Partai Gerindra Salurkan Air Bersih untuk Warga Imogiri, Bantul
Enam tangki air bersih disalurkan Gerindra untuk warga Karangtengah, Imogiri, Bantul, yang kembali menghadapi krisis air saat musim kemarau.
Foto ilustrasi pernikahan. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL— Tren pernikahan di Kabupaten Bantul menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Selain faktor ekonomi, pendidikan, dan karier, perubahan cara pandang anak muda terhadap kehidupan rumah tangga yang terbentuk melalui media sosial turut membuat sebagian calon pengantin memilih menunda pernikahan.
Penghulu KUA Banguntapan Bantul, Abdurrahman Faqih, mengatakan penurunan tersebut terlihat dari jumlah pernikahan yang tercatat di wilayahnya. Sepanjang 2025, KUA Banguntapan mencatat sebanyak 752 pasangan menikah, sedangkan hingga awal September 2026 jumlahnya baru mencapai 461 pasangan.
"Kalau di KUA Banguntapan itu bisa dibilang sementara turun karena menurut data tahun lalu sampai Desember, itu ada tujuh ratus lima puluh dua pasang yang menikah di KUA Banguntapan. Nah, sekarang udah sampai September, baru di angka empat ratus enam puluh satu sampai minggu ini, sampai besok Ahad. Sehingga bisa dibilang menurun dibandingkan di tahun-tahun sebelumnya," kata Faqih, Rabu (9/9).
Penurunan jumlah pasangan yang menikah juga terlihat pada periode yang biasanya menjadi salah satu waktu favorit masyarakat untuk melangsungkan pernikahan. Faqih menyebut pada tahun sebelumnya, jumlah pernikahan di KUA Banguntapan pada bulan Dzulhijah bahkan dapat mencapai lebih dari 100 pasangan.
Namun, pada tahun ini jumlah pernikahan pada periode tersebut masih berada di bawah angka 100 pasangan. Kondisi itu menjadi salah satu gambaran bahwa keputusan untuk menikah semakin banyak dipertimbangkan oleh generasi muda.
Standar Rumah Tangga di Media Sosial
Menurut Faqih, salah satu perubahan yang cukup terasa adalah kecenderungan anak muda untuk menunda pernikahan. Media sosial dinilai ikut memengaruhi cara mereka melihat kehidupan setelah menikah.
Berbagai platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube membuat calon pengantin mudah menemukan konten mengenai kehidupan pasangan. Konten tersebut tidak selalu menggambarkan kehidupan rumah tangga secara ideal, tetapi juga memperlihatkan perceraian, konflik keluarga, hingga berbagai persoalan pasangan.
Paparan konten semacam itu kemudian dapat membentuk standar tertentu di kalangan anak muda mengenai seperti apa kehidupan rumah tangga yang dianggap ideal.
"Sehingga standar mereka standar TikTok apalagi kalau kita melihat standar media sosial, Instagram, TikTok, Facebook, YouTube dan lainnya," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk menikah. Mereka tidak hanya mempertimbangkan kesiapan untuk membangun keluarga, tetapi juga membandingkan kehidupan yang mereka lihat di media sosial dengan gambaran rumah tangga yang akan dijalani.
Pernikahan Bantul Turun Sejak 2023
Penghulu KUA Pandak, Alfandi Ilham Syafarsah, mengatakan penurunan jumlah pernikahan juga terjadi secara umum di Bantul. Berdasarkan informasi statistik Bimas Islam yang dapat diakses melalui LURIK, tren pernikahan di Bantul sejak 2023 hingga 2026 memang menunjukkan penurunan.
Meski demikian, penurunan tersebut belum sampai berada pada tingkat yang drastis. Tren tersebut lebih menunjukkan adanya perubahan dalam keputusan dan prioritas generasi muda ketika menentukan waktu untuk menikah.
Alfandi melihat sebagian anak muda kini lebih memilih mengejar pendidikan maupun karier sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Mereka khawatir pernikahan akan menghambat pencapaian yang sedang dibangun.
Perubahan prioritas tersebut membuat pernikahan bukan lagi menjadi keputusan yang harus segera diambil ketika seseorang telah memasuki usia menikah. Kesiapan pendidikan, pekerjaan, karier, dan kondisi finansial menjadi bagian dari pertimbangan sebelum membangun rumah tangga.
KDRT hingga Perselingkuhan Picu Kekhawatiran
Selain memperlihatkan gambaran kehidupan rumah tangga, media sosial juga membuat berbagai persoalan dalam hubungan pasangan lebih mudah diketahui masyarakat. Informasi mengenai kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT, perselingkuhan, hingga konflik pasangan dapat tersebar dengan cepat.
Menurut Alfandi, derasnya informasi mengenai persoalan rumah tangga tersebut dapat memengaruhi cara pandang anak muda terhadap pernikahan. Sebagian bahkan dapat mengalami ketakutan berlebihan ketika membayangkan kehidupan setelah menikah.
"Sehingga banyak berita-berita mengenai mungkin semisal KDRT, kemudian perselingkuhan, ya, dan sebagainya, yang itu kemudian menyebabkan ketakutan berlebihan dari kaum muda untuk kemudian menghadapi pernikahan," kata Alfandi.
Dengan demikian, media sosial menjadi salah satu faktor yang turut membentuk persepsi generasi muda terhadap pernikahan. Di satu sisi, informasi tersebut dapat membuat calon pengantin lebih waspada terhadap berbagai persoalan rumah tangga. Namun, paparan informasi yang terus-menerus mengenai konflik juga dapat membuat pernikahan dipandang sebagai sesuatu yang penuh risiko.
Faktor Ekonomi Masih Jadi Pertimbangan
Di luar pengaruh media sosial, faktor ekonomi tetap menjadi salah satu alasan anak muda menunda pernikahan. Kondisi ekonomi dalam beberapa tahun terakhir membuat sebagian calon pengantin memilih menunggu hingga memiliki kesiapan finansial yang dinilai cukup.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa penundaan pernikahan tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Pendidikan, pekerjaan, karier, kondisi ekonomi, serta cara pandang yang terbentuk dari informasi di media sosial dapat saling memengaruhi keputusan anak muda.
Alfandi mengatakan usia calon pengantin di wilayahnya masih didominasi mereka yang berusia di atas 21 tahun. Kondisi itu menunjukkan bahwa sebagian besar pasangan yang menikah memilih memasuki rumah tangga setelah melewati batas minimal usia perkawinan.
Aturan menetapkan batas minimal usia menikah 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan. Namun, dalam praktiknya, usia calon pengantin di atas 21 tahun masih menjadi kelompok yang dominan.
Tren penurunan pernikahan di Bantul sejak 2023 hingga 2026 pun menjadi gambaran bahwa generasi muda semakin mempertimbangkan banyak aspek sebelum mengambil keputusan untuk menikah. Media sosial menjadi salah satu ruang yang ikut membentuk pertimbangan tersebut, terutama melalui berbagai gambaran mengenai kehidupan rumah tangga yang setiap hari mereka konsumsi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Enam tangki air bersih disalurkan Gerindra untuk warga Karangtengah, Imogiri, Bantul, yang kembali menghadapi krisis air saat musim kemarau.
Jogja mendung beberapa hari terakhir bukan tanda kemarau berakhir. BMKG memprediksi hujan masih rendah hingga November 2026.
DPR mendesak BGN menangani serius korban keracunan MBG, termasuk memastikan perawatan hingga pulih dan menanggung biaya pengobatan.
Kepala Desa Kasegeran Saifuddin mengusulkan mantan kades menjadi Pj. kepala desa saat audiensi dengan pimpinan DPR RI.
Sekitar 52 hektare sawah Banaran, Kulonprogo, bera akibat krisis air. Petani kini menerapkan pola tanam padi bergilir sambil menunggu hujan.
Korban longsor salju di Gunung Mizhirgi, Rusia, bertambah menjadi 13 orang. Empat pendaki masih hilang dalam pencarian di Ngarai Bezengi.