Bank Jateng Borong Penghargaan Infobank 2026
Bank Jateng kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih tiga penghargaan dalam ajang “15th Infobank-Isentia Digital Brand Awards 2026.
Cike adalah salah satu perempuan ini rutin berobat dengan menggunakan layanan dari Program JKN. - IST
JOGJA—Munculnya penyakit dalam diri seseorang dapat menyerang kapan saja. Hadirnya Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKN) membantu peserta untuk mengakses layanan kesehatan tanpa mengkhawatirkan biaya. Terlebih, ketika peserta JKN melakukan pengobatan secara rutin.
Cike adalah salah satunya, perempuan ini rutin berobat dengan menggunakan layanan dari Program JKN. Awalnya, dirinya didiagnosa menderita radang pada empedu. Setelah dilakukan pengobatan, muncul diagnosa baru pada ususnya. Cike mengatakan, ia rutin berobat ke fasilitas kesehatan menggunakan penjaminan dari Program JKN.
“Awalnya didiagnosa dulu itu pernah sakit peradangan pada empedu. Terus saya ke RS Islam Hidayatullah. Setelah dilakukan pengobatan itu selesai, ternyata ada sakit lagi. Itu saya rutin sekali untuk berobat kesini,” ungkap Cike, Selasa (09/07).
BPJS Kesehatan sebagai badan penyelenggara Program JKN, terus berupaya memberikan kemudahan akses layanan pada peserta. Fasilitas kesehatan tidak diperkenankan untuk mengenakan iur biaya dan meminta berkas fotokopi kepada peserta. Senada dengan pernyataan tersebut, Cike mengatakan bahwa tidak ada biaya yang ditagihkan selama pengobatan dan tidak pernah diminta memberikan berkas fotokopi ketika mendaftar.
“Tidak pernah diminta biaya. Sama sekali tidak pernah. Diminta persyaratan dengan fotokopi saat mendaftar juga tidak. Ini saya hanya menunjukkan dari online-nya (Aplikasi Mobile JKN-red) saja,” ungkapnya.
Cike juga sering memanfaatkan antrean online yang terdapat di Aplikasi Mobile JKN. Menurutnya, layanan dan antrean online ini sangat membantu. Cike bisa mengambil antrean dari rumah bahkan satu hari sebelum rencana kunjungannya ke rumah sakit.
“Saya sudah lama menggunakan Aplikasi Mobile JKN. Pada awalnya saya periksa soal keluhan saya, jadi saya periksa kesini. Terus disini, sudah langsung diarahkan untuk menggunakan Aplikasi Mobile JKN,” tuturnya.
Melalui antrean online peserta dapat mengetahui kapan ia akan dilayani. Pergerakan antrean pun dapat dipantau melalui aplikasi. Peserta yang sudah mengambil antrean melalui Aplikasi Mobile JKN seperti Cike, bisa memantau pergerakan antrean dan memperkirakan kapan akan mendapat layanan. Sehingga peserta bisa datang ke fasilitas kesehatan jika waktu layanannya sudah dekat.
“Perbedaan dulu dengan sekarang juga ada. Sudah jauh sekali perbedaannya. Mudah dan praktis dan bisa melihat antrean langsung dari Aplikasi Mobile JKN. Sehingga, saya juga tidak terburu-buru,” tegasnya.
Menurut Cike, berbagai fitur pada Aplikasi Mobile JKN sangat membantunya.
“Inovasi ini membantu sekali. Aplikasi Mobile JKN ini biasanya saya gunakan untuk melihat riwayat pelayanan sama untuk menunjukkan kartu secara online. Sekarang cukup menunjukkan KIS Digital yang ada di Aplikasi Mobile JKN,” kata Cike.
Cike mengungkapkan bahwa inovasi yang dihadirkan dalam Program JKN ini memudahkan baginya dalam mengakses layanan kesehatan. Dirinya berharap semoga ada inovasi lain yang membantu peserta JKN.
“Semoga semakin ada inovasi-inovasi lagi yang memudahkan kami. Sekarang sudah bagus. Semoga ada inovasi lain yang bermanfaat juga,” tutup Cike. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bank Jateng kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih tiga penghargaan dalam ajang “15th Infobank-Isentia Digital Brand Awards 2026.
Sapi kurban Presiden Prabowo dikirim ke Pulau Laut Natuna lewat perjalanan laut penuh tantangan demi warga perbatasan Indonesia.
Kasus Little Aresha memasuki babak baru setelah Polresta Jogja menambah pasal UU Sisdiknas dan memeriksa 152 saksi.
Sekolah Rakyat Prabowo resmi beroperasi di 166 lokasi. Sebanyak 15.945 siswa menikmati pendidikan gratis berbasis asrama.
Program MBG menyerap 1,28 juta pekerja dan melibatkan ribuan UMKM serta koperasi dalam rantai pasok pangan nasional.
Pemerintah menambah kuota Magang Nasional 2026 menjadi 150 ribu peserta. Batch I ditargetkan mulai berjalan Juli 2026.