Advertisement
Surplus Beras, Petani Gunungkidul Pilih Simpan dalam Bentuk Gabah
Beras / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul mengklaim di 2025 ada surplus beras mencapai 116.191,9 ton. Meski demikian, tidak semua hasil panen langsung dikonversi menjadi beras karena banyak disimpan dalam wujud gabah yang dinilai lebih awet dan tahan lama.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, di Bumi Handayani terus mencatatkan surplus beras. Sebagai contoh di 2025, ada kelebihan kebutuhann beras sebanyak 116.191,9 ton.
Advertisement
Hasil ini terlihat dari akumulasi hasil panen yang mencapai 299.624 ton gabah kering giling. Dia menjelaskan, dengan penyusutan sekitar 0,4% per kilonya, maka saat dikonfersikan menjadi beras menjadi sekitar 179.774,4 ton.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) di 2025, penduduk di Bumi Handayani sebanyak 804.842 jiwa. Adapun kebutuhan beras per orang sekitar 79 kilogram per tahun sehigga kebutuhan total mencapai 63.582,5 kilogram beras dalam setahun.
BACA JUGA
“Makanya kalau hasil produksi dikurangi jumlah kebutuhannya, a masih ada surplus atau sisa sekitar 116.191,9 ton,” kata Raharjo, Minggu (11/1/2026).
Meski demikian, ia mengakui bahwa hasil panen tak serta merta dikonversi menjadi beras. Pasalnya, sesuai dengan kebiasaan petani di Kabupaten Gunungkidul banyak menyimpan dalam bentuk gabah sebagai Cadangan pangan.
Alasan penyimpanan dalam bentuk ini dilakukan karena dinilai lebih awet dan tahan lama. Namun, apabila dibutuhkan amak akan dijadikan beras untuk kebutuhan yang diperlukan.
“Kalau beras harus langsung dijual atau dikonsumsi. Sebab, kalau terlalu lama disimpan kualitasnya jadi tidak enak. Beda kalau masih dalam bentuk gabah, bisa lebih tahan lama,” katanya.
Menurut dia, surplus beras terjadi juga tidak lepas dari hasil panen milik petani yang bagus karena adanya kemarau basah. fenomena itu memberikan dampak positif terhadap luas tanam yang berujung pada peningkatan produksi gabah di Bumi Handayani.
Sebagai gambaran, di 2024, luas tanam mencapai 54.499 hektare. Sedangkan, tahun lalu, luasannya meningkat menjadi 55.576 hektare.
“Luasan tanam yang meningkat, ikut berdampak terhadap tingkat produktivitas. Sebab, pada 2024 lalu, produksinya hanya 269.841 ton gabah kering giling.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi menambahkan, terus berupaya meningkatkan produktivitas gabah di Kabupaten Gunungkidul. Capaian produksi padi tahun ini menjadi bukti konsistensi kerja petani dan aparatur pertanian di lapangan untuk memperkuat ketahanan pangan di masyarakat.
“Kami ingin memastikan program ketahanan pangan tetap berjalan baik, mulai dari penyediaan benih, pupuk, hingga mitigasi risiko cuaca ekstrem. Jadi, hasilnya bisa dilihat dengan hasil panen yang lebih optimal,” kata Rismiyadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Penangkapan Maduro Jadi Alarm Ketahanan Nasional Negara Berkembang
Advertisement
Malaysia Perkenalkan Panda Raksasa Baru Chen Xing dan Xiao Yue
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



