Makna Podhang Ngisep Sari, Ikon Gunungkidul yang Berkibar saat HUT RI
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Sejumlah petani di Kalurahan Rejosari, Semin sedang menanam padi di musim pertama tanam di awal musim penghujan. Foto diambil Selasa (11/11/2025). Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Anggota DPRD Gunungkidul mendorong pemkab untuk menggalakan program pertanian terpadu. Langkah ini sebagai upaya meningkatkan kemandirian pangan serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Bumi Handayani.
Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini mengatakan, konsep pertanian terintegrasi sangat cocok dengan karakteristik wilayah di Gunungkidul. Oleh karena itu, ia mendorong agar menggalakan program yang menggabungkan berbagai sub sektor pertanian mulai dari tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perikanan hingga pengolahan hasil dalam satu kesatuan yang saling mendukung.
“Gunungkidul memiliki potensi pertanian yang besar, maka harus terus dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Endang, Rabu (12/11/2025).
Menurut dia, konsep pertanian terpadu memiliki banyak manfaat karena saling terintegrasi. Sebagai contoh, untuk kotoran ternak bisa dipergunakan menjadi pupuk dalam pemeliharaan tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai dan lainnya.
Di sisi lain, batang-batang dari tanaman pangan setelah dipanen dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak sehingga ada imbal balik yang saling menguntungkan. Konsep ini memiliki banyak keunggulan seperti peningkatan pendapatan petani melalui diversifikasi usaha. mengoptimalkan suber daya yang dimiliki sehingga dapat memperkuat ketahanan pangan di masyarakat.
“Tentunya juga bisa juga untuk menjaga kelestarian lingkungan karena tidak menggunakan pupuk kimia dalam pengolahan pertanian,” kata Endang.
Guna mewujudkan program pertanian terpadu, terus mendorong bupati beserta jajaran untuk membuat regulasi berkaitan dengan program ini. “Tentunya juga harus didukung dengan anggaran serta ada kerja sama dengan ahli dari akademisi sehingga pelaksanaannya bisa dioptimalkan,” katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan, untuk program pertanian terpadu menjadi agenda penting yang harus dijalankan. Ia tidak menampik, konsep ini tidak hanya untuk memperkuat ketahan pangan, tapi juga sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan petani.
“Tentu kami akan menggalakan program pertanian terpadu,” kata Rismiyadi.
Program pertanian terpadu tidak hanya menyasar ke petani. Pasalnya, masyarakat secara umum juga akan dilibatkan, salah satunya lewat program Gerakan Pengembangan Pangan dan Gizi (Gerbang Pagi).
“Konsep pertanian terpadu yang melibatkan masyarakat adalah dengan memafaatkan lahan perkarangan di sekitar rumah,” kata Rismiyadi.
Menurut dia, dengan pemanfaatan area perkarangan juga bisa untuk pertanian terintegrasi mulai dari penanaman tanaman pangan atau sayuran. Selain itu, dapat dikombinasikan dengan peternakan ayam skala kecil hingga budi daya kolam ikan.
“Program ini digalakkan juga karena adanya potensi kekurangan stok bahan pangan karena program makan bergizi gratis, makanya pertanian terpadu terus digalakan dengan menafaatkan perkarangan rumah. Tujuannya agar, warga bisa memenuhi kebutuhan secara mandiri,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Khalyana Zahira, siswi MAN 1 Lubuklinggau, berhasil menjadi Paskibraka Nasional 2026 dan bertugas pada upacara HUT ke-81 RI.
Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran harus berjalan beriringan dalam Malam Tirakatan HUT ke-81 RI.
Sebanyak 683 dari 794 BTS terdampak gempa NTT telah pulih. Komdigi mencatat 111 site masih mengalami gangguan.
Simak jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo pada Senin 17 Agustus 2026, lengkap dengan jam keberangkatan dari Tugu dan Kutoarjo.
Sukardi meraih gelar doktor di FH UII setelah meneliti nalar hakim dalam pembuktian kesengajaan ganda pada kasus korupsi kolektif.