Bus Sekolah Gunungkidul Kembali Normal, Ada Tambahan Rp270 Juta
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Ilustrasi dana atau anggaran./JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Sedikitnya 60 sekolah di Gunungkidul mendapatkan bantuan operasional sekolah (BOS) plus senilai Rp5,6 miliar. Rencananya bantuan ini digunakan untuk pengadaan alat pembelajaran berbasis informasi dan teknologi.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul, Bahron Rasyid, mengatakan untuk tahun ini Gunungkidul tak hanya mendapatkan BOS reguler yang berdasarkan jumlah siswa, tetapi juga mendapatkan BOS plus yang terdiri dari bantuan avirmasi dan berbasis kinerja. Total ada 60 sekolah yang mendapatkan bantuan ini. “Tidak semua sekolah mendapatkan, karena 60 sekolah yang terpilih berdasarkan penilaian dari Pusat,” kata Bahron kepada Harian Jogja, Senin (21/10/2019).
Menurut dia, BOS plus ini juga sebagai bagian dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Gunungkidul. Oleh karena itu, di dalam petunjuk teknis penggunaan anggaran dana ini digunakan untuk pengadaan sarana prasarana pembelajaran yang berbasis teknologi.
Bahron menjelaskan untuk BOS kinerja sudah ada alokasinya dan setiap sekolah mendapatkan anggaran Rp19 juta hingga Rp24 juta. Sedangkan untuk BOS avirmasi berdasarkan pada jumlah siswa di kelas akhir. Nantinya, jumlah siswa dikalikan Rp2 juta sehingga yang diterima di setiap sekolah tidak sama. “Kalau ditotal ada tambahan BOS senilai Rp5,6 miliar,” kata mantan Kepala Bidang Pendidikan Menengah ini.
Sesuai dengan petunjuk teknis dari Pemerintah Pusat, rencananya bantuan dari BOS avirmasi akan digunakan sekolah untuk membeli komputer, LCD dan pengadaan server, sedangkan untuk BOS kinerja akan digunakan untuk pengadaan tablet di sekolah. “Masih dalam proses dan untuk pengadaan mengacu pada aplikasi Sistem Informasi Pengadaan Sarana Sekolah. Mudah-mudahan sebelum akhir tahun seluruh pengadaan selesai dilaksanakan,” katanya.
Kepala Bidang SD Disdikpora Gunungkidul, Sumarto, mengatakan untuk program pembelajaran berbasis teknologi, Pemkab sudah bekerja sama dengan Google. Kerja sama ini dikenal dengan program Gunungkidul Cerdas. Di dalam program ini pembelajaran memanfaatkan teknologi komputerisasi sehingga pelaksanaan tidak harus bertatap muka secara langsung. “Para siswa dan guru akan memiliki akun yang dimanfaatkan untuk pembelajaran bersama,” katanya.
Menurut dia, program ini memiliki banyak keunggulan karena guru yang dihadirkan tidak hanya dari satu sekolah saja. “Guru di sekolah lain juga bisa ikut mengajar melalui teleconference,” katanya. Metode pembelajaran berbasis teknologi ini sudah banyak diterapkan di sekolah swasta dengan biaya mencapai Rp5juta hingga Rp16 juta per bulan. “Namun untuk di Gunungkidul layanan akan diberikan secara gratis. Di awal kerja sama dilaksanakan di tiga sekolah dan ke depannya jaringan akan diperluas,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Tahap 6 dibuka hingga 14 Oktober. Simak jadwal seleksi, pengumuman, dan pelatihannya.
Pemuda Mojosongo Solo YD diduga ditangkap Densus 88. Keluarga mempertanyakan perkara dan meminta penjelasan terkait proses hukum.
APBN 2027 memang memangkas subsidi energi Rp11,44 triliun. Namun, klaim gas langka dan harga pasti naik belum terbukti.
Disertasi Jejen Hendar di UII menyoroti pengelolaan TJSP yang masih formalitas dan mendorong regulasi berbasis keadilan sosial.
Menag Nasaruddin Umar mengajak ASN Kemenag, guru, tokoh agama, dan santri menjadi agen Perlinsos untuk membantu pendataan penerima bansos.