sebagai simbol pendekar perempuan Jawa. Lentera dan pedang dianggap sebagai representasi penerangan bagi hakim MK serta senjata untuk melawan kebatilan dalam Pilpres lalu dengan hasil putusan yang adil dan jujur.
"Kami hanya mendukung dan berharap keputusan yang terbaik akan diberikan para hakim MK, itu tujuan utama kami dalam aksi ini," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dikpora Bantul mengungkap kelebihan daya tampung sekolah menjadi salah satu penyebab puluhan SD dan SMP kekurangan murid pada SPMB 2026.
KAI memberikan diskon tiket kereta api 20 persen di Railway Technology Indonesia 2026 untuk sejumlah perjalanan di Jawa dan Sumatera.
Tiga pasangan suami istri berpeluang bersaing dalam Pilur 2026 di Gunungkidul. Penetapan calon lurah dijadwalkan pada 8 September 2026.
Tiga atlet voli pantai DIY mengikuti pelatnas di Sentul untuk persiapan Asian Games 2026 dan ditargetkan meraih medali.
Polda Metro Jaya menggandeng Puslabfor untuk mengungkap penyebab kematian Sutrimo. Polisi masih mendalami sejumlah fakta dan mengimbau keluarga melapor jika men
Tren kebakaran lahan di Sleman selama sembilan tahun terakhir menunjukkan pola fluktuatif. Musim kemarau panjang menjadi salah satu pemicu utama lonjakan kasus