Era Milenial Harus Tetap Beradab & Berakhlak

Pimpinan Sidang Senat Terbuka dan seluruh civitas akademika UII sedang menyimak pidato ilmiah yang disampaikan Rahmani Timorita, Senin (16/4/2018). - IST/Humas UII
17 April 2018 17:10 WIB Sunartono Sleman Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN--Di era perkembangan teknologi serba cepat atau milenial tak cukup hanya mengandalkan kemampuan berinovasi terhadap suatu produk tetapi juga harus beradab.

Mengingat selama ini banyak inovasi belum menjadikan masyarakat memiliki adab dan akhlak antarsesama manusia dan kepada Sang Pencipta. Hal itu diutarakan  Rahmani Timorita Yulianti dalam pidato ilmiah Sidang Terbuka Senat Milad ke-75 Universitas Islam Indonesia (UII), Senin (16/4/2018).

Rahmani Timorita Yulianti menyatakan indikator generasi milenial antara lain, lebih memilih ponsel dibandingkan televisi, lebih suka e-book ketimbang buku konvensional, menggeluti media sosial (medsos) serta berbagai aktivitas virtual lainnya. Kehidupan generasi milenial dipenuhi broadcast, informasi akun medsos, promosi online dan lain-lain.

"Proses pembelajaran pun terkena dampaknya. Zaman dahulu hanya bisa dilaksanakan di sekolah atau kampus pada jam tertentu, saat ini pelajar mahasiswa dapat belajar tanpa ruang dan waktu yang terbatas," ujarnya, Senin (16/4/2018).

Namun di sisi lain, pelajar dan mahasiswa rawan memiliki potensi karakter negatif, seperti kurang peka terhadap lingkungan sosial, pola hidup bebas, bersikap individualis, kurang realistis dan kurang bijak dalam menggunakan media.

Dosen FIAI UII ini menambahkan kampus tak terkecuali UII, harus dapat meningkatkam kualitas pembelajaran baik akademik maupun nonakademik sehingga output memiliki kemampuan seimbang antara akademik, sosial kemasyarakatan dan berakhlak mulia.

Apalagi saat ini ada tantangan terbaru seperti penyebaran berita bohong, penyebaran paham yang meresahkan masyarakat menjadi masalah sosial yang perlu serius dalam menangani. Selain itu batas umur pengguna aplikasi sulit dimonitor sehingga anak di bawah umur dengan mudah mengaksesnya.

"Akibatnya mental manusia di era milenial secara perlahan tetapi pasti akan mengalami perubahan," kata dia.

Oleh karena itu, mampu berinovasi dan mengikuti perkembangan teknologi saja tidak cukup untuk menghadapi era milenial, melainkan harus beradab. Peningkatan kualitas yang terus diupayakan itu sebaiknya diarahkan untuk membangun peradaban.

Ia mengatakan kunci yang harus pegang adalah dinamis dan inovatif, harus mampu menemukan produk baru yang memiliki perbedaan. Tetapi bukan hanya inovasi yang bermanfaat, karena selama ini masyarakat telah banyak menikmati dan menghasilkan inovasi tetapi belum menjadikan mereka memiliki adab dan akhlak kepada makhluk dan Sang Pencipta.

"Berpikir tentang manfaat baru apa yang akan diberikan dan berdzikir tentang apa yang telah diberikan, sehingga melahirkan sesuatu yang disebut sebagai inovasi yang beradab," ujarnya.
Dalam pidatonya berjudul Menguatkan Nilai Universal Islam dalam Membangun Peradaban di Era Milenial itu, Rahmani juga mengkritik aksi-aksi tidak terpuji yang dilakukan pemimpin dan pejabat. Banyak pejabat yang dinilai tak mampu menggunakan kekuasaan yang dimiliki untuk mewujudkan masyarakat madani.

"Justru yang terjadi adalah korupsi, saling serang antarpejabat dengan caci maki. Tak ada lagi kesamaan visi yang ada hanya orientasi perut, kursi dan birahi," katanya.

Rektor UII Nandang Sutrisno menambahkan pada aspek dakwah islamiyah di era milenial ini, peran UII perlu ditingkatkan karena tantangan yang berat. Ia sepakat UII harus mampu menghadirkan nilai dakwah yang berkeadaban, tidak represif tetapi memiliki kearifan, tidak radikal melainkan bijak dan hikmat serta mampu menjangkau semua lapisan masyarakat.

"Kearifan dakwah ini juga memiliki posisi strategis karena diarahkan upaya membangun peradaban yang saat ini mengalami disrupsi," ucapnya.

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia