Advertisement
Pasar AS dan Eropa Melemah, Ekspor Bantul Turun
Foto ilustrasi impor dan eksport. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Kinerja ekspor Bantul pada 2025 mengalami tekanan akibat pelemahan ekonomi global. Meski jumlah pelaku ekspor tercatat relatif stagnan, sebagian besar eksportir melaporkan penurunan performa, terutama yang menyasar pasar Amerika Serikat dan Eropa.
Data permohonan Surat Keterangan Asal (SKA) menunjukkan terdapat 131 pelaku ekspor asal Bantul yang terdaftar dan mengurus SKA di DIY. Angka ini merepresentasikan eksportir utama, sementara satu pelaku ekspor besar dapat menaungi sejumlah pelaku usaha kecil yang belum mampu mengekspor secara mandiri.
Advertisement
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan DKUKMPP Bantul, Tutik Lestariningsih, menyampaikan hasil evaluasi 2025 menunjukkan tren penurunan kinerja dibandingkan tahun sebelumnya.
“Secara kinerja bisa dibilang turun. Ada yang stagnan, tapi kebanyakan turun karena ekonomi global memang sedang lesu,” ujarnya, Sabtu (7/2/2026).
BACA JUGA
Penurunan kinerja ekspor Bantul terutama dirasakan oleh pelaku usaha yang menargetkan pasar Amerika Serikat dan Eropa. Melemahnya permintaan dari dua kawasan tersebut berdampak langsung terhadap volume dan nilai ekspor.
Meski demikian, Tutik menjelaskan jumlah pelaku ekspor besar di Bantul tidak banyak berubah dalam beberapa tahun terakhir. Fluktuasi justru lebih terlihat pada pelaku usaha kecil yang baru merintis pasar ekspor.
“Kalau pelaku-pelaku usaha besar itu jumlahnya hampir tidak berubah banyak. Yang fluktuatif biasanya pelaku usaha kecil,” jelasnya.
Ia menambahkan, angka 131 pelaku ekspor yang tercatat di DIY belum termasuk eksportir yang mengurus SKA di Semarang atau Surabaya.
“Jadi satu pelaku ekspor bisa didukung oleh banyak pelaku usaha kecil yang nitip ekspor. Angka 131 itu yang besar dan terdaftar, belum termasuk yang mengurus SKA di Semarang atau Surabaya,” katanya.
Dalam tiga tahun terakhir, tren jumlah pelaku ekspor Bantul disebut belum menunjukkan peningkatan signifikan. Padahal potensi ekspor daerah dinilai cukup besar, terutama untuk produk olahan dan barang jadi.
Produk interior rumah asal Bantul, misalnya, masih memiliki pasar yang diminati di Eropa. Tutik menegaskan produk yang diekspor umumnya tidak berupa bahan mentah, melainkan minimal setengah jadi hingga produk olahan.
“Yang diekspor itu tidak boleh bahan mentah, minimal setengah jadi. Produk pertanian pun biasanya sudah dalam bentuk olahan dan itu cukup potensial,” imbuhnya.
Kepala DKUKMPP Bantul, Prapta Nugraha, mengatakan pihaknya terus mendorong lahirnya pelaku ekspor baru melalui fasilitasi dan pelatihan. Namun, dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi saat ini cenderung berkurang akibat kebijakan efisiensi anggaran.
“Upaya kami lebih ke fasilitasi, termasuk menyampaikan informasi pelatihan-pelatihan ekspor kepada pelaku usaha. Harapannya tetap ada regenerasi pelaku ekspor di Bantul,” ujarnya.
Dorongan regenerasi pelaku ekspor Bantul tersebut diharapkan mampu menjaga daya saing produk daerah di tengah tekanan ekonomi global, terutama pada sektor produk olahan dan interior rumah yang masih memiliki peluang pasar luar negeri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Imbas Konflik Timur Tengah, Philippine Airlines Terpaksa Setop 5 Rute
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KA Prameks Jogja Kutoarjo Terbaru Hari Ini Kamis 26 Maret 2026
- Gudang Sampah di Bantul Terbakar Akibat Ditinggal Beli Makan
- Jadwal KSPN Malioboro ke Obelix Sea View dan Pantai Ndrini 26 Maret
- Sampah Lebaran Sleman: Volume TPST Turun, Waspada Lonjakan 15 Persen
- Jumlah Penumpang Bandara YIA Melonjak 31 Persen Saat Puncak Arus Balik
Advertisement
Advertisement







