18 Gerai KDMP Gunungkidul Lolos Verifikasi, 12 Lainnya Ditarget Rampung November
Sebanyak 18 dari 30 gerai KDMP di Gunungkidul telah selesai diverifikasi. Seluruh gerai belum beroperasi dan 12 lainnya ditargetkan diperiksa awal November.
Penjual beras di Pasar Tradisional. - Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Perdagangan Gunungkidul terus menggencarkan program Gerakan Kembali Belanja ke Pasar (Gebyar). Program ini dengan tujuan untuk menggeliatkan roda perekonomian di pasar tradisional.
Kepala Dinas Perdagangan Gunungkidul, Kelik Yuniantoro mengatakan, pasar tradisional memiliki peran yang penting di Masyarakat. Ia tidak menampik dengan adanya perkembangan teknologi maupun persaingan dengan toko modern, maka eksistensi dari pasar ini mulai berkurang.
BACA JUGA: Bulan Imunisasi di Gunungkidul Capai 93 Persen
Oleh karena itu, pihaknya melakukan inisiasi dengan program Gebyar agar Masyarakat kembali mau berbelanja ke pasar sehingga geliat perekonomian tetap bisa berjalan. “Dengan Gebyar, kami ingin mengajak Masyarakat kembali meramaikan pasar,” kata Kelik kepada wartawan, Minggu (21/9/2025).
Menurut dia, pasar tradisional bukan sekadar tempat berjual beli. Namun, keberadaannya juga sebagai tempat berinteraksi sosial Masyarakat, baik antar pedagang, pedagang dengan pembeli atau sesama pembeli.
“Tentunya kami juga mendukung dengan beberapa program untuk menyukseskan Gebyar. Sebab, juga ada program rehabilitasi pasar tradisional agar representatif bagi pembeli maupun menjual,” katanya.
Ditambahkan Kelik, program gebyar tidak hanya untuk menjaga omzet para pedagang. Namun, dampak dari peningkatan pedagang inilah juga ikut berperan dalam menjaga keberlangsungan roda perekonomian di Bumi Handayani.
“Jadi banyak dampaknya karena roda ekonomi tetap terjaga,” katanya.
Kelompok Subtansi Pendapatan, Bidang Pengelolaan Pasar, Dinas Perdagangan Gunungkidul, Ramelan Supama mengatakan, program Gebyar merupakan langkah untuk menjaga eksistensi pasar tradisional di Bumi Handayani. Ia tidak menampik, dari tahun ke tahun ada penurunan tingkat kunjungan ke pasar sehingga berpengaruh terhadap aktivitas jual beli maupun pendapatan para pedagang.
“Memang tren menurun. Makanya, ada program agar Masyarakat bisa kembali membeli ke pasar,” katanya.
Menurut Ramelan, menurunnya tingkat kunjungan ke pasar tidak lepas perubahan pola perilaku Masyarakat. Di tengah perkembangan informasi dan teknologi ikut memberikan dampak karena jual beli secara online berkembang dengan pesat.
“Masyarakat sekarang banyak yang membeli secara online sehingga jarang ke pasar. Kondisi ini juga makin diperparah dengan tingkat daya beli yang menurun sehingga makin berdampak terhadap kunjungan ke pasar trandisional,” katanya. (David Kurniawan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 18 dari 30 gerai KDMP di Gunungkidul telah selesai diverifikasi. Seluruh gerai belum beroperasi dan 12 lainnya ditargetkan diperiksa awal November.
QRIS telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pembayaran sehari-hari. Perannya bahkan telah menggantikan sistem pembayaran tunai.
Longsor di Desa Tamanayu, Lumajang, menewaskan Imron Rosadi dan anaknya Hilya setelah rumah mereka tertimpa material longsor.
Menperin Muhammad Sarmuji meminta Kadin memperkuat eksportir baru, investasi industri hulu, dan hilirisasi.
Kemenhub memeriksa kelaikan 2.140 kapal untuk angkutan laut Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 guna memastikan keselamatan pelayaran.
BMKG mencatat curah hujan ekstrem mencapai 349 mm di Cilacap. Hujan lebat memicu banjir dan longsor di Cilacap-Banyumas.