Laga 72 Menit Berakhir, Yusuf Gagal ke Babak Utama Malaysia Masters
Muhammad Yusuf tersingkir di kualifikasi Malaysia Masters 2026 setelah kalah tipis 19-21 dari wakil Tiongkok dalam laga 72 menit.
Ilustrasi sapi perah./ bisnis.com
Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Ketahanan Pangan dan Petenakan (DKPP) Kabupaten Bantul berharap ada bantuan sapi perah dari Kementrian Pertanian dalam waktu dekat. Pasalnya, pada 2023 dan 2024, DKPP Kabupaten Bantul menyebut jika populasi sapi perah sangat sedikit dan bahkan tidak ada.
"Padahal pada era 1980an, banyak sapi perah di Kabupaten Bantul. Namun, dalam perkembangannya saat ini, populasinya tidak ada," kata Kepala DKPP Kabupaten Bantul Joko Waluyo, Rabu (13/11/2024).
Sementara berdasarkan data BPS, jumlah sapi perah di Kabupaten Bantul terus mengalami penurunan. Pada 2021, BPS mencatat ada 68 ekor sapi perah. Jumlah tersebut menurun menjadi 29 ekor sapi perah pada 2022. Lalu pada 2023 ada 28 ekor sapi perah dan 2024 tidak ada.
Joko sendiri enggan menyebutkan kenapa sapi perah di Bantul terus menurun, bahkan saat ini tidak ada. Meski demikian, Joko mengaku pihaknya tetap berkeinginan agar mendapatkan bantuan sapi perah tersebut, kata Joko, sampai saat ini belum terealisasi. DKPP akan berusaha meminta bantuan dari Kementan agar mendapatkan bantuan berupa sapi perah secepatnya.
"Karena kami melihat, di Bantul potensial untuk bagi pengembangan sapi perah," jelas Joko.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Bantul Novriyeni mengatakan, saat ini sejatinya populasi sapi perah di Kabupaten Bantul masih ada. Hanya saja jumlahnya tidak sampai belasan.
"Sejauh ini hanya ada beberapa. Seperti di Banguntapan itu ada dengan skala kecil, sekitar 10an sapi perah. Itu pun, kandangnya dilakukan modifikasi, karena sapi perah butuh treatmen khusus, utamanya dalam hal suhu," katanya.
Yeni mengungkapkan, sejatinya Bantul pernah berjaya dengan sapi perahnya pada 1980an. Hanya saja, dalam perkembangannya, para peternak memilih membudidayakan sapi potong, ketimbang sapi perah. Sebab, selain karena kondisi alam yang tidak cocok, harga susu yang dibeli oleh para tengkulak cenderung rendah.
"Oleh karena itu, akhirnya populasinya terus menurun. Peternak lebih suka membudidayakan sapi potong. Karena perawatannya juga lebih mudah dan harganya cenderung tinggi," ungkapnya.
Meski ada kendala dalam hal cuaca, Yeni mengaku pengembangan sapi perah di Bantul sejatinya masih memungkinkan. Para peternak yang ingin mengembangkan sapi perah harus melakukan modifikasi kandang, karena sapi perah butuh suhu ideal antara 22 °C–24 °C. Selain itu, sapi perah pun khusus yang merupakan sapi peranakan sapi negara sub tropis dengan lokal.
"Tinggal dimodifikasi saja kandangnya. Ditambah kipas, agar suhunya tetap terjaga. Selain itu, hijauan pakannya harus lebih banyak, karena diambil susunya dan minumnya juga harus banyak,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Muhammad Yusuf tersingkir di kualifikasi Malaysia Masters 2026 setelah kalah tipis 19-21 dari wakil Tiongkok dalam laga 72 menit.
Jadwal KRL Jogja–Solo 20 Mei 2026 lengkap semua stasiun dari Yogyakarta hingga Palur. Cek jam berangkat terbaru di sini.
Jadwal KRL Solo–Jogja 20 Mei 2026 lengkap semua stasiun dari Palur ke Tugu. Cek jam berangkat terbaru dan tarif Rp8.000.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.