Pasar Brosot Ambruk Sejak Juli, DPRD Minta Ada Solusi Sementara
Los Pasar Brosot Kulonprogo ambruk sejak 23 Juli 2026 dan belum ditangani. DPRD mendesak solusi sementara bagi pedagang terdampak.
Kekeringan - Ilustrasi StockCake
Harianjogja.com, KULONPROGO— Ancaman kemarau panjang yang dipengaruhi El Nino membuat petani di Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulonprogo menghadapi persoalan serius dalam mempertahankan pola tanam. Sekitar 20% dari total 264 hektare sawah di wilayah tersebut diperkirakan tidak dapat ditanami pada musim tanam (MT) palawija lalu karena keterbatasan sumber air.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Banaran, Sarwata, mengatakan lahan yang tidak ditanami tersebut mencapai sekitar 52 hektare. Kondisi itu terutama dialami petani yang tidak memiliki sumur bor mandiri sebagai sumber air alternatif ketika saluran irigasi tidak mengalir.
"Kalau tidak punya sumur bor mandiri, ya tidak ditanami (bera). Mau ambil air dari mana kalau saluran irigasi mati dan tidak ada sumber air," ujar Sarwata saat dikonfirmasi, Rabu (9/9/2026).
Persoalan pasokan air di wilayah hilir Kulonprogo tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya debit air akibat kemarau panjang. Sarwata menjelaskan, petani juga harus menyesuaikan diri dengan kebijakan pengairan berkala pada Saluran Irigasi Kalibawang dan Bendungan Sapon yang diterapkan berdasarkan Peraturan Bupati (Perbup).
Pengaturan tersebut dilakukan untuk memutus rantai daur hidup hama sekaligus menjaga siklus tanam selingan palawija seperti jagung, kedelai, dan melon. Kebijakan itu juga bertujuan menata distribusi pasokan air agar dapat dimanfaatkan secara merata oleh petani.
Namun, bagi petani yang tidak mempunyai sumber air mandiri, penutupan saluran irigasi secara berkala membuat pilihan untuk tetap menanam menjadi semakin terbatas. Lahan akhirnya dibiarkan bera ketika tidak ada sumber air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Pompa Air Hadapi Ancaman Intrusi Air Laut
Pemerintah sebenarnya telah menyalurkan bantuan tanggap darurat berupa mesin pompa air berukuran 6 inci ke sejumlah titik yang mengalami kekeringan. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan air pertanian di tengah keterbatasan debit saluran irigasi.
Akan tetapi, penggunaan pompa di kawasan hilir juga menghadapi persoalan lain. Sarwata menyebut tidak adanya dorongan debit air tawar dari saluran irigasi di sisi utara berpotensi membuat pompa menyedot air yang telah terpengaruh intrusi air laut dari kawasan pantai.
"Bantuan pompa 6 inci sudah ada untuk kantong kekeringan. Tapi kendalanya, karena tidak ada aliran air tawar dari utara, air yang tersedot justru air dari pantai yang sifatnya asin. Kalau cuma tersiram sedikit mungkin tidak masalah, tapi kalau kebanyakan tanaman bisa mati (koat)," jelasnya.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan pompa belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan air bagi petani. Pasokan air yang digunakan untuk pertanian tetap harus diperhatikan kualitasnya agar tidak justru menimbulkan dampak terhadap tanaman.
Petani Banaran Terapkan Pola Tanam Bergilir
Memasuki Musim Tanam I (MT I) padi yang dimulai sejak September, petani Banaran kini mengandalkan dua harapan, yakni pemulihan debit air Sungai Progo dan datangnya musim penghujan.
Keterbatasan debit air yang belum sepenuhnya pulih membuat petani tidak bisa menerapkan pola tanam secara serentak. Penanaman padi dilakukan secara bergilir dari wilayah utara menuju bagian selatan Banaran.
"Pola tanam sengaja dibuat bergiliran dari ujung utara bertahap sampai selatan, yang paling akhir mungkin baru tanam sekitar Oktober. Ini harus digilir supaya kebutuhan air tiap petak sawah cukup. Kalau dipaksakan tanam serentak bersamaan, pasokan airnya dipastikan tidak akan terpenuhi," kata Sarwata.
Pola tersebut diterapkan untuk membagi ketersediaan air agar setiap petak sawah tetap memperoleh pasokan sesuai kebutuhan. Dengan cara itu, petani berharap keterbatasan debit air tidak langsung berujung pada kegagalan pertanaman padi.
Saat ini, persiapan tanam padi MT I di wilayah utara Banaran mulai dilakukan. Namun, luas lahan yang sudah masuk tahap persiapan tanam masih di bawah 10% dari keseluruhan kawasan pertanian.
Petani masih menunggu perkembangan kondisi air sekaligus berharap hujan mulai turun. Penyesuaian jadwal tanam secara bergilir dan potensi datangnya musim penghujan menjadi harapan untuk menjaga pertanaman padi MT I dari risiko gagal panen akibat krisis air.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Los Pasar Brosot Kulonprogo ambruk sejak 23 Juli 2026 dan belum ditangani. DPRD mendesak solusi sementara bagi pedagang terdampak.
Jogja mendung beberapa hari terakhir bukan tanda kemarau berakhir. BMKG memprediksi hujan masih rendah hingga November 2026.
DPR mendesak BGN menangani serius korban keracunan MBG, termasuk memastikan perawatan hingga pulih dan menanggung biaya pengobatan.
Kepala Desa Kasegeran Saifuddin mengusulkan mantan kades menjadi Pj. kepala desa saat audiensi dengan pimpinan DPR RI.
Sekitar 52 hektare sawah Banaran, Kulonprogo, bera akibat krisis air. Petani kini menerapkan pola tanam padi bergilir sambil menunggu hujan.
Korban longsor salju di Gunung Mizhirgi, Rusia, bertambah menjadi 13 orang. Empat pendaki masih hilang dalam pencarian di Ngarai Bezengi.