Advertisement

Kemiskinan di Dlingo Ditekan Lewat Agroforestry dan Kelapa Kopyor

Yosef Leon
Rabu, 04 Februari 2026 - 21:17 WIB
Abdul Hamied Razak
Kemiskinan di Dlingo Ditekan Lewat Agroforestry dan Kelapa Kopyor Ilustrasi kemiskinan. - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kapanewon Dlingo, Kabupaten Bantul, mulai mengarahkan strategi pengentasan kemiskinan melalui penguatan sektor perkebunan dan agroforestry berbasis kalurahan. Upaya ini ditempuh menyusul masih tingginya jumlah rumah tangga miskin di kawasan perbukitan tersebut.

Pelaksana Tugas Panewu Dlingo, Marji Hidayat, mengungkapkan berdasarkan data terbaru terdapat 21 rumah tangga kategori sangat miskin, 4.025 rumah tangga miskin, serta 8.734 rumah tangga rentan miskin. Sementara jumlah rumah tangga mampu tercatat hanya 318 dari total 40.524 penduduk pada 2025.

Advertisement

“Data ini menjadi pijakan kami mendorong kalurahan lebih serius mengelola potensi lokal, khususnya perkebunan dan kehutanan rakyat, sebagai solusi kemiskinan struktural,” ujar Marji, Rabu (4/2).

Salah satu kalurahan yang mulai merasakan dampak positif adalah Mangunan. Lurah Mangunan, Aris Purwanto, mengatakan pengelolaan aset masyarakat melalui agroforestry sudah berjalan dan mulai memberikan manfaat ekonomi.

“Tanaman seperti jati dan mahoni memang tidak langsung menghasilkan, tetapi Mangunan sudah mulai merasakan hasilnya. Tantangan berikutnya adalah mengelola potensi dari hulu ke hilir, terutama dikaitkan dengan sektor pariwisata,” kata Aris.

Ia menilai percepatan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata menjadi kunci agar manfaat ekonomi semakin luas. Selain itu, Aris juga mendorong pergeseran konsep wisata dari mass tourism menuju quality tourism, termasuk peningkatan fasilitas destinasi serta penerangan jalan di jalur Imogiri yang merupakan jalan provinsi.

Tak hanya Mangunan, Kalurahan Jatimulyo juga mengembangkan komoditas perkebunan sebagai strategi pengentasan kemiskinan. Lurah Jatimulyo, Mukidi, menyebut wilayahnya memiliki sekitar 600 pohon kelapa kopyor yang berpotensi menjadi komoditas unggulan.

“Kelapa kopyor ini membutuhkan waktu tiga sampai empat tahun hingga berbuah, sehingga harus dirancang sebagai program jangka panjang,” ujarnya.

Dari total tersebut, sekitar 200 pohon telah produktif di kebun warga. Selain itu, sebanyak 2.000 bibit kelapa kopyor telah disalurkan kepada masyarakat sejak 2023 dengan dukungan APBD Kalurahan.

“Kini mulai berbuah. Ke depan, Kampung Kopyor akan kami kembangkan menjadi wisata edukasi pertanian agar warga bisa berjualan sekaligus merasakan dampak ekonomi langsung,” imbuh Mukidi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

BGN dan Kemensos Matangkan Penyaluran MBG bagi Lansia dan Disabilitas

BGN dan Kemensos Matangkan Penyaluran MBG bagi Lansia dan Disabilitas

News
| Rabu, 04 Februari 2026, 21:47 WIB

Advertisement

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

Wisata
| Rabu, 04 Februari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement