Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Foto ilustrasi Siswa Sekolah Dasar - Foto dibuat dengan Artificial Intelligence ChatGPT
Harianjogja.com, JOGJA—Program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) ditargetkan mulai diterapkan di seluruh sekolah di Daerah Istimewa Jogja (DIY) pada tahun ajaran 2026–2027 sebagai upaya penguatan karakter berbasis budaya lokal. Kebijakan ini didorong Pemerintah Daerah DIY agar nilai-nilai budaya Jogja terintegrasi sejak pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.
Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, menjelaskan implementasi PKJ yang mulai digulirkan sejak 2024 saat ini belum menjangkau semua satuan pendidikan. Arahan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menekankan percepatan penerapan agar program tersebut dapat berlaku merata pada tahun pelajaran mendatang.
“Kami tentu perlu berhati-hati dan melakukan uji coba. Kami diminta Sri Sultan HB X untuk segera dilakukan di semua sekolah, mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA/SMK dan juga perguruan tinggi,” ujarnya dalam pers rilis, Selasa (24/2/2026).
Hasil evaluasi terhadap uji coba PKJ di 10 sekolah menunjukkan dampak positif terhadap pembentukan karakter peserta didik. Pada indikator pengukuran karakter dengan skala 1 hingga 5, nilai rata-rata mencapai 4,1 yang dinilai cukup baik untuk tahap awal penerapan
“Artinya ini sudah bagus. Karena itu kami pun merasa sekolah lain perlu untuk melaksanakannya juga,” katanya.
PKJ sendiri merupakan konsep pendidikan nilai-nilai Jogja yang berfokus pada pembentukan karakter berbasis budaya lokal. Program ini merupakan tindak lanjut dari pidato Gubernur DIY pada 2019 mengenai pendidikan khas kebudayaan. Meski menggunakan istilah pendidikan, PKJ tidak akan menjadi mata pelajaran baru, melainkan diintegrasikan dalam pembelajaran yang sudah ada.
“Misalnya saja masuk dalam pelajaran Bahasa Jawa karena mungkin itu yang paling mudah. Tapi banyak juga materi PKJ yang dapat disisipkan pada mata pelajaran lain, misalnya pendidikan agama, di mana filosofi sankan paraning dumadi tentang asal usul dan tujuan manusia diciptakan. Begitu pula dengan pelajaran Bahasa Indonesia atau IPS yang dapat disisipi wacana Jogja,” paparnya.
Pada jenjang perguruan tinggi, materi Pendidikan Khas Kejogjaan dapat diberikan sejak masa pengenalan kampus. Beberapa perguruan tinggi di DIY disebut telah mulai menerapkan pendekatan tersebut, dengan harapan penguatan kajian budaya Jogja juga berkembang dari sisi akademik dan penelitian.
“Untuk pelaksanaannya, saat ini buku PKJ maupun media-media pembelajarannya sudah siap. Kami juga sudah menyiapkan serangkaian bimbingan teknis dan akan terus berlanjut kami lakukan,” imbuhnya.
Kesiapan perangkat pembelajaran tersebut menjadi bagian penting agar penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan di seluruh sekolah DIY pada tahun ajaran 2026–2027 dapat berjalan optimal sekaligus memperkuat identitas budaya daerah dalam sistem pendidikan formal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Kebakaran lahan kembali melanda Wukirsari, Bantul. BPBD mencatat 62 kasus kebakaran hingga 22 Juli 2026, mayoritas dipicu aktivitas manusia.
Google dikabarkan menaikkan harga Pixel 11 yang meluncur 12 Agustus 2026 akibat lonjakan biaya memori dan produksi global.
Harga bawang putih di Pasar Manis Purwokerto kembali naik menjadi Rp50.000 per kilogram. DPKUKM Banyumas terus memantau harga untuk mengendalikan inflasi.
CORE Indonesia menyebut masih ada 1 juta ton molase yang berpotensi mendukung bioetanol. Pemerintah menargetkan penerapan E10 mulai 2027.
Pilur Gunungkidul 2026 dipastikan tanpa perpanjangan pendaftaran. Sebanyak 99 bakal calon lurah mendaftar di 31 kalurahan.