Advertisement
Harga Elpiji Nonsubsidi Naik, Perhotelan di DIY Lakukan Efisiensi
Pekerja menata tabung Liquefied Petroleum Gas (LPG) di salah satu agen LPG di Jakarta, belum lama ini. Bisnis - Suselo Jati
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—PHRI DIY buru-buru susun strategi hemat energi hadapi lonjakan BBM dan elpiji nonsubsidi.
PHRI DIY langsung antisipasi tekanan kenaikan harga BBM nonsubsidi dan gas elpiji nonsubsidi 5,5 kg serta 12 kg yang membebani operasional hotel dan restoran di Kota Jogja. Langkah efisiensi jadi kunci bertahan di tengah daya beli masyarakat lesu pasca-Lebaran.
Advertisement
Wakil Sekretaris PHRI DIY, Wahyu Wikan Trispratiwi, sebut kenaikan energi picu efek domino pada logistik bahan baku dari Jawa Tengah hingga Jawa Barat. Sekitar 80% pasokan sayur mayur hotel-restoran di Kota Jogja berasal dari DIY dan Jawa Tengah, sehingga biaya distribusi langsung naik.
"Daya beli masyarakat sedang lesu setelah Lebaran. Meski makan adalah kebutuhan pokok, frekuensi masyarakat untuk makan di luar mulai berkurang," ujarnya Senin (20/4/2026).
BACA JUGA
Pelaku usaha kini beralih ke gas alam yang lebih hemat ketimbang elpiji tabung. Mereka juga cari pemasok alternatif stabil, sesuaikan komposisi dan porsi menu tanpa kurangi kualitas rasa.
Hingga kini, occupancy hotel belum terdampak karena memasuki low season pasca-Lebaran. "Kami masih memantau di bulan Mei nanti, apakah rangkaian long weekend akan mendatangkan wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi atau tidak," tambahnya.
Efisiensi ini mirip strategi low season sebelumnya, tapi kali ini fokus energi dan rantai pasok. Warga Jogja harap sektor pariwisata tetap kuat jaga harga terjangkau.
Sebelumnya PT Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga jual Liquefied Petroleum Gas (LPG) nonsubsidi untuk varian Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg di seluruh wilayah Indonesia mulai Sabtu, 18 April 2026.
Kenaikan yang cukup signifikan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dan gas di pasar internasional akibat eskalasi konflik geopolitik yang terus berlanjut.
Untuk wilayah Jawa dan Bali, harga Bright Gas 12 kg mengalami kenaikan sekitar 18,75 persen, melonjak dari Rp192.000 menjadi Rp228.000 per tabung, sementara varian 5,5 kg kini dibanderol seharga Rp107.000 dari harga sebelumnya.
Kenaikan harga ini merupakan penyesuaian pertama sejak akhir tahun 2023 dan besarannya bervariasi di tiap wilayah menyesuaikan biaya distribusi serta jarak dari terminal suplai.
Di wilayah luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi, harga Bright Gas 12 kg berkisar antara Rp230.000 hingga Rp238.000, sementara harga tertinggi tercatat di wilayah Indonesia Timur seperti Papua dan Maluku yang menembus angka Rp285.000 per tabung.
Meskipun harga komoditas nonsubsidi ini naik drastis, pemerintah melalui Pertamina memastikan bahwa harga elpiji subsidi tabung 3 kg tetap stabil dan tidak mengalami perubahan guna menjaga daya beli masyarakat kelas bawah dan UMKM.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KRL Solo-Jogja 20 April 2026, Cek Jam Berangkat Terbaru
- Tanpa Perluasan Lahan, TPST Modalan Bantul Tingkatkan Daya Olah
- Jadwal KRL Jogja-Solo 20 April 2026, Berangkat dari Tugu ke Palur
- Strategi DIY Tekan Anak Putus Sekolah, Libatkan Desa
- Kemarau Mendekat, Akses Air Bersih di Gunungkidul Digenjot
Advertisement
Advertisement







