Musim Hujan Tiba, Jogja Siaga Hadapi Bencana

Ilustrasi hujan. - JIBI/Harian Jogja
10 November 2018 00:50 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Masyarakat harus mengantisipasi dan meningkat kesiapsiagaan menghadapi bencana. Diperkirakan, bencana akan muncul seiring masuknya musim penghujan tahun ini.

Wakil Walikota Jogja Heroe Poerwadi mengatakan berdasarkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada November ini wilayah Jogja akan mengalami curah hujan cukup tinggi. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena tidak menutup kemungkinan memunculkan sejumlah bencana. Mulai banjir, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin.

“Apalagi, Indonesia terletak di zona cincin api Pasifik yang punya potensi bencana gempa bumi, bencana geologi dan tsunami. Kita tidak tahu kapan bencana muncul. Oleh karenanya, seluruh aparat hingga tingkat kampung wajib mempersiapkan diri,” katanya dalam Apel Siaga Bencana di Balaikota Jogja, Jumat (9/11/2018)

Heroe berharap, pekan pengurangan resiko bencana yang digelar BPBD semakin meneguhkan komitmen untuk membangun kesiapsiagaan resiko bencana. Dengan begitu, bilamana terjadi bencana maka masalah yang timbul bisa ditanggulangi dengan baik. Dalam menghadapi bencana, katanya, partisipasi masyarakat harus dilibatkan.

“Masyarakat harus tangguh bencana. Kita bisa memobilisasi seluruh sumbe daya manusia untuk meminimalisir korban bencana. Ini tergantung antisipasi yang dilakukan. Kalau diantisipasi dengan baik, maka jumlah korban bisa diminimalisir,” katanya.

Menurut Heroe, antisipasi perlu dilakukan dengan penyusunan good disaster management plans mulai dari pelatihan kesiapsiagaan bencana, melakukan simulasi bencana hingga kelengkapan sarana dan prasarana bencana. Oleh karenanya, dalam Apel Siaga Bencana tersebut Pemkot pun menginstruksikan kepada seluruh jajaran dan relawan agar mengecek seluruh peralatan dan perlengkapan pendukung penanggulangan bencana.

“Harus dipastikan peralatan berfungsi baik. Seluruh tim dan relawan harus dikondisikan dapat merespons adanya bencana dengan cepat. Masyarakat juga kami minta untuk mampu mengantisipasi bencana berdasarkan pemetaan bencana,” katanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jogja Hari Wahyudi mengatakan saat ini sudah terbentuk 100 Kampung Tangguh Bencana (KTB). Warga KTB selama ini dibekali dengan simulasi terkait ancaman kebencanaan. Simulasi bencana diberikan agar warga terbiasa dan tahu harus melakukan apa saat terjadi bencana.

“Satu KTB ada 30 orang warga yang menjadi relawan bencana. Mereka berfungsi juga sebagai guide atau P3K di masing-masing kampung. Masing-masing KTB punya peta potensi bencana. Nah, yntuk membiasakannya perlu diadakan simulasi secara rutin minimal setahun sekali,” ujarnya.

Fungsi KTB, katanya cukup penting untuk mempersiapkan masyarakat di wilayah. Mengingat mereka yang tahu dan dekat dalam menangani awal jiak terjadi bencana sehingga lebih cepat. “Jika tidak bisa ditangani KTB, maka akan dikoordinasikan dengan Pusdalop BPBD Jogja untuk penanganan lebih lanjut,” ujarnya.