Buntut Komentar Perawat Nirempati, RSA UGM Perketat Etika Medsos
Buntut komentar nirempati perawat di media sosial, RSA UGM menggencarkan sosialisasi kode etik dan menonaktifkan perawat berinisial DPA.
Suasana Pasar Hewan Ambarketawang pada Selasa (5/5/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN — Penjualan sapi menjelang Iduladha di Pasar Hewan Ambarketawang menunjukkan tren lesu pada awal Mei 2026. Sejumlah pedagang mengaku omzet turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, meski momen kurban biasanya menjadi puncak penjualan ternak.
Pedagang sapi asal Prambanan, Sajiyo, mengungkapkan kondisi pasar yang jauh dari harapan. Ia membawa tujuh ekor sapi jenis limosin ke pasar, namun hingga siang hari belum satu pun terjual.
“Sepi sekali, belum ada yang laku hari ini,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Harga Naik, Pembeli Justru Menurun
Sajiyo menyebut harga sapi tahun ini justru mengalami kenaikan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta dibanding tahun sebelumnya. Untuk sapi dengan bobot sekitar lima kuintal, ia mematok harga Rp27,5 juta per ekor.
Kenaikan harga ini diduga menjadi salah satu faktor yang menahan minat beli masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, banyak calon pembeli memilih menunda atau mengurangi pembelian hewan kurban.
Kontras: Stok di Desa Menipis
Fenomena unik justru terjadi di tingkat peternak. Pedagang lain, Marwanto, menyebut stok sapi di desa-desa cenderung menipis, namun kondisi tersebut tidak sejalan dengan permintaan di pasar.
“Di desa malah kekurangan sapi, tapi di pedagang peminatnya turun,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, kurang dari sebulan menjelang Iduladha, penjualan bisa mencapai puluhan ekor. Namun saat ini, angka penjualan masih jauh dari target.
“Biasanya bisa habis 30 ekor, sekarang baru sekitar 10 yang terjual,” tambahnya.
Faktor Ekonomi Jadi Sorotan
Para pedagang menduga melemahnya daya beli masyarakat menjadi penyebab utama lesunya pasar hewan kurban. Selain harga sapi yang meningkat, kebutuhan hidup yang semakin tinggi membuat sebagian masyarakat lebih selektif dalam berkurban.
Pengamat ekonomi lokal menilai tren ini juga dipengaruhi perubahan pola konsumsi masyarakat, termasuk kecenderungan berkurban secara kolektif atau memilih hewan dengan harga lebih terjangkau.
Harapan Jelang Puncak Penjualan
Meski kondisi saat ini masih sepi, para pedagang tetap optimistis penjualan akan meningkat dalam dua pekan terakhir menjelang Iduladha—periode yang selama ini menjadi puncak transaksi.
Lonjakan permintaan biasanya dipicu oleh pembelian mendadak dari masyarakat maupun instansi yang baru merealisasikan anggaran kurban.
Namun, jika tren lesu ini berlanjut, pedagang berpotensi mengalami tekanan pendapatan yang cukup besar, terutama bagi mereka yang sudah mengeluarkan modal tinggi untuk pengadaan ternak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Buntut komentar nirempati perawat di media sosial, RSA UGM menggencarkan sosialisasi kode etik dan menonaktifkan perawat berinisial DPA.
Kulonprogo mendorong penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet. Jalan ditargetkan masuk anggaran 2027, jembatan masih dikaji.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dari Yogyakarta ke Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN meminta makanan MBG yang tidak layak tidak dikonsumsi dan segera dikembalikan ke SPPG untuk diperiksa dan diinvestigasi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN membuka kanal khusus bagi guru untuk melaporkan keluhan, temuan, dan pengaduan terkait pelaksanaan Program MBG di sekolah.