Advertisement
Fokus Komoditas Cabai, BMKG Gelar Sekolah Lapang Iklim Di Kulonprogo
Tanaman cabai - Ilustrasi - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) di Kulonprogo. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian setempat.
SLI merupakan program yang dirancang untuk memberikan edukasi dan pemahaman kepada petani dan masyarakat tentang perubahan iklim agar mereka dapat beradaptasi dan memitigasi dampaknya terhadap sektor pertanian.
Advertisement
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan di tengah laju perubahan iklim yang kian cepat, petani Indonesia harus beradaptasi secepat mungkin, mengingat dampak perubahan iklim sudah sangat terasa, utamanya di sektor pertanian.
"Salah satu dampaknya adalah siklus hidrologi semakin cepat, angin semakin kencang, cuaca ekstrem, dan gelombang tinggi membuat abrasi. Nah, ini berdampak pada tanaman pertanian termasuk komoditas cabai," ujarnya melalui keterangan tertulis, Sabtu (24/8/2024).
Langkah adaptasi yang harus dilakukan oleh para petani, antara lain menyesuaikan pola tanam. Misalnya ketika BMKG telah memberikan informasi prakiraan musim kemarau sejak enam bulan sebelumnya, para petani dapat bersiap dan menyesuaikan jenis tanaman yang ditanam. “Langkah adaptasi ini akan meminimalkan kerugian bagi petani dan menjauhkan dari potensi gagal panen,” katanya.
Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022 mencatat, produksi tanaman sayuran, termasuk cabai di DIY dalam setahun mencapai 3.365,51 ton cabai keriting, dan 1.519,77 ton cabai rawit.
Perihal laju perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem, BMKG mampu memberikan informasi prakiraan cuaca tiga hari hingga sepekan. Informasi ini dapat dijadikan acuan bagi para petani untuk melakukan persiapan dan langkah mitigasi terhadap tanamannya agar tidak terdampak buruk.
"Kalau ada hujan lebat tanaman cabainya harus diapakan petani bisa lebih siap. Jika cabai langka maka harganya akan naik dan memengaruhi harga lainnya dan dapat menyebabkan inflasi," ujarnya.
BACA JUGA: KPU Keluarkan PKPU Nomor 8 Tahun 2024, Ini Sejumlah Pasal yang Terdampak
Kabid Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Wiwin Suryawati, menuturkan DIY menjadi salah satu provinsi lumbung pangan dan ketahanan pangan menjadi prioritas utama yang harus dijaga.
Untuk meningkatkan produksi pertanian harus memperhatikan perubahan iklim. SLI tematik adalah inisiatif yang tepat dan relevan dalam menghadapi tantangan tersebut.
"Dengan memfokuskan pada komoditas cabai di sini, kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang informasi cuaca dan iklim dari BMKG, tapi juga memberdayakan petani untuk mengadaptasi teknik bertani sesuai dengan kondisi iklim yang terus berubah," katanya.
Agenda SLI melibatkan Bank Indonesia Perwakilan DIY, petugas penyuluh lapangan, dan petani cabai dari Kelompok Tani Gisik Pranaji, Sido Muncul, Gisik Wonotoro, Bangun Karyo, dan Janjang Wetan dengan jumlah peserta 55 orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Potongan Jenazah Ditemukan di Kapal Thailand yang Diserang Rudal
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jamnya
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jam Lengkapnya
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
Advertisement
Advertisement








