Jembatan Jonge Diperbaiki, Jadi Prioritas Infrastruktur di Gunungkidul
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih meninjau pembangunan jembatan Jonge di Kalurahan Pacarejo, Semanu, Jumat, untuk mengatahui perkembanganya.
Foto ilustrasi anak sakit flu. - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus penyakit ISPA di Gunungkidul meningkat seiring perubahan cuaca cepat di masa pancaroba. Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi penyebaran penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama masa pancaroba.
Pasalnya, tren keluhan penyakit seperti batuk, pilek, hingga demam mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
“Memang ada peningkatan kasus ISPA di pelayanan kesehatan sehingga kesehatan masyarakat harus tetap terjaga,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul, Sidiq Heru Sukoco, Senin (13/10/2025).
Meski tidak menyebutkan jumlah kasus secara rinci, Sidiq mengakui adanya tren peningkatan penyebaran ISPA di masyarakat. Kondisi tersebut tidak lepas dari cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini.
Menurut dia, saat ini wilayah Gunungkidul memasuki masa pancaroba, di mana perubahan cuaca kerap terjadi dengan cepat. “Kondisi panas lalu tiba-tiba turun hujan harus diwaspadai karena rentan menyebabkan serangan penyakit ISPA,” ujarnya.
Sidiq menambahkan, penyebaran ISPA tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat, tetapi juga di lingkungan sekolah. Ia mencontohkan satu sekolah di Kecamatan Ngawen yang melaporkan puluhan siswa mengalami batuk, pilek, dan demam dalam waktu hampir bersamaan.
“Ini bukan masalah dari program makan bergizi gratis, tapi memang karena kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga berpengaruh terhadap kesehatan para siswa,” jelasnya.
Untuk mengurangi risiko tertular penyakit, ia mengimbau masyarakat agar terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga diingatkan untuk memperhatikan pola makan bergizi seimbang.
“Jangan lupa berolahraga agar tubuh tetap fit. Saat vitalitas terjaga, maka tidak mudah terserang penyakit,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sumadi, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan BMKG DIY terkait pergantian musim dan potensi cuaca ekstrem di wilayah Gunungkidul. Berdasarkan hasil koordinasi, musim hujan diperkirakan mulai dasarian ketiga Oktober ini.
“Akhir bulan sudah memasuki musim hujan. Sekarang masih masa pancaroba atau peralihan dari kemarau ke penghujan,” ujar Sumadi.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana di masa pancaroba, seperti hujan deras disertai angin kencang.
“Potensinya tidak hanya hujan, tetapi juga angin kencang yang bisa menyebabkan pohon tumbang dan kejadian lain,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih meninjau pembangunan jembatan Jonge di Kalurahan Pacarejo, Semanu, Jumat, untuk mengatahui perkembanganya.
KPK memperpanjang penahanan Bupati nonaktif Tulungagung Gatut Sunu Wibowo terkait dugaan korupsi pemerasan OPD.
Mendag Budi Santoso memastikan impor bahan baku plastik berupa nafta dari AS mulai masuk Indonesia pada pertengahan Mei 2026.
Kemenkes mengingatkan cara aman menyimpan dan mengolah daging kurban agar terhindar dari bakteri dan penyakit zoonosis saat Iduladha.
Puluhan warga Garongan datangi Kantor Bupati Kulonprogo dan mendesak Lurah Garongan dinonaktifkan terkait dugaan pungli.
Kemenkes menyiapkan tiga langkah untuk memperkuat peran bidan dalam menangani kesehatan mental ibu hamil dan ibu menyusui.