Advertisement
Kemarau Datang, Harga Air Bersih di Gunungkidul Tembus Rp250 Ribu
Sebuah tangki air sedang mengisi bak penampungan air milik warga di Kalurahan Padukuhan Tlogo Warak, Giripurwo, Purwosari, Kamis (23 - 4). Ist
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Memasuki musim kemarau, permintaan air bersih di wilayah Kapanewon Purwosari mulai mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini berdampak pada naiknya harga air bersih yang diangkut menggunakan tangki, bahkan kini mencapai Rp250.000 per tangki untuk wilayah dengan akses sulit.
Salah seorang sopir tangki air, Sunardi, mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan sebenarnya sudah mulai terasa sejak pertengahan bulan puasa. Namun, intensitas pemesanan meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir seiring minimnya curah hujan.
Advertisement
“Pesanan sudah ada sejak puasa, tapi sekarang semakin banyak karena hujan sudah jarang turun,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Di wilayah Purwosari dan sekitarnya, terdapat sekitar 20 unit armada tangki air yang beroperasi melayani kebutuhan warga. Saat ini, setiap armada rata-rata mampu melakukan hingga lima kali pengiriman dalam sehari untuk memenuhi tingginya permintaan.
BACA JUGA
Sunardi menjelaskan, situasi ini berbanding terbalik saat musim hujan. Pada periode tersebut, warga masih dapat mengandalkan air tampungan dari hujan sehingga permintaan air tangki relatif rendah dan umumnya hanya untuk kebutuhan usaha.
“Saat musim hujan, paling hanya satu atau dua pesanan. Sekarang hampir semua untuk kebutuhan harian,” jelasnya.
Terkait harga, tarif pengiriman air bervariasi tergantung jarak dan kondisi medan. Untuk wilayah yang mudah dijangkau, harga berkisar Rp150.000 per tangki. Namun, di daerah dengan akses sulit seperti Kalurahan Giripurwo dan Kalurahan Giricahyo, harga bisa melonjak hingga Rp200.000 hingga Rp250.000 per tangki.
Sementara itu, Lurah Giripurwo, Supriyadi, mengungkapkan bahwa sejak akhir Maret, banyak bak penampungan air hujan milik warga yang sudah kosong. Akibatnya, masyarakat tidak memiliki pilihan selain membeli air bersih dari tangki.
Ia menambahkan bahwa wilayahnya memang dikenal minim sumber air alami, sehingga saat musim hujan warga sangat bergantung pada tampungan air. Namun ketika kemarau datang, kebutuhan air menjadi persoalan serius.
Berbagai upaya sebenarnya telah dilakukan, termasuk pembangunan sumur bor. Tahun lalu, bantuan pembangunan delapan sumur bor telah digulirkan, namun hanya dua titik yang berhasil mengeluarkan air.
“Sebagian besar gagal karena sumber air sangat sulit ditemukan,” ujarnya.
Meski ada sumur bor yang berhasil, distribusi airnya pun belum mampu menjangkau seluruh warga. Di salah satu padukuhan, sumur bor hanya mampu melayani sebagian kecil wilayah, sementara sisanya masih mengalami kesulitan air bersih.
Kondisi ini membuat warga harus mengandalkan pembelian air sejak akhir Maret. Bahkan, Supriyadi mengaku dirinya juga telah membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Situasi ini menjadi gambaran nyata tantangan krisis air yang masih dihadapi sejumlah wilayah di Gunungkidul setiap musim kemarau tiba.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








