Celurit Diselipkan di Pinggang, Pemuda Kasihan Ditangkap di Sleman
Pemuda 20 tahun ditangkap di Palagan Sleman setelah kedapatan membawa celurit saat dini hari dalam kondisi diduga mabuk.
Petani mencabut benih untuk ditanam. - ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, BANTUL—Cuaca ekstrem yang menerjang Bantul dalam beberapa hari terakhir tidak hanya menyebabkan sejumlah wilayah longsor dan pohon tumbang, namun juga merusak ratusan hektare lahan pertanian di Kabupaten Bantul.
Atas kondisi ini Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul tidak bisa berbuat banyak.
Kepala DKPP Kabupaten Bantul Joko Waluyo mengatakan dari pengamatan yang dilakukan pihaknya, setidaknya ada 200 hektare lahan pertanian yang ada di Poncosari,Srandakan , Bantul terendam. Jumlah itu kemungkinan bertambah untuk wilayah lain di Kabupaten Bantul.
"Karena saat ini kami masih melakukan pendataan. Khusus untuk Poncosari, tanaman padi yang terendam tersebut rata-rata berusia 15 hari. Dan, kami sendiri belum bisa memastikan apakah tanaman tersebut masih bisa diselamatkan atau tidak. Kami nanti akan cek apakah tanaman tersebut masih bisa diselamatkan. Setelah itu kami baru bisa melakukan follow up atas kejadian tersebut," kata Joko Waluyo, Senin (16/12/2024).
Kepala Bidang Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan DKPP Kabupaten Bantul Himawan Eko Handrianto mengungkapkan, jika lahan pertanian yang terendam tidak hanya ada di Poncosari,Srandakan tapi sejumlah lahan pertanian di wilayah lain.
BACA JUGA: Kompensasi Kenaikan PPN 12 Persen, Pemerintah Umumkan Bantuan Pangan dan Aneka Diskon
"Namun, untuk kondisinya saat ini sedang diteliti oleh teman-teman Balai Proteksi Tanaman Pertanian (BPTP), apakah masih bisa diselamatkan atau tidak. Selain itu, kami juga masih menunggu data dari teman-teman terkait dengan luasan lahan yang terendam," jelasnya.
Kepala BPBD Kabupaten Bantul Agus Yuli Herwanta mengatakan, jika hujan deras yang terjadi pada Minggu (15/12/2024) telah membuat adanya pergerakan tanah di empat titik di Kapanewon Dlingo, empat titik pergerakan tanah di Kapanewon Imogiri dan satu titik pohon tumbang di Kapanewon Banguntapan.
Selain itu juga ada dua kejadian laka air, yakni satu di Kapanewon Pleret, dan satu kejadian di Sedayu," jelasnya.
Menurut Agus, sejatinya pihaknya telah melakukan sejumlah antisipasi terkait dengan kemungkinan bencana hidrometrologi. Selain melakukan apel dan kesiagaan, pihaknya juga telah menyiapkan personel untuk standby mengatasi kejadian yang mungkin timbul.
"Selain itu, kami juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dalam menyikapi masalah tingginya curah hujan. Diharapkan petani juga mampu menyikapi adanya peningkatan curah hujan. Karena semua sudah diprediksi BMKG," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemuda 20 tahun ditangkap di Palagan Sleman setelah kedapatan membawa celurit saat dini hari dalam kondisi diduga mabuk.
Konsep halal tidak cukup dipahami sebatas label pada kemasan produk. Kehalalan harus dibangun dari niat dan kesadaran pelaku usaha.
Taeyang BIGBANG merilis album Quintessence setelah 9 tahun, berisi 10 lagu dan kolaborasi global lintas musisi.
xAI meluncurkan Grok Build, AI coding berbasis terminal untuk saingi Claude Code dengan fitur plan mode dan sub-agent.
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Grand Rohan Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka Senin (18/5)