Budayawan UGM : Sedekah Laut Bukan Syirik

Ilustrasi sedekah laut. - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
14 Oktober 2018 10:50 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Budayawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Heddy Shri Ahimsa Putra menilai sedekah laut termasuk salah satu tradisi dan budaya yang hidup di masyarakat. Tradisi tersebut seharusnya dijaga karena tidak ada yang salah dan tidak ditafsirkan sebagai kesyirikan.

Pernyataan itu merespons aksi persekusi perusakan properti acara sedekah laut oleh gerombolan bercadar di Pantai Baru, Poncosari, Srandakan, Bantul pada Jumat (12/10/2018) malam.

Sedekah laut, kata dia, sama saja dengan sedekah bumi dan bersih desa yang masih digelar di Jawa, khususnya DIY. Menurut dia, tradisi sedekah laut dalam pandangan Antropologi dan Kebudayaan merupakan sebuah upaya membangun relasi, upaya membangun komunikasi sebuah kelompok dengan pihak lain. "Pihak lain itu bisa supranatural. Tapi intinya upaya membangun komunikasi," kata, saat dihubungi, Sabtu (13/10/2018).

Namun tradisi tersebut menjadi berbeda jika ditafsirkan sebagai sesuai penyembahan, "Tradidi itu adalah proses komunikasi dengan dunia yang lain apa salahnya. Komunikasi tak harus diakitkan menyembah," kata dia.

Heddy menambahkan bagi orang yang bisa melihat dunia lain membutuhkan sarana komunikasi untuk membangun relasi. Tradisi sedekah laut adalah upaya membangun relasi dengan dunia lain yang ada di laut.

Ia mencontohkan dalam kehidupan nyata ketika seseorang diganggu preman, kemudian orang itu berusaha memberikan sesuatu kepada preman supaya tidak mengganggu. Menurutnya tidak ada persoalan. Sama halnya dengan sedekah laut sebuah tradisi membangun relasi dengan pihak lain, "Yang melarang di mata saya sok pintar dan sok tahu," ungkap Heddy.

Pelarangan tradisi sedekah laut ini dilakukan segerombolan orang bercadar di Pantai Baru, Poncosari, Srandakan. Warga yang sudah bersiap-siap menggelar sedekah laut pada Sabtu (13/10/2018) pagi. Namun Jumat (12/10) tengah malam sejumlah properti dirusak orang. Warga setempat yang sebagian besar nelayan pun akhirnya hanya menggelar pentas seni reog dan gagal melarung sesajen.