Pemkab Gunungkidul Siapkan Rp168,7 Miliar untuk Gaji PPPK 2026
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp168,7 miliar untuk gaji PPPK 2026. BKAD memastikan pembayaran aman untuk lebih dari 4.000 pegawai.
Foto ilustrasi akar wangi dibuat dengan artificial intelligence.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Upaya pencegahan longsor di Gunungkidul kini diarahkan melalui budidaya akar wangi yang dinilai efektif menahan erosi tanah sekaligus memberi nilai ekonomi bagi masyarakat. Program ini menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana di wilayah rawan longsor.
Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul menyatakan telah menjalin komunikasi dengan Bupati Gunungkidul terkait penguatan program tersebut, khususnya untuk mendorong penanaman akar wangi di zona rawan.
“Sudah ada komunikasi dengan Ibu Bupati [Endah Subekti Kuntariningsih] dan diminta agar budidaya akar wangi di zona rawan bisa digalakan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, Senin (27/4/2026).
Rismiyadi menjelaskan, tanaman akar wangi tidak hanya berfungsi sebagai penguat struktur tanah untuk mencegah longsor, tetapi juga memiliki nilai tambah ekonomi karena dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan.
Menurut dia, budidaya akar wangi tidak hanya untuk mencegah terjadinya longsor karena juga memiliki nilai ekonomi. Tanaman ini dimanfaatkan perajin di Kapanewon Semin untuk pembuatan souvenir maupun mainan anak berujud boneka atau lainnya.
Meski demikian, pengembangan program ini masih berada pada tahap perencanaan karena keterbatasan pasokan bibit untuk memenuhi kebutuhan di seluruh titik rawan longsor.
Meski demikian, Rismiyadi mengakui bahwa pengembangan masih sebatas perencanaan. Ia berdalih didalam pelaksanaan membutuhkan banyak bibit untuk ditanam di daerah-daerah yang rawan longsor.
“Kita indentifikasi untuk pasokan bibitnya agar bisa memenuhi kebutuhan. Yang jelas, tanaman akar wangi memiliki banyak manfaat, termasuk nilai ekonomi guna menambah penghasilan masyarakat,” katanya.
Di tingkat masyarakat, manfaat penanaman akar wangi mulai dirasakan. Dukuh Nganjir, Karangsari, Semin, Alif Riska, menyebut wilayahnya relatif aman dari longsor pada musim hujan tahun ini.
Dukuh Nganjir, Karangsari, Semin, Alif Riska mengatakan, musim hujan tahun ini wilayahnya terbebas dari peristiwa longsor. Bencana tersebut sebenarnya merupakan hal yang lumrah karena secara geografis terletak di area perbukitan.
Ia menilai, berkurangnya risiko longsor tidak lepas dari penanaman akar wangi di sejumlah titik rawan yang telah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir.
Menurut dia, ancaman longsor dapat dikurangi karena adanya program penanaman benih akar wangi di lokasi-lokasi rawan. Adapun hasilnya, tanaman yang dipergunakan sebagai bahan kerajinan tidak hanya tumbuh subur, tapi juga mengurangi ancaman dari Risiko bencana alam.
“Sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Hingga sekarang masih terus dikembangkan di lokasi-lokasi rawan,” kata Alif.
Selain penanaman, warga juga melakukan perawatan rutin agar tanaman tetap tumbuh optimal dan mampu berfungsi sebagai pengikat tanah.
Ditambahkannya, proses penanggulangan bencana dengan tanaman akar wangi ini tidak hanya sekadar menanam. Pasalnya, juga ada upaya pemeliharaan rutin dari warga dan anggota karang taruna di lingkungan sekitar.
“Jumlah yang ditanam sudah ribuan dan bisa tumbuh dengan subur. Tujuan utama ditanam untuk jadi fungsi pengikat tanah agar tidak terjadi longsor,” katanya.
Pendiri Komunitas Resan Gunungkidul, Edi Padmo, menilai akar wangi memiliki potensi besar sebagai solusi berbasis alam untuk mengatasi longsor sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pendiri Komunitas Resan Gunungkidul, Edi Padmo mengatakan, tanaman akar wangi memiliki banyak manfaat. Keberadaan tanaman ini tidak hanya untuk bahan kerajinan tangan, tapi juga mampu sebagai benteng alam untuk menanggulangi terjadinya longsor di lokasi rawan.
“Akar wangi kiranya sangat potensial untuk menjadi solusi. Jenis tanaman rumput ini, jika dikembangkan dan dikelola dengan baik, mempunyai peran ganda, fungsi lingkungan dan ekonomi,” katanya.
Ia menambahkan, seluruh bagian tanaman akar wangi dapat dimanfaatkan, mulai dari daun hingga akar yang memiliki berbagai fungsi ekologis dan ekonomi.
Menurut dia, akar wangi memiliki banyak fungsi. Untuk daun bisa menjadi sarana penyerapan karbon, pengusir hama tanaman hingga atap rumah. Adapun fungsi akarnya untuk pencegah longsor dan banjir, memperbaiki kualitas air hingga proses penyuburan tanah.
“Selain itu juga bisa jadi bahan kerajinan dan saat diolah bisa menjadi penghasil minyak atsiri,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp168,7 miliar untuk gaji PPPK 2026. BKAD memastikan pembayaran aman untuk lebih dari 4.000 pegawai.
KSP Dudung Abdurachman tegaskan kritik diperbolehkan dalam demokrasi, namun jangan berubah jadi provokasi yang merusak persatuan bangsa.
Indonesia Insurance Summit 2026 digelar di Jogja, bahas AI, risiko global, hingga penguatan industri asuransi nasional.
Demo mahasiswa di Thamrin Jakarta belum bubar hingga malam. Polisi blokade Bundaran HI demi cegah kemacetan dan gangguan.
Hyundai siapkan 1.500 kendaraan dan robot canggih untuk Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko.
Kejagung tetapkan Komisaris PT YAT sebagai tersangka korupsi MBG. Dugaan mark up pengadaan motor listrik Rp1,035 triliun.