Sosiolog UGM : Tindakan Korban Menabrak Terduga Pelaku Klithih Seyegan dengan Mobil hingga Tewas Tak Bisa Dibenarkan

Lokasi tewasnya terduga pelaku klithih di Seyegan, Sleman. - Ist
08 Desember 2018 09:50 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dua terduga pelaku klithih tewas seketika di Seyegan, sleman pada Jumat (7/12/2018) dini hari setelah ditabrak oleh korbannya sendiri yang mengendarai mobil. Tindakan menabrakan mobil tersebut, meskipun terhadap pelaku dinilai tidak bisa dibenarkan.

Sosiolog Kriminalitas dari Universitas Gajah Mada (UGM) Suprapto mengatakan tindakan pemilik mobil yang menabrakan mobilnya kepada sepeda motor pelaku penyerangan tidak dibenarkan melalui peraturan perundang-undangan apapun.

"Meskipun motif pemecahan kaca nya masih perlu diselidiki, namun membalas dengan cara menabrak, apalagi sampai meninggal dunia tidak dibenarkan. Kecuali jika saat itu dia sedang dalam keadaan diancam atau dihadang akan dilukai dengan senjata, seperti perampokan di kawasan yang sepi dan nyawanya terancam, maka hal itu masih bisa ditolerir," ucapnya kepada Harianjogja.com, Jumat petang.

Untuk pasal yang akan dikenakan, menurutnya, pihak kepolisian masih harus perlu menyelidiki peristiwa yang terjadi sebenarnya.

Ia menambahkan, hal yang meringankan pemilik mobil adalah bahwa pengendara atau terduga pelaku penyerangan tersebut keluar rumah sudah membawa alat untuk melakukan tindakan destruktif atau merusak dan tindakan korban yang menabrak bukan merupakan pembunuhan berencana, namun tindakan spontan yang mengakibatkan kematian.

"Jadi jika gunakan rumus kepolisian N [niat] + K [kesempatan] sama dengan K [kejahatan], maka dapat dirunut siapa yang menciptakan niat, dan siapa yang memberi kesempatan. Ucapan pelaku penyerangan yang mengancam akan membunuh juga telah membuat pemilik mobil tidak punya pilihan lain," ujarnya.

Seperti diberitakan Harianjogja.com sebelumnya, dua terduga pelaku kejahatan jalanan alias klithih berupa penyerangan mobil tewas di lokasi seusai ditabrak oleh korban.

Peristiwa ini terjadi di Jalan Seyegan Kebonagung, tepatnya di depan Puskesmas Seyegan, pada Jumat (7/12/2018) sekitar pukul 02.15 WIB. Sebelum ditabrak, pelaku sempat kejar-kejaran dengan korban.

Kapolsek Seyegan Kompol Masnoto mengatakan dua pelaku penyerang mobil yang tewas yaitu AR, warga Margoagung, Seyegan, Sleman dan RTP, warga Margodadi, Seyegan, Sleman.

"Dua orang tersebut mengendarai sepeda motor honda Scoopy," ucapnya pada Jumat.

Lebih lanjut, Kapolsek menjelaskan kejadian tersebut bermula saat korban Nur Irawan, 33, seorang penjual ayam, warga Mriyan Margomulyo Seyegan, yang saat kejadian sedang bersama istrinya, Etika Dwi Novisari, 29.

Korban mengemudikan mobil Mitsubishi Colt T 120s SS nomor polisi R 1913 VE, hendak berjalan ke arah timur ke daerah Ketingan, Mlati untuk memotong ayam.

Namun, dalam perjalanannya menuju Ketingan, tepatnya di pertigaan depan Kecamatan Mlati, mobil korban berpapasan dengan sepeda motor honda scoopy milik terduga pelaku penyerangan yang saat itu berboncengan.

Tiba-tiba salah satu dari mereka memukul kaca depan mobil milik korban dengan sebuah stik besi berwarna silver yang mengakibatkan kaca mobil pecah.

"Mengetahui hal tersebut, pengemudi mobil berbalik arah dan mengejar pengendara motor tersebut," ucap Kapolsek.

Ketika sampai di perempatan Seyegan, lanjut Kapolsek, salah satu dari dua penyerang mobil sempat melontarkan kata-kata mengancam akan membunuh "tak pateni koe" sembari mengacungkan stik tongkat warna silver.

Pengendara mobil terus mengejar hingga di depan Puskesmas Seyegan dan terjadi tabrakan yang mengakibatkan dua pengendara motor meninggal di lokasi.

"Akibat kerasnya benturan, mobil milik korban hingga terbalik," ujar Kapolsek.

Akibat kejadian tersebut, saat ini istri korban menderita luka-luka di wajah dan dirawat di RS At Taurots Klaci, Margoluwih, dan kedua pelaku penyerang mobil yang meninggal di lokasi langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara.