Jangan Sampai Punah, Wayang Topeng Pedalangan yang Cuma Ada Satu di Sleman, Direvitalisasi

Ilustrasi kesenian wayang topeng pedalangan. - Harian Jogja
28 Oktober 2018 17:20 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Guna menghidupkan kembali kesenian tradisional, Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman terus berupaya merevitalisasi seni-seni tradisi. Salah satunya yang kini direvitalisasi adalah kesenian wayang topeng pedalangan yang sampai sekarang hanya ada satu di Sleman.

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Aji Wulantara mengatakan upaya Pemkab Sleman tersebut tak akan bisa maksimal jika tidak didukung oleh peran serta masyarakat, terutama dari kalangan pelaku seni. Dia mengatakan di Sleman hanya ada satu daerah yang kini tetap mempertahankan kesenian tersebut. "Dari kajian kami, terakhir di 2014, hanya ada satu kesenian jenis wayang topeng pedalangan di Sleman, yaitu di Dusun Ngajeg, Desa Tirtomartani, Kalasan yang dikelola oleh Ki Sugeng Tjermahandoko dan Ki Suparno," ujar Aji pada Jumat (26/10/2018).

Dia mengatakan wayang topeng pedalangan pertama kali ada pada 1825 oleh Ki Tjermasono, putra dari Ki Setrosono yang bertempat tinggal di Dusun Ngepringan, Desa Sendangrejo, Minggir. "Wayang topeng pedalangan merupakan hasil kreasi para dalang pada saat itu yang bersumber dari wayang topeng ciptaan Sunan Kalijogo sebagai sarana dakwah agama Islam di Jawa. Sedangkan pedalangan itu sendiri sudah ada sejak Kerajaan Kalingga di Kediri dengan menggunakan media beber, sehingga dikenal dengan wayang beber," kata Aji.

Beberapa lakon yang dibawakan dalam wayang topeng pedalangan di antaranya Bancak Njala; Rabine Bancak; Rabine Sinom Berdapa; Rabine Jaka Semawung; Rabine Ragil Kuning; Ande-Ande Lumut; Ketek Ogleng; Timun Mas; dan Brambang Abang-Brambang Putih. Menurut Aji, cerita yang dibawakam terdapat pesan untuk kehidupan manusia agar jangan sampai melupakan siapa dirimya apabila mendapatkan derajat hidup yang tinggi.

"Pesan lainnya tidak boleh sewenang-wenang terhadap orang lain, sebenarnya masih banyak hikmah yang dipetik dari cerita-cerita wayang topeng," ucap Aji.

Menurut dia wayang topeng pedalamgan sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi seperti ekonomi, sosial dan politik. Menurutnya, kesenian tersebut mengikuti juga dinamika perkembangan zaman. Eksistensi dari adanya kesenian wayang topeng pedalangan bisa juga dengan melihat sejarah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sejak masa Sri Sultan HB VI sampai Sri Sultan HB IX.

Pemerhati Seni Budaya Sleman Purwadmadi mengatakan semua mata karya budaya harusnya terus dikembangkan secara kreatif dan adaptif, baik substansi bentuk sajian maupun isi pesan tiap objek kebudayaannya. "Agenda aksi lanjutan harus terbuka, sehingga memberi ruang partisipasi publik. Selain itu perlu peningkatan kapasitas para pelaku, penguatan kelembagaan dan pranata budayanya, serta pelengkapan sarana dan prasarana yg cukup, mencakup, dan memadai. Iklim kreatif harus diciptakan bersama," katanya, Minggu (21/10/2018).