Otonomi Daerah DIY Didorong Berbasis Keadilan dan Kearifan Lokal
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Pengunjung sedang melihat timbangan masa lalu dalam Pameran Alat Ukur dan Timbangan Datjin, di Bentara Budaya, Rabu (3/7/2019). /Harian Jogja-Lugas Subarkah.
Harianjogja.com, JOGJA--Bentara Budaya Yogyakarta kembali mengedukasi masyarakat dengan pameran, yang kali ini menampilkan berbagai jenis alat ukur dan timbangan dari berbagai rentang waktu. Dengan mengangkat tema Datjin, pameran ini mengajak generasi saat ini untuk melihat dinamika alat ukur dan timbangan yang menjadi salah satu penggerak ekonomi di berbagai peradaban.
Pengelola Bentara Budaya, Yunanto, mengatakan alat ukur yang dipamerkan meliputi alat ukur panjang, berat, cair, dan alat ukur khusus seperti timbangan sapi, timbangan emas, takaran bensin dan lainnya. “Sekitar 30 benda yang dipajang di sini,” katanya, Rabu (3/7/2019).
Ia menyebutkan alat ukur tertua dalam pameran itu berupa timbangan yang digunakan untuk menimbang barang-barang di pelabuhan. Timbangan itu berusia sekitar satu abad, dan digunakan pada masa pendudukan Belanda. Ada pula timbangan surat yang cukup tua dan unik, yang mungkin saat ini sudah tidak bisa dijumpai di kantor pos.
Menurutnya, alat ukur saat ini sudah menggunakan sistem digital , sehingga tidak perlu lagi menggunakan pembanding untuk mengetahui berat suatu benda. Ia mencontohkan pada timbangan tradisional yang masih perlu memakai pembanding berat berupa logam.
“Sekarang lebih mudah dan valid. Kalau dulu mungkin masih ada selisih angkanya. Nah ini bagian dari perkembangan peradaban khususnya di sektor perniagaan, yang dulu merupakan keseharian orang banyak. Ini yang ingin kami hadirkan ke masyarakat,” katanya.
Kurator Pameran, Hermanu, mengatakan pada 1923, alat ukur dipengaruhi dengan datangnya timbangan buatan Eropa yang bentuk dan gunanya bermacam-macam. “Mulai dari timbangan kertas yang ukurannya 7 cm sampai timbangan jenis bascule yang dapat menimbang benda seberat 1 ton,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di Indonesia, timbangan sejak Hindu-Budha tertera dalam relief Candi Borobudur. Meski demikian, setiap daerah memiliki standar ukur yang berbeda, sehingga tak jarang menimbulkan perselisihan. Ia mencontohkan satu pikul di Jawa tidak sama dengan satu pikul di Sumatera.
Di pameran ini diperlihatkan pula sebuah gambar lembaran kertas papyrus Mesir Kuno yang menggambarkan sebuah timbangan pada peradaban Mesir Kuno. Bentuknya sederhana dan prinsipnya hampir sama dengan timbangan emas masa kini.
Ditampilkan pula gambar Dewi Keadilan atau Themis yang digambarkan seorang perempuan dengan mata tertutup membawa pedang di tangan kanan dan timbangan di tangan kiri. Ini menyimbolkan jika hukum seharusnya ditegakkan tanpa pandang bulu.
“Sebagian besar alat ukur ini masih berfungsi, namun beberapa ada yang sudah karatan karena terlampau lama tidak terpakai. Kami memamerkan benda-benda ini untuk mengapresiasi alat ukur yang telah berjasa mendatangkan keuntungan besar kepada negara dari ekspor bumi kita,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Otonomi daerah DIY diarahkan berbasis keadilan dan kearifan lokal untuk wujudkan pembangunan berdampak langsung bagi masyarakat.
Sapi kurban Presiden Prabowo asal Gunungkidul habiskan biaya pakan Rp80.000 per hari. Sapi simmental itu berbobot lebih dari 1 ton.
Prabowo menghadiri panen raya jagung nasional, groundbreaking gudang pangan Polri, dan peluncuran 166 SPPG pendukung MBG di Tuban.
BMKG memperingatkan potensi hujan ringan hingga sedang disertai angin kencang di sejumlah wilayah Sumatera Utara pada Minggu.
Prabowo menyebut Program MBG dapat memutar uang hingga Rp10,8 miliar per desa setiap tahun untuk menggerakkan ekonomi rakyat.
Disdik Sleman hanya mengakui enam lomba nasional untuk Jalur Prestasi Khusus SPMB 2026 jenjang SMP.