WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Prevalensi penyakit jantung di DIY sebesar 1,67%, jauh lebih tinggi dibanding prevalensi nasional. Gaya hidup dan pola makan dinilai memengaruhi tingginya prevalensi penyakit jantung di DIY.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang mengacu pada hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi di DIY tersebut merupakan yang tertinggi di Indonesia. Posisi kedua ditempati Papua Tengah dengan prevalensi 1,65%, disusul DKI Jakarta sebesar 1,56%.
Plt Kepala Dinas Kesehatan DIY, Achmad Ahadi, menjelaskan, dari data seluruh rumah sakit di DIY, pada 2024 tercatat 1.120 kasus penyakit jantung dengan 178 kasus meninggal. Jumlah ini menurun dibandingkan 2023 yang mencatat 1.673 kasus dan 210 kasus meninggal.
“Data bersumber dari Surveilans Terpadu Rumah Sakit menunjukkan jumlah pasien yang dirawat karena penyakit jantung koroner dan korban meninggal yang dirawat di rumah sakit. Data tidak secara jelas memilah pasien berasal dari DIY atau luar DIY,” ujarnya, Jumat (10/10/2025).
Prevalensi penyakit jantung di DIY sebesar 1,67%, lebih tinggi dari prevalensi nasional yang hanya berada di angka 0,85%. Berdasarkan kelompok umur, penderita terbanyak berasal dari kelompok usia di atas 60 tahun. “Namun penyakit jantung koroner pada usia muda juga sudah ada,” paparnya.
Pada 2024, kelompok usia 60–69 tahun penderita penyakit jantung sebanyak 480 kasus, sedangkan pada kelompok usia 70 tahun ke atas sebanyak 311 kasus. Pada tahun yang sama juga tercatat satu kasus dari kelompok usia 1–4 tahun dan empat kasus di kelompok usia 1–11 bulan.
Beberapa penyebab tingginya penyakit jantung di antaranya gaya hidup tidak sehat, termasuk pola makan dan minimnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta kelebihan berat badan hingga obesitas. Penyakit jantung juga kerap disertai penyakit penyerta, seperti diabetes melitus yang paling banyak ditemukan.
Adapun upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan DIY untuk menekan prevalensi penyakit jantung di antaranya melalui sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, pemeriksaan kesehatan gratis, serta skrining penyakit tidak menular. “Kami juga memperkuat pelayanan jantung dan pembuluh darah di kabupaten/kota,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.
Samsung Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan fitur kesehatan berbasis AI untuk trail running, diving, dan pemantauan kebugaran harian.
Fenomena upwelling di Waduk Kedung Ombo Boyolali menyebabkan 10 ton ikan mati dan kerugian petani KJA mencapai Rp247 juta.