Dikukuhkan Guru Besar, Eks Ketua KY Usul Model Penyelesaian HAM Berat
Guru Besar UII Suparman Marzuki menawarkan transformasi berbasis memori untuk penyelesaian pelanggaran HAM berat di Indonesia.
Sejumlah karyawan mendapat penjelasan mengenai keaslian kain batik dengan menggunakan teknologi Batik Analyzer dalam kegiatan Nyanting Bersama di Jalan Sukonandi, Jogja, Jumat (4/10/2019). Teknologi ini memudahkan warga untuk menganalisa keaslian batik dengan standart SNI. Alat ini mampu mengalisa teknik pembuatan batik baik tulis maupun cap serta mampu membedakan batik dengan tekstil motif batik. /Harian Jogja-Desi Suryanto.
Harianjogja.com, JOGJA—Perkembangan teknologi di era 4.0 memaksa berbagai sektor tak terkecuali industri batik harus berinovasi dengan tidak menghilangkan tradisi. Hal itu dibahas dalam seminar Inovasi Teknologi Kerajinan dan Batik Menuju Revolusi Industri 4.0, Selasa (8/10/2019).
Kepala Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta Purwati Widowati mengatakan untuk mempertahankan industri kerajinan dan batik pada masa yang akan datang, generasi milenial perlu dirangkul sebagai konsumen potensial produk kerajinan batik. Akan tetapi pendekatan yang dipakai harus berbeda dengan generasi sebelumnya. Guna merespons tantangan dan dinamika tersebut, langkah kolaboratif perlu dilakukan dengan melibatkan pemerintahan, asosiasi dan pelaku industri, hingga akademisi.
“Kami ingin menyatukan berbagai gagasan dan pemikiran dari kalangan industri, pemerintahan, perguruan tinggi ataupun profesional dalam bidang kerajinan dan batik mengenai inovasi yang dapat dilakukan untuk memperkuat industri kerajinan dan batik khususnya dalam menyongsong revolusi industri 4.0,” terangnya dalam rilisnya, Selasa (8/10/2019)
Kepala Puslitbang Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronikia Kementerian Perindustrian Soni Sulaksono mengatakan teknologi yang berkembang pesat memberikan dampak ke semua sektor, tak terkecuali batik. Namun ia berharap tradisi batik bisa dijaga di sepanjang masa meski teknologi terus berubah. Apalagi Unesco telah menobatkan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia. Sehingga Indonesia memiliki keunggulan dalam warisan batik yang harus terus dipertahankan.
“Jangan sampai karena kemajuan teknologi kemudian tradisi [membatik] sampai hilang, inovasi diharapkan bisa menjaga batik dengan tidak menghilangkan nilainya budaya. Seperti melalui motif batik yang tersimpan banyak nilai,” katanya.
Ia mengatakan inovasi dalam hal batik harus mampu menjaga tradisi atau mengimbangi kemajuan zaman. Sehingga membatik harus lebih didekatkan generasi milenial agar inovasi yang dilakukan ke depannya bisa tetap sejalan dengan tradisi.
“Seperti nyanting butuh waktu lama, ini menjadi penting untuk didekatkan dengan generasi saat ini, yang mungkin mereka punya konsep baru. Sehingga lomba seperti kreasi batik itu perlu dilakukan dengan tetap ada canting dan malam, jadi tanpa menghilangkan definisi batik,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Guru Besar UII Suparman Marzuki menawarkan transformasi berbasis memori untuk penyelesaian pelanggaran HAM berat di Indonesia.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.
3 pelaku pembacokan pelajar di SMAN 3 Jogja ditangkap di Cilacap. Polisi masih memburu 3 pelaku lain terkait konflik geng.
Dua kakak beradik tewas dalam kecelakaan melibatkan dua truk di Ngawi. Polisi masih selidiki identitas kendaraan.
Polres Bantul perketat patroli malam untuk tekan klitih dan kejahatan jalanan. Orang tua diminta awasi anak sebelum jam 22.00 WIB.
Imigrasi Tangerang tangkap 19 WNA pelaku love scamming di apartemen Teluknaga, diduga sindikat internasional dari Kamboja.