Advertisement

Festival Iklim Jogja Libatkan Pelajar, Suarakan Krisis Lingkungan

Sunartono
Jum'at, 24 April 2026 - 18:27 WIB
Sunartono
Festival Iklim Jogja Libatkan Pelajar, Suarakan Krisis Lingkungan Festival iklim di Jogja libatkan pelajar suarakan aksi nyata, dorong kesadaran perubahan iklim sejak dini. - Istimewa.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Upaya mitigasi perubahan iklim di DIY kini makin menyasar pelajar melalui Festival Iklim bertajuk Bumi, Kita dan Masa Depan di Taman Pintar Yogyakarta, Jumat (25/4/2026). Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga ruang bagi siswa untuk menyuarakan gagasan dan aksi nyata terkait krisis lingkungan.

Festival yang melibatkan siswa SD hingga SMA ini dirancang agar anak-anak tidak sekadar menjadi peserta, melainkan penggerak kegiatan. Mereka memamerkan hasil ekspedisi iklim serta berbagai karya yang mencerminkan pemahaman tentang keadilan iklim.

Advertisement

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kusno Wibowo, menilai edukasi lingkungan harus dimulai sejak dini agar menjadi kebiasaan berkelanjutan di masa depan.

"Edukasi kepada anak-anak kita yang nanti menjadi generasi kita ke depan ini bagaimana untuk kita menjaga bumi kita ini untuk lebih baik. Sustainablenya kita jaga, baik dari sisi perubahan iklim, lingkungan, dan sebagainya. Ini kalau kemudian tidak dimulai dari sejak dini, ya tentunya nanti akan terlambat," ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi cuaca di Jogja yang semakin panas sebagai tanda nyata perubahan iklim. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan lembaga masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih terjaga.

Ketua Pengurus Yayasan Sheep Indonesia, Rina Wijaya, mengatakan festival ini menjadi sarana literasi iklim bagi pelajar sekaligus ruang bagi mereka menyampaikan pandangan.

"Anak-anak punya hak untuk tahu posisi mereka saat ini di mana. Kami memberi ruang kepada anak untuk bicara tentang perubahan iklim, dampak yang mereka rasakan, serta perubahan seperti apa yang mereka inginkan," katanya.

Menurut Rina, selama ini isu perubahan iklim lebih banyak didominasi kalangan dewasa. Melalui pendekatan kreatif di ruang publik, pelajar dari 12 sekolah dilibatkan untuk menyampaikan ide dan aksi kolektif kepada masyarakat luas.

Selain pameran karya, kegiatan juga mencakup praktik pengelolaan sampah hingga pemanfaatan ulang menjadi produk bernilai ekonomi. Pendekatan ini diharapkan memperkuat kesadaran sekaligus keterampilan siswa dalam menjaga lingkungan.

Waka Kesiswaan MTs Masithoh Gamping, Nur Faizah, menyebut kolaborasi dengan Yayasan Sheep membantu sekolah dalam pengelolaan sampah dan pengembangan kreativitas siswa.

“Kami dibantu dengan Sheep dalam memilah sampah. Produk dari sampah itu kemudian dijadikan produk lagi dan ada juga yang dijual,” ujarnya.

Ia menambahkan, literasi lingkungan juga diintegrasikan dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk jurnalistik, agar siswa lebih aktif memahami isu perubahan iklim.

Sementara itu, Kepala Balai Pendidikan Menengah Kota Jogja, Maryono, menilai pelibatan anak dalam kegiatan ini menjadi langkah penting untuk menumbuhkan kesadaran sejak dini.

"Yang paling saya apresiasi adalah sekarang mulai mengajak anak-anak. Selama ini yayasan mungkin belum melibatkan mereka, tapi tahun ini anak-anak kami diajak sehingga kesadaran itu bisa tumbuh sejak dini," katanya.

Melalui festival ini, diharapkan kesadaran, empati, dan keterlibatan masyarakat terhadap isu perubahan iklim semakin meningkat. Hasil literasi para pelajar juga direncanakan akan disuarakan melalui Dewan Anak hingga tingkat nasional dan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Lagi, Prajurit TNI Gugur di Lebanon, UNIFIL Sampaikan Duka

Lagi, Prajurit TNI Gugur di Lebanon, UNIFIL Sampaikan Duka

News
| Jum'at, 24 April 2026, 19:47 WIB

Advertisement

Libur Iduladha 2026 Bisa Jadi 6 Hari

Libur Iduladha 2026 Bisa Jadi 6 Hari

Wisata
| Jum'at, 24 April 2026, 12:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement