Sampah Visual di Jogja Harus Ditertibkan, Jangan Tunggu Laporan Warga
Penataan sampah visual di Jogja diminta dilakukan berkelanjutan. Sumbo Tinarbuko meminta penertiban reklame liar tak menunggu aduan warga.
Foto ilustrasi pengambilan rapor siswa SMA, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus mengimbau para ayah untuk terlibat langsung dalam pendidikan anak, salah satunya melalui gerakan ayah mengambil rapor di sekolah. Di sejumlah sekolah, keterlibatan ayah mulai meningkat, meski secara persentase masih terbatas.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Negeri 6 Kota Jogja, Abdul Rahman, menyampaikan partisipasi ayah dalam pengambilan rapor di sekolah tersebut berada di kisaran 30–40 persen. Dari total 864 siswa, sekitar sepertiga rapor diambil langsung oleh ayah.
“Jumlah ayah yang mengambil rapor sudah lebih banyak dibanding tahun lalu. Ada peningkatan beberapa persen karena memang ada edaran dan imbauan terkait gerakan ini,” ujarnya saat penerimaan rapor di SMA Negeri 6 Kota Jogja, Jumat (19/12/2025).
Rahman menjelaskan pihak sekolah telah menyampaikan imbauan kepada orang tua murid dua hari sebelum pembagian rapor. Imbauan tersebut disertakan bersama undangan pengambilan rapor untuk mendorong keterlibatan ayah.
Dia menilai, kehadiran ayah dalam pengambilan rapor berpengaruh terhadap pemahaman orang tua atas perkembangan belajar anak, meski belum semua ayah dapat hadir karena faktor pekerjaan. Menurutnya, keterlibatan ayah membantu orang tua memahami proses pembelajaran anak di sekolah.
“Sekolah sangat mendukung gerakan ayah ambil rapor. Secara psikologis, ketika ayah hadir dalam momen penting anak, semangat belajar dan kedekatan psikologis anak akan meningkat,” katanya.
Selain berdampak pada motivasi belajar, menurutnya kehadiran ayah juga memperkuat relasi orang tua dan anak, terutama jika diikuti komunikasi lanjutan di rumah. Dengan terlibat langsung, ayah diharapkan lebih memahami kebutuhan, kendala, serta potensi anak dalam proses belajar.
Sementara itu, orang tua siswa kelas X, Fendy Irawan, mengaku rutin mengambil rapor anaknya, terutama untuk anak laki-laki. Dia menyebut pembagian peran antara ayah dan ibu dalam keluarga menjadi alasan keterlibatannya.
“Saya punya tiga anak. Biasanya anak perempuan diambilkan rapornya oleh istri, sementara anak laki-laki saya yang ambil. Jadi memang dibagi perannya,” katanya.
Fendy menilai gerakan ayah ambil rapor menjadi sarana mendorong keterlibatan ayah, meski kendala waktu kerja masih menjadi tantangan utama.
“Sebagian besar ayah kan bekerja, jadi soal waktu memang jadi tantangan. Tapi kalau ada kesempatan, sebaiknya ayah ikut terlibat karena dampaknya bagus untuk kedekatan dengan anak,” katanya.
Menurut Fendy, pengambilan rapor perlu diikuti dengan diskusi antara ayah dan anak, terutama terkait capaian nilai dan kendala belajar. Diskusi tersebut menjadi ruang evaluasi bersama agar prestasi anak ke depan lebih baik.
“Kadang ayah itu jarang ngobrol dengan anak. Dengan momen seperti ini, komunikasi bisa lebih dekat dan hubungan keluarga juga jadi lebih baik,” katanya.
Sementara itu, ayah murid kelas II SD Muhammadiyah Karangkajen, Nashrul Nasikh, yang juga mengambil rapor putranya, menilai gerakan ayah ambil rapor memberi akses langsung bagi ayah untuk mengetahui perkembangan akademik dan karakter anak.
“Ya bagus, jadinya bapak-bapak bisa tahu langsung hasil nilai anak, tahu langsung laporan karakter anak di sekolah dari wali kelasnya,” katanya.
Dia menilai ayah yang mengambil rapor memperoleh pemahaman lebih utuh terkait perkembangan akademik dan sosial anak di sekolah.
“Bapak-bapaknya bisa lebih tahu nilai pelajaran anak, laporan karakter anak di sekolah, apakah sering nakalin temannya, atau sebaliknya. Jadinya tahu apa yang harus disampaikan kepada anak, terutama kalau anaknya laki-laki. Kan kebanyakan karakternya lebih keras,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penataan sampah visual di Jogja diminta dilakukan berkelanjutan. Sumbo Tinarbuko meminta penertiban reklame liar tak menunggu aduan warga.
Zico sebut Jepang kini lebih kuat jelang lawan Brasil di Piala Dunia 2026. Samurai Biru tak lagi bisa diremehkan.
Sensus Ekonomi 2026 di Sleman resmi dimulai. Data usaha jadi dasar kebijakan dan arah pembangunan ekonomi daerah.
Kirab perpisahan 514 taruna Akmil di Magelang berlangsung meriah. Tradisi ini jadi simbol kedekatan taruna dan masyarakat.
Stasiun Gambir akan melayani KRL dan kereta jarak jauh. Transformasi ini menjadikannya hub transportasi terintegrasi di Jakarta.
SPMB SMP Gunungkidul 2026 buka jalur domisili 29 Juni. Aturan diperketat untuk cegah kecurangan KK tempel.