Gotong Royong Inti Ajaran Ideologi Pancasila

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Kita Pancasila di Dusun Suren Sukoreno Sentolo Kulonprogo, Sabtu (11/8/2018). - Ist
13 Agustus 2018 09:17 WIB Abdul Hamied Razak Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-Masyarakat Kulonprogo membuktikan bisa mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Program bela beli produk Kulonprogo dan bedah rumah tidak layak huni menjadi salah satu perwujudan implementasi nilai-nilai Pancasila.

Menurut Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo implementasi nilai-nilai Pancasila di wilayah Kulonprogo dilakukan salah satunya melalui gerakan bela beli Kulonprogo. "Masyarakat diedukasi melakukan transaksi barang jasa yang sekiranya dapat diproduksi sendiri di lingkup Kulonprogo," katanya dalam Sarasehan Kita Pancasila di Dusun Suren Sukoreno Sentolo Kulonprogo, Sabtu (11/8/2018)

Dia menyontohkan salah satu produk air kemasan mineral merk Airku yang merupakan kepanjangan dari Air Kulonprogo. Airku, kata Hasto dibuat oleh perusahaan daerah air minum (PDAM) setempat.

"Dengan strategi ini, masyarakat Kulonprogo juga mengamalkan nilai-nilai kegotongroyongan Pancasila," katanya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Minggu (12/8/2017).

Selain Airku, praktek implementasi lainnya yang dilakukan adalah gerakan bedah rumah. Setiap hari Minggu, katanya, warga bergotong royong membangun rumah-rumah warga tidak mampu yang dinilai kurang layak huni. Sumber dana tidak dari APBD atau APBN melainkan zakat, infak, persembahan dari masyarakat.

Bupati mengatakan gerakan bela beli dan bedah rumah menjadi bukti masyarakat Kulonprogo masih memiliki semangat gotong royong yang sangat kuat. "Dalam kurun waktu empat tahun terakhir masyarakat Kulonprogo mampu merenovasi lebih dari 1.000 rumah," ujarnya.

Prof. Haryono mengapresiasi terobosan yang dilakukan Hasto dan kekompakan masyarakat Kulonprogo. Menurutnya, upaya implementasi dan idiologisasi nilai-nilai Pancasila idealnya harus berangkat dari problem nyata yang dihadapi masyarakat.

"Dengan begitu, masyarakat bisa mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila," katanya.

Sosiolog UMY Zully Qodir mengakui jika guru terbaik adalah masyarakat. Melalui kegotongroyongan masyarakat Kulonprogo, bangsa Indonesia mengetahui pengejawantahan nilai Pancasila.

"Jadi implementasinya tidak berhenti pada retorika semata seperti lazimnya kalangan pejabat, tetapi mewujud dalam tindakan nyata," kata Zully.

Kepala Pusat Studi Pancasila UGM Heri Santosa menyoroti perilaku konsumtif masyarakat khususnya generasi muda. Menurutnya, generasi muda saat ini kerap membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang tidak produktif dan cenderung menuruti hal-hal bersifat hedonis.

"Padahal praktik ber-Pancasila salah satunya adalah perilaku hidup hemat, gemar menabung dan kesederhanaan hidup," ujarnya.

Di sela-sela sarasehan tersebut dilakukan pengukungan Lembaga Kesejahteraan Sosial oleh masyarakat Sentolo, Nanggulan dan Kokap. Termasuk pemberian bantuan bedah rumah yang dilakukan di rumah Sadirin warga Dusun Wora Wari Sukoreno Sentolo dan rumah Ngadimin serta Layem, keduanya warga Dusun Bulak Tuksono Sentolo. Ketiganya masing-masing Rp10 juta dari PT Astra Tbk yang diterima oleh Kepada Dinas Sosial Kulonprogo Edi Purjanto.